Kesalahan itu hanya berbeda satu angka.
Sukma menyadarinya ketika bagian gudang menelepon untuk menanyakan mengapa jumlah pesanan dalam rekap lebih banyak daripada dokumen penjualan.
“Yang mana?” tanyanya.
Rekan gudang menyebut nomor pesanan.
Sukma membuka berkas yang dikirimnya pagi tadi. Pada baris ketujuh, jumlah barang tertulis seratus dua puluh. Dokumen sumber menunjukkan dua belas.
Darah terasa turun dari wajahnya.
“Jangan diproses dulu,” katanya. “Aku periksa seluruh rekap dan kirim perbaikan.”
“Belum diproses. Makanya saya tanya.”
“Baik. Terima kasih sudah cek.”
Telepon berakhir.
Sukma memperbesar tabel dan melihat jejak kesalahannya. Ketika menyalin angka, jarinya menekan nol dua kali. Pemeriksaan akhir seharusnya menangkap itu, tetapi pagi tadi ia memeriksa baris demi baris sambil memikirkan jawaban yang tidak sempat diberikannya kepada Mirah.
Apa yang ia mau dahulu?
Pertanyaan itu terus kembali, bahkan ketika Sukma mencoba bekerja.
Ia menarik dokumen sumber ke layar sebelah dan memeriksa seluruh jumlah lagi. Hanya satu baris yang salah. Namun rekap sudah terkirim kepada bagian gudang dan penjualan. Jika ia diam-diam mengganti berkas tanpa penjelasan, orang lain mungkin tetap memakai versi lama.
Sukma berdiri.
Mirah yang duduk di meja sebelah menoleh. “Kenapa?”
“Aku salah kirim jumlah pesanan.”
“Sudah diproses?”
“Belum. Gudang yang menemukan.”
“Perlu kubantu cek?”
“Nanti. Aku lapor dulu.”
Atasan mereka sedang berbicara dengan seorang staf ketika Sukma datang. Ia menunggu di dekat pintu sampai percakapan selesai.
“Ada apa?”
“Saya salah memasukkan jumlah pada rekap pagi. Tertulis seratus dua puluh, seharusnya dua belas. Gudang belum memproses dan sudah menahan pesanan. Saya sedang periksa semua baris, lalu akan kirim revisi ke penerima yang sama dengan penjelasan versi.”
Atasannya mengerutkan kening. “Dokumen sumbernya benar?”
“Benar. Kesalahan saat saya salin.”
“Pesanan lain sudah diperiksa?”
“Sedang. Saya minta waktu tiga puluh menit untuk verifikasi ulang.”
“Baik. Jangan hanya ganti lampirannya. Tulis jelas versi lama tidak digunakan.”
“Iya.”
Tidak ada suara tinggi atau ancaman. Justru ketenangan itu membuat tanggung jawab Sukma terasa lebih utuh. Ia kembali ke meja dan meminta Mirah memeriksa dokumen sumber setelah dirinya selesai.
“Aku cek jumlah saja atau semuanya?” tanya Mirah.
“Jumlah dan nomor barang. Aku cek harga sama nama pelanggan.”
Mirah mengangguk. “Kirim berkas sumbernya.”
Sukma hampir berkata lebih cepat jika ia memeriksa semuanya sendiri. Ia menahan kalimat itu dan mengirimkan berkas.
Mirah menggunakan warna kuning untuk menandai baris yang sudah diperiksa. Sukma biasanya memakai tanda centang di kolom tambahan agar dokumen tetap bersih. Melihat seluruh tabel berubah kuning membuatnya ingin meminta Mirah mengganti cara.
Namun metode itu tetap menunjukkan pekerjaan yang sudah selesai.
Sukma membiarkannya.
Mereka menemukan satu perbedaan ejaan pada nama barang, tetapi tidak ada kesalahan jumlah lain. Sukma memperbaiki rekap, memberi nama berkas baru dengan nomor versi, lalu mengirim surat elektronik kepada seluruh penerima. Ia menyatakan baris yang salah, meminta versi sebelumnya diabaikan, dan mencantumkan bahwa gudang belum memproses pesanan.
Setelah itu ia menelepon gudang untuk memastikan revisi diterima.
“Sudah, Bu,” kata petugas di seberang. “Yang lama saya pindahkan dari folder kerja.”