Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #17

Bab 17 — Sebelum Menjadi Istri

Map cokelat itu ditemukan Yati di bagian paling bawah lemari.

Sukma sedang memilah kartu keluarga lama, kuitansi sewa, dan salinan ijazah ketika ibunya menarik map tersebut dari bawah tumpukan kain. Karet pengikatnya sudah kendur. Pada sudut kanan atas, ada tulisan tangan Sukma yang mulai pudar:

Kuliah.

Yati memegangnya sebentar sebelum menyerahkan kepada Sukma.

“Masih disimpan?”

Sukma menerima map itu. Debu menempel pada ujung jarinya.

“Rupanya masih.”

Mereka duduk di lantai kamar Yati. Kardus dokumen berada di antara keduanya. Dari ruang depan terdengar Darma berbicara melalui telepon dengan pemilik percetakan mengenai penitipan barang. Ihsan sedang menggambar label untuk kardus bukunya.

Sukma membuka karet map.

Brosur pertama menampilkan gedung kampus dan dua orang dewasa membawa buku. Di bagian dalam terdapat jadwal kelas malam. Beberapa baris diberi lingkaran dengan pena biru. Ada juga lembar perhitungan biaya masuk, ongkos perjalanan, dan jumlah yang harus ditabung setiap bulan.

Di halaman belakang, Sukma pernah menggambar jadwal mingguan.

Senin sampai Jumat: bekerja.

Tiga malam: kuliah.

Sabtu: tugas dan membantu rumah.

Ia bahkan menuliskan waktu perjalanan dari kantor menuju kampus, lalu dari kampus ke rumah.

Sukma yang berusia dua puluh tiga tahun pernah percaya hidup bisa dibentuk menjadi kotak-kotak yang cukup rapi untuk menampung semuanya.

“Dulu kamu sampai menghitung begini,” kata Yati.

Sukma menatap angka-angka lama. “Aku memang serius.”

Di dalam map ada amplop kecil berisi uang yang sudah tidak ada. Pada bagian depannya tertulis target tabungan per bulan. Beberapa angka diberi tanda centang, lalu berhenti pada bulan keenam.

“Uangnya dulu dipakai apa?” tanya Yati.

Sukma mencoba mengingat. Sebagian untuk kebutuhan rumah setelah atap bocor. Sebagian menjadi biaya awal pernikahan yang tidak cukup ditutup oleh bantuan keluarga. Sisanya bercampur dengan tabungan bersama setelah ia menikah.

“Banyak hal,” jawabnya.

Yati mengusap tulisan pada amplop. “Ibu lupa kamu pernah buat ini.”

“Tapi Ibu ingat aku ingin kuliah?”

Yati belum menjawab ketika Sukma menemukan selembar kertas lain: daftar dokumen pendaftaran, dilengkapi kotak kecil di samping setiap baris. Fotokopi ijazah sudah diberi tanda. Pasfoto belum. Formulir belum diunduh.

Rencana itu tidak pernah hanya menjadi angan-angan. Ada pekerjaan yang sudah dimulai, lalu ditinggalkan sebelum sempat disebut kegagalan.

◆

Sepuluh tahun lalu, brosur itu masih baru dan tidak berbau debu.

Sukma membawanya pulang di dalam tas kerja, terlindung map plastik agar tidak terlipat. Ia menunggu sampai Darma masuk kamar sebelum membukanya di meja makan.

“Aku mau daftar tahun depan,” katanya kepada Yati.

Ibunya memegang lembar biaya dengan dua tangan. “Sebesar ini baru uang masuk?”

“Iya. Makanya aku mulai menabung sekarang.”

“Terus uang rumah?”

“Tetap. Aku sudah hitung.”

Sukma menunjukkan pembagian gajinya. Jumlahnya ketat, tetapi mungkin. Ia bersedia mengurangi makan di luar dan menunda membeli ponsel baru. Darma sudah remaja dan tidak perlu terus diantar. Jika kelas berlangsung malam, Sukma masih bisa bekerja penuh.

Yati membaca jadwalnya lama.

“Kamu nanti pulang malam terus.”

“Nggak setiap hari.”

“Kalau sakit?”

“Ya istirahat.”

“Kalau ada kebutuhan mendadak?”

“Aku tetap sisakan sedikit.”

Setiap jawaban Sukma membuka pertanyaan baru. Ia belum menganggapnya penolakan. Ia pikir ibunya hanya takut dan perlu diyakinkan.

Beberapa minggu kemudian, nama Herman mulai lebih sering muncul di meja makan.

Herman sudah bekerja tetap. Keluarganya dikenal baik. Ia datang dengan buah, berbicara sopan kepada Yati, dan tidak keberatan menunggu Sukma pulang kerja. Ketika mengantar Sukma, ia selalu memastikan perempuan itu sudah masuk rumah sebelum pergi.

Sukma menyukainya. Bersama Herman, ia bisa tertawa tentang hal-hal yang tidak perlu diselesaikan. Ia membayangkan ada orang lain yang suatu hari ikut memikirkan tagihan, kesehatan ibu, dan masa depan.

Yati melihat sesuatu yang lebih besar daripada kesukaan.

Lihat selengkapnya