Sukma menatap permukaan teh sebelum menjawab.
“Dengarkan aku dulu.”
Mirah mengangguk. “Oke.”
“Aku nggak tahu mau mulai dari mana.”
“Mulai dari bagian yang paling ingin kamu keluarkan.”
Sukma hampir meminta petunjuk yang lebih jelas. Ia terbiasa menyusun sesuatu berdasarkan urutan: tanggal, jumlah, orang yang bertanggung jawab. Perasaannya tidak datang dalam bentuk yang bisa diberi nomor.
“Aku mungkin diam lama,” katanya.
“Diam juga boleh.”
“Dan jangan langsung bilang aku harus melakukan apa.”
Mirah mengangguk. “Aku dengarkan dulu.”
Sukma menunggu, seolah perlu memastikan Mirah benar-benar tidak akan mengisi jeda. Dari dapur terdengar keran dibuka. Hilman mulai mencuci piring tanpa memanggil istrinya atau bertanya di mana spons disimpan. Pekerjaan kecil itu berjalan tanpa Mirah meninggalkan percakapan mereka.
Sukma baru menyadari dirinya memperhatikan hal tersebut karena di rumah, bunyi piring sering menjadi tanda bahwa seseorang akan memanggil namanya.
“Aku capek,” katanya.
Mirah tetap diam.
“Bukan cuma karena cari rumah. Rasanya semua orang punya alasan kenapa mereka belum bisa. Darma penghasilannya nggak tetap. Ibu takut tinggal jauh. Herman punya jadwal kerja. Ihsan masih kecil. Semua alasannya masuk akal.”
“Lalu alasanmu?”
Sukma mengangkat kepala.
“Aku juga kerja. Aku juga takut. Tapi kalau aku bilang itu, tetap saja ada yang harus menyelesaikan.”
Mirah mengangguk sekali.
Sukma menceritakan rumah besar yang ditolaknya, uang yang diberi nama, dan pertanyaan Darma tentang keberatannya yang dianggap baru muncul. Kata-katanya beberapa kali berhenti. Mirah menunggu tanpa mengisi jeda.
Lima menit pertama terasa seperti ruang yang diminta Sukma.
Kemudian Mirah berkata, “Kalau begitu kamu harus berhenti membiayai orang dewasa.”
Sukma merasa bahunya menegang.
“Tidak sesederhana itu.”
“Memang nggak sederhana. Tapi selama kamu terus menutup semuanya, mereka nggak akan belajar.”
“Ibuku bukan orang yang cuma duduk minta uang. Dia masak, jemput Ihsan, urus rumah.”
“Aku nggak bilang ibumu tidak melakukan apa-apa.”
“Darma juga kerja. Penghasilannya memang nggak pasti.”
“Tapi kamu bilang dia menggunakan uang rumah untuk hal lain.”
“Sebagian buat memperbaiki motor kerja.”
“Sebagian lagi buat ulang tahun teman.”
Sukma menatap Mirah. Semua yang diceritakannya kini kembali sebagai daftar bukti bahwa keluarganya salah dan ia hanya perlu berhenti membantu.
“Aku datang bukan supaya kamu memutuskan siapa yang harus kutinggalkan.”
Mirah terdiam.
Sukma meraih tas di dekat kakinya. “Sudah malam. Aku sebaiknya pulang.”
“Karena aku salah ngomong?”
“Aku cuma nggak mau membela keluargaku di sini juga.”
Ia memasukkan ponsel ke tas meskipun benda itu sudah berada di sana. Tangannya memeriksa ritsleting dua kali.
Mirah tidak menahan lengannya atau berdiri menutup jalan. Ia tetap duduk.