“Iya,” kata Sukma. “Aku setuju.”
Yati tampak tidak menyangka jawaban itu akan datang tanpa bantahan.
Sukma menaruh brosur kembali ke dalam map, tetapi tidak menutupnya.
“Aku sayang sama Herman waktu itu. Aku percaya pernikahan akan membuat hidupku lebih ringan. Aku juga takut mengecewakan Ibu. Semua itu benar.”
“Berarti bukan Ibu yang memutuskan.”
“Bukan hanya Ibu. Tapi bukan berarti desakan Ibu tidak punya pengaruh.”
Yati mengalihkan pandangan ke kardus dokumen.
“Aku bertanggung jawab karena akhirnya mengatakan iya,” lanjut Sukma. “Aku juga bertanggung jawab karena setelah menikah, berkali-kali membiarkan kuliah itu terus mundur. Tapi waktu aku bilang iya, aku membawa syarat dan harapan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan lagi.”
“Ibu kira Herman akan mendukung.”
“Aku juga kira begitu.”
“Jadi kita sama-sama salah mengira.”
Sukma mengangguk. “Iya.”
Jawaban itu tidak membebaskan siapa pun, tetapi juga tidak meletakkan seluruh masa lalu di pundak satu orang.
Yati mengambil beberapa kuitansi dan memasukkannya ke kardus. Tangannya bekerja lebih cepat daripada perlu.
“Sekarang kamu mau apa?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut hampir membuat Sukma membuka kembali percakapan tentang kuliah. Namun persoalan yang paling dekat masih berada di sekitar mereka: lemari yang setengah kosong, kardus yang belum memiliki tujuan, dan tanggal penyerahan kunci.
“Aku mau berhenti membuat keputusan besar hanya karena takut semua orang kecewa.”
Yati menatapnya.
“Termasuk soal rumah,” kata Sukma.
◆
Sukma membawa buku catatan ke meja makan setelah semua dokumen selesai dipilah.
Ia membuka kembali daftar rumah yang sudah dilihat dan dihubungi. Sebagian telah dicoret. Sebagian memiliki catatan tentang biaya, jarak, atau syarat pembayaran. Tidak ada rumah besar yang masih menunggu jawaban mereka. Yang terakhir sudah ditolak dan percakapannya telah diarsipkan.
Namun di bagian bawah halaman, masih tertulis satu kalimat:
Cari rumah untuk kita semua.
Kalimat itu membuat setiap pilihan kecil terlihat salah bahkan sebelum diperiksa. Satu kamar tidak cukup. Rumah petak tidak memberi tempat tidur tetap bagi Yati. Kamar dekat kantor tidak menerima Ihsan. Rumah jauh membuat ongkos dan pengasuhan tidak berjalan.
Sukma mengambil penggaris dan mencoret kalimat tersebut.
Ia menulis di bawahnya:
Cari tempat yang dapat dipertahankan, dengan susunan penghuni yang mungkin.
Perubahan itu tidak langsung menghasilkan alamat. Namun untuk pertama kalinya, rumah kecil tidak otomatis gagal hanya karena tidak dapat memuat empat orang dewasa dan satu anak.
Ia membuat tiga kelompok pilihan.
Pertama: tempat sementara yang sudah dikonfirmasi.
Kedua: tempat tinggal jangka lebih panjang bagi Sukma dan Ihsan.
Ketiga: pembagian kewajiban setelah mereka tidak tinggal serumah.
Pada kelompok kedua, ia menuliskan rumah petak atau kontrakan kecil dekat sekolah Ihsan. Bukan kamar yang melarang anak menginap. Bukan rumah besar yang menghabiskan tabungan. Tempat yang dapat dipertahankan oleh pendapatannya sendiri dengan dukungan Herman tetap khusus untuk kebutuhan Ihsan.
Di kelompok ketiga, ia menulis obat dan kunjungan Yati, kontribusi Darma, jadwal pengasuhan Herman, serta biaya penyimpanan barang.
Angka-angkanya belum lengkap. Akan tetapi, semuanya tidak lagi bergantung pada satu rumah besar dan satu gaji Sukma.
Darma masuk membawa kabar bahwa pemilik percetakan bersedia menampung sebagian barang bersama: dua kardus buku, peralatan dapur, dan meja yang sudah dibongkar. Lemari tidak muat. Tidak ada biaya selama penyimpanan tidak lebih dari satu bulan.
“Dia minta semua diberi nama dan jangan menghalangi jalan barang,” katanya.
Sukma mencatat jawabannya.
“Bagus. Minta izin tertulisnya disimpan.”
“Sudah ada di pesan.”
Darma melihat kalimat yang baru ditulis Sukma.
“Susunan penghuni yang mungkin maksudnya apa?”