Pertengkaran itu dimulai dari dua helai seprai.
Yati memasukkannya ke kardus milik Darma karena mengira adiknya akan membutuhkan alas tidur di rumah teman. Darma mengeluarkannya lagi dan berkata ruang depan tempat ia menumpang sudah memiliki kasur serta seprai.
“Bawa saja satu,” kata Yati. “Kalau yang di sana kotor bagaimana?”
“Aku bisa cuci.”
“Kamu pulang malam. Kapan mencucinya?”
“Kalau perlu aku beli.”
“Buat apa beli kalau di rumah ada?”
Darma memandang Sukma, yang sedang menulis isi kardus lain.
“Kak, bilang ke Ibu aku nggak perlu.”
Sukma tidak mengangkat kepala. “Kamu sudah bilang sendiri.”
“Ibu nggak dengar.”
“Bukan berarti aku harus mengulanginya.”
Yati melipat seprai itu lebih kecil. “Kalian sekarang semua bicara soal batas. Nanti kalau butuh, yang dicari tetap Ibu.”
Darma mengambil satu seprai dari tangannya. “Ya sudah. Satu.”
Yati memasukkan keduanya.
Sukma menutup spidol.
“Bu, Darma bilang satu.”
“Nah, kalau kamu yang bilang baru dia mau dengar,” kata Darma.
Yati menoleh. “Ibu cuma menyiapkan. Salah juga?”
“Nggak salah menyiapkan,” jawab Sukma. “Tapi kalau orangnya sudah bilang tidak perlu, dengarkan.”
“Dia sering bilang tidak perlu, nanti minta.”
“Kalau nanti minta, biar dia cari cara.”
“Enak sekali ngomong begitu sama adik sendiri.”
Darma mengeluarkan seprai kedua dan meletakkannya di tumpukan barang rumah. “Aku bisa urus, Bu.”
Yati mengambilnya kembali. “Kamu dari kecil kalau nggak diingatkan, semuanya tertinggal.”
Sukma melihat wajah adiknya berubah. Darma menaruh seprai itu ke lantai, tidak lagi berusaha memasukkannya ke mana pun.
“Aku keluar dulu,” katanya.
“Mau ke mana?” tanya Yati.
“Beli pita perekat.”
“Masih ada satu gulung.”
“Sudah hampir habis.”
Darma mengambil dompet dan pergi sebelum pembicaraan menemukan benda lain untuk diperdebatkan.
Pintu menutup.
Yati memungut seprai dari lantai. “Dia marah sama Ibu sekarang.”
“Dia kesal karena Ibu nggak percaya jawabannya.”
“Ibu lebih tahu kebiasaannya.”
“Dia dua puluh lima tahun, Bu.”
“Terus kalau dua puluh lima tahun nggak boleh dibantu?”
“Boleh. Kalau dia minta atau setuju.”
Yati menatap Sukma. “Kamu sekarang seperti Mirah. Semua harus ditanya dulu, semua harus dibagi.”
Sukma tidak tahu kapan ibunya mulai mengingat nama Mirah sebagai sumber perubahan dirinya. Ia memilih tidak mengejar bagian itu.
“Kenapa kalau Darma bilang belum bisa, Ibu langsung mencari alasan buat dia?” tanyanya.
“Karena pekerjaannya memang tidak tetap.”
“Waktu aku seusia dia, pekerjaanku juga belum seperti sekarang. Tapi aku tetap diminta bantu rumah, urus dokumen, dan jadi contoh.”
“Kamu kakaknya.”
“Nah.” Sukma berdiri. “Itu yang selalu Ibu bilang.”
Yati meletakkan seprai di atas kursi. “Memangnya salah minta kakak memberi contoh?”
“Kalau aku harus jadi contoh, kenapa waktu aku minta Darma menepati janji, Ibu selalu menyuruhku mengalah?”