Herman datang ke warung dekat kantor Sukma dengan map bening yang terlalu penuh.
Dari dalamnya terlihat fotokopi kartu keluarga, jadwal sekolah Ihsan, dan satu lembar berisi tulisan tangannya. Sukma mengenali kebiasaan itu. Herman selalu membawa banyak kertas ketika takut dianggap tidak siap.
“Aku minta izin keluar satu jam,” kata Sukma setelah duduk. “Jadi kita langsung saja.”
Herman mengangguk. “Aku sudah bikin usulan.”
Ia mengeluarkan selembar kertas bergaris. Di bagian atas tertulis: Kalau Ihsan tinggal sementara.
Kata kalau membuat bahu Sukma sedikit turun.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Awalnya dua minggu. Kalau rumahmu belum ada, kita evaluasi tiap minggu.”
“Bukan diperpanjang otomatis.”
“Bukan.”
Sukma menulis di bukunya sendiri. “Sekolah?”
“Aku antar pagi. Pulang dijemput ibuku dua hari, tiga hari aku minta tukar jam.”
“Ibumu sudah ditanya?”
“Sudah. Dia sanggup Senin dan Rabu saja. Jadi Selasa, Kamis, Jumat aku.”
“Kalau pekerjaanmu mendadak?”
“Aku cari pengganti dan kabari kamu. Bukan langsung menyuruh Ihsan menunggu.”
Jawaban itu terdengar sudah dipikirkan. Sukma tetap meminta alamat lengkap, waktu tempuh, dan nama orang yang boleh menjemput. Mereka menuliskannya, bukan karena Herman orang asing, melainkan karena ayah pun perlu mempunyai rencana.
“Biaya makan selama di sana?” tanya Sukma.
“Aku tanggung.”
“Uang sekolah dan kebutuhan rutin tetap dari pembagian kita seperti biasa.”
“Ya.”
“Kalau ada kebutuhan tambahan, bicara dulu. Jangan bilang ke Ihsan bahwa Ayah akan belikan lalu minta aku mengganti.”
Herman mengusap tepi map. “Aku pernah begitu sekali.”
“Dua kali.”
“Baik. Dua kali.”
Sukma mencatat kesepakatan itu tanpa menambahkan komentar. Herman juga tidak membela diri.
Mereka beralih ke obat alergi, seragam, buku pelajaran, pakaian, jam tidur, dan panggilan video. Herman mengusulkan Sukma menelepon setiap malam. Sukma menolak jadwal yang terlalu kaku.
“Kalau setiap malam wajib, Ihsan bisa merasa harus melaporkan apakah dia baik-baik saja.”
“Terus bagaimana?”
“Aku akan menghubungi dia setiap hari, tapi waktunya menyesuaikan. Dia juga boleh menelepon kapan pun tanpa harus minta izin.”
“Kalau sedang belajar?”
“Boleh diminta menelepon kembali. Bukan dilarang.”
Herman menulisnya.
“Aku bukan mau mengambil dia darimu, Sukma.”
“Aku tahu. Tapi bantuan yang tidak jelas bisa berubah jadi perebutan ketika orang sedang marah.”
“Kita tidak sedang berebut.”
“Karena itu kita jelaskan sebelum marah.”
Pelayan meletakkan dua gelas teh. Herman memesan tanpa bertanya tadi, tetapi masih mengingat Sukma tidak suka terlalu manis. Detail kecil itu tidak menimbulkan rindu. Hanya mengingatkan bahwa seseorang dapat mengenal kebiasaanmu dan tetap gagal berdiri di sampingmu ketika dibutuhkan.
“Keputusan sekolah atau dokter tetap dibicarakan bersama,” kata Sukma. “Kalau darurat, bertindak dulu lalu kabari secepatnya.”
“Setuju.”
“Dan jangan bilang aku menitipkan Ihsan karena tidak mampu mengurus.”
Herman mengangkat kepala. “Aku tidak akan bilang begitu.”
“Bukan cuma ke Ihsan. Ke keluargamu juga.”
Rahang Herman mengeras sedikit. “Ibuku mungkin bertanya.”
“Jawab bahwa ini pengaturan sementara karena perpindahan rumah. Aku tetap ibunya, kamu tetap ayahnya, dan sekarang giliranmu mengambil bagian lebih besar.”
“Giliran ayahnya,” ulang Herman.
“Ya.”