Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #16

Bab 16 — Jangan Dibantu Dulu

Darma menyerahkan ponselnya kepada Sukma sebelum ia sempat meletakkan tas kerja.

“Tolong jelaskan ke dia, Kak.”

Sukma tidak mengambil ponsel itu. “Jelaskan apa?”

“Tempat sementaraku. Dia salah paham soal barang.”

Darma berdiri di tengah ruang depan dengan layar percakapan terbuka. Di belakangnya, dua kardus yang diturunkan dari atas lemari sudah diletakkan bersebelahan. Salah satunya bertuliskan gelas dengan spidol, padahal isinya kabel, buku sekolah lama, dan satu set piring yang dibungkus koran.

Sukma melepas sepatu.

“Temanmu atau pemilik percetakan?”

“Temanku. Dia kira aku mau bawa lemari sama meja ke rumahnya.”

“Memangnya kamu bilang apa?”

“Aku bilang barangku mungkin ikut.”

“Barangmu yang mana?”

“Ya barang.”

Sukma menatapnya.

Darma mengembuskan napas. “Makanya aku bilang kamu lebih jelas kalau menjelaskan.”

Yati keluar dari dapur membawa pisau kecil dan sebuah mangga yang baru dikupas setengah.

“Bantu sebentar saja, Sukma. Daripada salah terus.”

Sukma menggantung tas pada paku dekat pintu. Di kantor, ia baru belajar bahwa pembagian kerja tidak berarti menyerahkan pekerjaan lalu tetap menjadi pusat semua keputusan. Sekarang pola yang sama berdiri di ruang depannya, memegang ponsel.

“Aku bisa bantu bikin daftar pertanyaannya,” katanya. “Tapi kamu yang bicara sama temanmu.”

“Dia lebih kenal aku, malah susah ngomongnya.”

“Justru karena dia temanmu.”

“Kalau aku salah menjelaskan lagi?”

“Perbaiki.”

“Aku nggak enak kalau harus banyak tanya. Dia sudah mau menampung.”

“Justru karena dia mau menampung, kalian harus sama-sama tahu batasnya. Kalau kamu datang dengan barang lebih banyak atau tinggal lebih lama dari yang dia bayangkan, yang rusak pertemanannya.”

Darma menurunkan ponselnya. “Gampang kalau bukan kamu yang numpang.”

Sukma mendengar ketakutan di balik kekesalannya. Darma bukan hanya malas menjelaskan. Ia takut pertanyaan yang terlalu banyak membuat tawaran itu ditarik kembali.

“Aku tahu kamu sungkan,” katanya. “Tapi sungkan sekarang lebih murah daripada bertengkar waktu kamu sudah tinggal di sana.”

“Ini memang tempatmu. Jadi kamu yang harus tahu kesepakatannya.”

Yati meletakkan mangga di atas meja. “Kakakmu cuma diminta bicara, bukan bayar.”

Sukma merasakan dorongan untuk mengambil ponsel, menyelesaikan percakapan dalam lima menit, lalu beristirahat. Ia tahu pertanyaan yang harus diajukan. Tanggal masuk, lama tinggal, barang yang boleh dibawa, penggunaan ruang, dan biaya harian. Jika ia menelepon, semuanya mungkin beres sebelum makan malam.

Namun besok, jika teman Darma berubah jadwal atau meminta ruangnya dikosongkan, telepon itu akan kembali kepadanya.

“Aku nggak mau jadi perantara,” katanya. “Aku bantu bagian yang menyangkut barang bersama. Tempat tinggalmu kamu urus.”

Darma duduk di lantai dekat kardus. “Ya sudah.”

Nada suaranya membuat dua kata itu terdengar seperti tuduhan.

Sukma tidak memperbaiki suasana.

◆

Setelah berganti pakaian, Sukma menemukan isi kardus telah dikeluarkan ke lantai.

Darma sedang memisahkan kabel. Ihsan duduk di sampingnya, memegang sebuah pengisi daya lama dan bertanya benda itu milik siapa. Yati memotong mangga di meja sambil mengawasi agar tidak ada yang membuang dokumen penting.

“Yang ini buat kamera lama Ayah,” kata Sukma ketika melihat salah satu kabel.

“Kameranya masih ada?” tanya Darma.

“Entah. Jangan dibuang dulu.”

Darma meletakkannya ke tumpukan bertuliskan periksa.

Di atas kertas, ia sudah membuat tiga kelompok: barang pribadi, barang bersama, dan barang yang tidak diketahui pemiliknya. Tulisan tangannya besar dan miring, tetapi pembagiannya masuk akal.

Sukma duduk di kursi, bukan mengambil alih lantai.

“Temanmu bilang apa?”

“Belum kuhubungi lagi.”

“Kenapa?”

“Lagi kerja.”

“Sudah tanya kapan bisa ditelepon?”

Lihat selengkapnya