Pesan dari pemilik kamar datang sebelum Sukma selesai menyisir rambut Ihsan.
Kalau masih berminat, uang jaminan bisa separuh dulu. Saya tunggu sampai jam enam sore. Ada calon lain.
Sukma membaca pesan itu dua kali.
Kamar tersebut bukan tempat yang baik untuk membesarkan anak, tetapi cukup untuk menyelamatkan satu orang dewasa dari tidur berpindah-pindah. Harganya masuk dalam batas. Jaraknya ke kantor hanya satu angkot. Pemiliknya juga bersedia menerima jaminan separuh.
“Ibu kenapa?” tanya Ihsan.
Sukma meletakkan ponsel. “Ada kamar yang kemarin memberi kabar.”
“Yang cuma satu orang?”
“Iya.”
Ihsan meraba rambutnya yang belum rapi. “Ibu mau ambil?”
“Belum tahu.”
Jawaban itu lebih berat setelah percakapan mereka bersama Herman. Dahulu Sukma dapat menyebut kamar tersebut sebagai solusi sementara. Sekarang ia mendengar kembali pertanyaan Ihsan: Kalau aku mau pulang ke Ibu tapi rumahnya belum boleh anak?
Sukma menyelesaikan rambutnya lalu mengantar Ihsan ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia menghitung keuntungan kamar itu. Tidak perlu menumpang. Tidak perlu menjelaskan kebiasaan tidur kepada siapa pun. Tidak perlu merasa setiap gelas air berasal dari rumah orang lain.
Kerugiannya juga konkret. Uang jaminan dan sewa pertama akan mengurangi pegangan untuk rumah yang benar-benar dapat dihuni bersama Ihsan. Jika keluar sebelum tiga bulan, sebagian jaminan hangus. Kamar itu dapat membuat keadaan darurat terasa tertangani, lalu diam-diam menjadi keadaan tetap karena ia sudah telanjur membayar.
Di depan gerbang sekolah, Ihsan membetulkan tali tasnya.
“Kalau Ibu ambil kamar itu, aku masih boleh datang?”
“Pemiliknya bilang boleh menginap sesekali.”
“Sesekali itu berapa?”
Sukma tidak memiliki angka.
“Itu salah satu yang Ibu tidak suka,” katanya.
Bel masuk berbunyi. Ihsan berlari dua langkah, lalu kembali.
“Jangan ambil karena aku bilang jangan,” katanya. “Nanti kalau Ibu nggak punya tempat, aku yang salah.”
Dada Sukma mengencang.
“Kamu tidak bertanggung jawab atas tempat tidur Ibu.”
“Tapi Ibu juga bilang aku boleh kasih pendapat.”
“Pendapatmu penting. Keputusan dan akibatnya tetap tanggung jawab orang dewasa.”
Ihsan mengangguk tanpa tampak sepenuhnya yakin. Ia masuk setelah Sukma berjanji akan memberitahunya sebelum memutuskan.
◆
Di kantor, angka-angka pesanan tidak berhasil menyingkirkan kamar itu dari pikirannya.
Pada waktu istirahat, Sukma membuat dua kolom. Di sisi kiri ia menulis tempat darurat. Di sisi kanan, rumah yang dicari.
Di bawah tempat darurat: aman untuk tidur, dekat kerja, terjangkau untuk waktu pendek.
Di bawah rumah yang dicari: Ihsan boleh tinggal, biaya dapat dipertahankan, perjalanan sekolah masuk akal, ada pintu yang tidak membuatnya merasa sedang melanggar aturan.
Kamar itu memenuhi hampir seluruh kolom pertama dan gagal pada bagian terpenting kolom kedua.
Mirah meletakkan kotak makan di meja seberang. “Itu daftar rumah lagi?”
“Dua jenis tempat.”
Sukma mendorong buku catatan ke tengah. Mirah membacanya tanpa langsung memberi saran.
“Yang kemarin menghubungi?” tanyanya.