Nomor rumah Mirah benar-benar tertutup daun.
Sukma turun dari kendaraan di depan pagar abu-abu, lalu membandingkan lokasi pada ponsel dengan pot pecah yang diletakkan di sudut. Di dalam pot itu tumbuh tanaman setinggi betis yang masih berusaha hidup meski tanahnya tampak terlalu sedikit.
Ia baru mengangkat tangan ketika pagar terbuka.
“Sudah lama?” tanya Mirah.
“Baru sampai.”
“Masuk. Maaf rumahnya berantakan.”
Sukma mengikuti Mirah melewati teras sempit. Dua helm diletakkan di atas kursi plastik. Jas hujan menetes ke ember yang rupanya sengaja ditempatkan di bawahnya. Dari dalam rumah tercium bawang goreng dan minyak kayu putih.
Hilman sedang memindahkan kantong obat dari meja makan ketika mereka masuk.
“Ini Sukma,” kata Mirah. “Teman kantor yang pernah kuceritakan.”
Hilman mengangguk. “Malam, Mbak. Maaf saya masih bereskan barang.”
“Nggak apa-apa. Saya malah datang malam-malam.”
“Gelas ada di rak sebelah dispenser kalau mau minum. Mirah kalau masuk dapur biasanya lupa tamunya belum dikasih apa-apa.”
“Aku dengar,” kata Mirah.
“Memang sengaja.”
Hilman membawa obat ke kamar depan. Tidak ada pertanyaan tentang alasan kedatangan Sukma. Ia hanya menutup pintu setengah agar suara televisi dari dalam tidak terlalu keras.
Sukma melihat sekeliling. Ada pakaian yang belum dilipat di ujung sofa, tiga cangkir di meja, dan sebuah kardus terbuka berisi botol minyak serta beberapa bungkus makanan. Satu sandal rumah tergeletak di dekat dapur tanpa pasangannya.
Tempat itu tidak sedang menunggunya dalam keadaan rapi. Mirah dan Hilman hanya menyediakan ruang di tengah kehidupan yang belum selesai.
“Obat ibunya Hilman?” tanya Sukma.
“Iya. Besok kami antar. Tadi obat yang biasa habis di apotek dekat rumah, jadi muter.” Mirah mengambil tas Sukma. “Taruh sini saja.”
“Aku pegang.”
“Ya sudah. Pegang kalau itu membuatmu bahagia.”
Sukma tersenyum kecil dan meletakkan tas sendiri di dekat sofa.
Ponselnya bergetar di dalam tas. Pesan dari Yati: Sudah sampai?
Sukma menjawab sudah. Beberapa detik kemudian ibunya mengirim foto stiker daun yang diletakkan Ihsan di atas meja Sukma. Di sampingnya ada segelas air tertutup tatakan kecil.
Ibu taruh air buat kamu kalau pulang nanti.
Sukma menatap foto itu. Ibunya tidak bertanya apa yang sedang ia ceritakan kepada Mirah. Tidak meminta Sukma segera pulang. Perhatian Yati sering hadir dalam bentuk yang tidak menyentuh persoalan utama, tetapi air di meja tetaplah air yang disiapkan untuknya.
Terima kasih, Bu. Aku kabari sebelum pulang.
Ia memasukkan ponsel kembali ke tas.
Di dapur, wastafel berisi piring dan satu panci. Mirah membuka tutup penanak nasi, lalu memeriksa isi lemari.
“Ada ayam kecap sisa siang, tumis sawi, sama telur. Kamu mau yang mana?”
“Nggak usah repot. Aku sudah makan.”
Mirah menoleh.
Sukma teringat pesan yang dikirimnya satu jam lalu: Belum. Ia menutup mata sebentar.
“Maksudku, tadi makan gorengan.”
“Itu bukan makan malam.”
“Iya.” Sukma menarik napas. “Aku belum makan.”
“Bagus.”
Sukma mengernyit.
“Bagus kamu mengaku, bukan bagus kamu belum makan.” Mirah mengambil satu piring dari rak. “Nasinya masih cukup.”
“Aku bantu panaskan lauk.”
“Duduk saja.”
“Aku bisa cuci piring dulu.”
“Piringnya nggak akan kabur.”
“Sedikit, kok.”