Mirah memberikan jawabannya saat mereka baru menyalakan komputer.
“Bisa tiga malam,” katanya. “Aku sudah bicara sama Hilman.”
Sukma menghentikan tangannya di atas papan ketik.
“Terhitung dari malam setelah kontrakanmu kosong,” lanjut Mirah. “Tidurnya di sofa ruang tengah. Kalau punggungmu nggak kuat, kami punya matras tipis untuk ditaruh di lantai.”
“Tiga malam cukup untuk rencana daruratku.”
“Bukan berarti malam keempat kami mengusirmu pagi-pagi. Tapi kita tidak menganggap perpanjangan otomatis.”
“Aku mengerti.”
Mirah menyebutkan tanggal masuk dan keluar. Sukma menuliskannya. Ia juga mencatat bahwa ibu Hilman mungkin datang pada hari ketiga setelah kontrol, tetapi belum tentu menginap.
“Hilman ingin bicara langsung nanti malam,” kata Mirah. “Bukan hal buruk. Dia cuma nggak mau semua aturan rumah disampaikan lewat aku.”
“Itu wajar.”
“Dan soal biaya makan, kami setuju kamu ikut belanja. Bukan bayar sewa.”
“Baik.”
Mirah menunggu seolah menduga akan ada ucapan terima kasih panjang. Sukma hanya berkata, “Terima kasih sudah membicarakannya dengan jelas.”
Ia tidak menawarkan mencuci pakaian mereka, memasak setiap hari, atau datang setelah rumah sudah bersih dan pulang sebelum terlihat. Tiga malam itu bukan hadiah yang harus dibayar dengan menghilangkan keberadaannya.
◆
Malamnya, mereka melakukan panggilan bertiga.
Hilman muncul di layar dengan latar rak piring dan suara air mendidih. Mirah duduk di sebelahnya. Sukma berada di teras kontrakan agar percakapan tidak bercampur dengan suara kardus diseret di dalam.
“Aku langsung saja, ya,” kata Hilman. “Kunci cadangan cuma satu. Kamu bisa pegang selama tiga malam, tapi jangan digandakan.”
“Baik.”
“Aku biasanya berangkat sebelum jam tujuh. Mirah setelahnya. Kalau kamu pulang paling akhir, pastikan pintu dapur terkunci juga. Kaitnya harus diangkat sedikit.”
Hilman menunjukkan gerakan dengan tangannya.
“Jam mandi pagi?” tanya Sukma.
“Aku jam lima lewat empat puluh sampai enam,” jawab Hilman. “Mirah biasanya setengah tujuh. Kamu pilih sebelum aku atau di antaranya.”
“Aku bisa jam lima lewat lima belas.”
“Jangan sengaja terlalu pagi hanya karena merasa menumpang,” kata Mirah.
“Aku memang perlu berangkat lebih awal dari rumah kalian.”
“Kalau begitu masuk akal.”
Hilman melanjutkan, “Satu batas dariku: kalau ada keluarga atau kenalanmu mau bertemu, jangan ajak datang tanpa bicara dulu. Rumah kami kecil, dan ibuku mungkin datang.”
“Aku tidak akan mengundang siapa pun. Kalau Ihsan perlu bertemu, aku akan mengajaknya di luar kecuali kalian menyetujui sebelumnya.”
“Bukan berarti dia dilarang masuk,” kata Hilman. “Kami cuma perlu tahu.”
Sukma mencatat perbedaannya. “Baik.”
“Soal makanan,” kata Mirah, “kita belanja sederhana. Kamu masukkan bagianmu. Tidak usah masak khusus.”
“Aku bisa ikut dua ratus ribu untuk tiga hari.”
Hilman menggeleng. “Terlalu banyak. Seratus cukup. Kalau ternyata kurang, kita hitung.”
Sukma hampir memaksa agar jumlahnya lebih besar. Memberi uang lebih banyak akan membuat dadanya terasa lebih ringan. Namun rasa ringan itu dibeli dengan mengubah bantuan menjadi transaksi yang sepihak.
“Seratus,” katanya. “Kalau ada tambahan, bilang.”