Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #22

Bab 22 — Bukan Paket Titipan

Sebelum Herman datang, Ihsan bertanya tiga kali apakah ia sedang dimarahi.

“Tidak,” jawab Sukma untuk ketiga kalinya.

“Terus kenapa Nenek sama Om Darma pergi ke warung?”

“Supaya kita bisa bicara dengan tenang bersama Ayah.”

Ihsan memandang ruang depan yang dipenuhi kardus. “Tentang rumah?”

“Iya.”

Ia tidak bertanya lagi. Ia mengambil pensil warna lalu melanjutkan gambar mobil terbang di meja, tetapi roda yang diwarnainya melewati garis.

Herman datang membawa map bening dan sekotak martabak kecil. Sukma menaruh makanan itu di dapur. Ia tidak ingin percakapan penting berubah menjadi sesuatu yang harus ditelan bersama gula.

Mereka duduk bertiga di lantai karena kursi telah dipindahkan untuk memberi ruang pada kardus. Ihsan berada di antara kedua orang tuanya, dengan bantal bergambar daun yang sudah kempis di salah satu sisi tertekan rapat ke dadanya.

Sukma membuka pembicaraan.

“Kontrakan ini sebentar lagi harus dikosongkan. Ibu masih mencari rumah yang bisa kita tinggali dan bayar dengan aman.”

“Yang kemarin sempit?” tanya Ihsan.

“Itu salah satu tempat yang Ibu lihat. Belum dipilih.”

Herman menaruh map di lantai. “Sambil Ibu mencari rumah, Ayah menawarkan Ihsan tinggal di tempat Ayah selama dua minggu.”

Ihsan memandangi bantalnya.

“Kenapa aku?”

Sukma dan Herman bertukar pandang. Sukma memberi isyarat kecil agar Herman tidak menjawab terlalu cepat.

“Apa maksudmu kenapa kamu?” tanya Sukma.

“Nenek ke rumah Bibi. Om Darma ke rumah temannya. Aku ke rumah Ayah.” Ihsan menghitung dengan jarinya. “Terus Ibu ke mana?”

“Ibu juga sedang mencari tempat sementara.”

“Jadi semua pergi sendiri-sendiri?”

“Untuk sementara, iya.”

Ihsan mengerutkan kening. “Karena kamar yang Ibu lihat cuma boleh satu orang?”

Sukma merasakan dorongan untuk segera berkata bahwa ia akan menemukan tempat lain. Ia menahannya.

“Itu salah satu alasan kamar itu belum tentu Ibu pilih,” katanya. “Ibu tidak mau rumah kita menganggap kamu cuma boleh datang sesekali.”

“Tapi kalau aku tinggal sama Ayah, Ibu bisa ambil kamar itu.”

“Aku tidak mau keputusan tempat tinggalmu dibuat supaya kamar itu bisa kuambil.”

Herman menambahkan, “Tempat Ayah juga bukan tempat untuk membuangmu sementara.”

Ihsan mengangkat wajah. “Aku tahu Ayah nggak buang aku.”

“Bagus,” kata Herman. “Ayah cuma ingin kamu tahu ini bukan karena kamu bikin susah.”

“Terus karena apa?”

Sukma menjawab, “Karena orang dewasa belum berhasil mendapatkan rumah baru sebelum kontrak ini habis. Ayah punya tempat yang bisa dipakai, jadi Ayah mengambil bagian lebih banyak untuk sementara.”

Ihsan memikirkan kalimat itu. “Berapa lama dua minggu?”

Herman menunjukkan kalender di lembar pertama. Ia menandai tanggal mulai dan tanggal mereka akan bicara lagi.

“Sampai sini,” katanya. “Setelah itu kita bertiga melihat lagi. Bukan berarti otomatis tambah lama.”

“Kalau rumah Ibu belum ada?”

“Kita membicarakannya lagi,” kata Sukma. “Kamu boleh bilang apa yang membuatmu nyaman atau tidak nyaman.”

Ihsan mengusap ujung bantal dengan ibu jari. “Kalau aku bilang nggak mau?”

“Boleh bilang,” jawab Sukma.

“Terus aku pasti nggak jadi ke Ayah?”

Sukma berhenti. Memberi hak bicara bukan berarti semua keputusan dapat diserahkan kepada anak delapan tahun.

“Kami akan mencari tahu kenapa kamu tidak mau,” katanya. “Kalau ada yang bisa diperbaiki, kami perbaiki. Orang dewasa tetap harus memastikan kamu punya tempat yang aman.”

Ihsan menoleh kepada Herman. “Di rumah Ayah aku tidur di mana?”

Lihat selengkapnya