Telepon itu datang ketika Sukma sedang melihat kamar sewa yang ketiga.
Ruangan tersebut lebih sempit daripada foto. Satu jendela menghadap tembok rumah sebelah, dan kamar mandinya berada di ujung lorong. Pemiliknya sedang menjelaskan biaya listrik ketika nama seorang kerabat muncul di layar.
Sukma mematikan dering.
“Maaf, Bu,” katanya. “Kalau anak saya menginap akhir pekan, boleh?”
“Anaknya umur berapa?”
“Delapan tahun.”
“Kalau sesekali boleh. Tapi kamar ini satu orang. Nggak bisa tinggal berdua terus.”
Sukma mengangguk dan mencatat. Setidaknya aturan itu lebih longgar daripada tempat sebelumnya, tetapi kamar tersebut tidak dapat menjadi rumah bagi dirinya dan Ihsan.
Ponselnya bergetar lagi. Kerabat yang sama mengirim pesan.
Kalau sudah selesai, telepon. Mau bicara soal Ibu.
Sukma menyelesaikan pemeriksaan lebih dahulu. Ia memotret meter listrik, lorong, dan jendela. Ia menanyakan masa sewa minimum serta pengembalian uang jaminan. Tidak ada keputusan yang dibuat.
Di luar, ia berdiri di bawah pohon dekat gerbang dan menelepon balik.
“Kamu lagi sibuk?” tanya suara di seberang.
“Baru selesai lihat kamar.”
“Oh. Buat kamu sendiri?”
“Masih pilihan sementara.”
Kerabat itu menarik napas, seperti baru menerima bukti atas sesuatu yang sudah didengarnya.
“Ibumu cerita mungkin tinggal sama adiknya.”
“Iya. Itu salah satu rencana sementara.”
“Katanya kamu sudah tidak mau tinggal sama Ibu.”
Sukma menutup buku catatan yang masih terbuka.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Ibumu nggak bilang persis begitu. Dia bilang kamu sekarang maunya cari tempat kecil buat kamu sama Ihsan. Ya orang menangkapnya bagaimana?”
“Menangkapnya sesuai kalimat yang lengkap.”
“Sukma, jangan langsung keras. Aku telepon karena khawatir.”
Sukma melihat kendaraan keluar-masuk gerbang. Ia menepi agar tidak menghalangi.
“Kontrakan kami harus dikosongkan. Rumah yang cukup untuk semua terlalu mahal atau tidak bisa dijalani dari sisi sekolah dan kerja. Kami sedang membuat pengaturan sementara.”
“Ibu kan bisa ikut kamu.”
“Aku belum punya rumah. Kamar yang baru kulihat bahkan tidak boleh ditinggali dua orang terus-menerus.”
“Nanti cari yang bisa.”
“Aku sedang cari.”
“Jangan sampai karena capek, orang tua jadi terasa beban.”
Sukma merasakan kalimat itu masuk ke tempat yang sudah sakit.
“Ibu bukan sekadar beban. Ibu memasak, menjaga Ihsan, dan membantu rumah. Aku tahu itu.”
“Bagus kalau tahu. Orang tua makin tua, ya anak yang mengerti.”
“Aku mengerti. Tapi aku juga punya batas uang dan tempat.”
Kerabat tersebut diam sejenak, lalu berkata, “Dulu ibumu membesarkan kalian sendirian.”
“Aku tidak menyangkal.”
“Kalau sekarang harus menumpang ke saudara, pasti hatinya bagaimana.”
“Makanya pengaturannya sedang dibicarakan langsung dengan Bibi, termasuk durasi dan kebutuhan Ibu.”
“Kalau aku jadi kamu, aku akan usahakan tetap satu rumah.”
Sukma memejamkan mata sebentar. Ia sudah menjelaskan biaya, tempat, dan rencana. Percakapan tidak bergerak. Setiap fakta hanya menjadi jalan menuju nasihat yang sama.
“Aku sudah mengusahakannya,” katanya.
“Mungkin usahanya perlu ditambah.”