Pada hari Minggu terakhir di kontrakan, ruang depan dibagi menjadi empat wilayah dengan pita perekat.
Dibawa.
Disimpan.
Diberikan.
Dibuang.
Ihsan menambahkan wilayah kelima dengan kertas kecil bertuliskan Pikir dulu.
“Yang itu paling berbahaya,” kata Sukma.
“Kenapa?”
“Karena semua barang nanti masuk ke sana.”
“Kalau bingung memang harus pikir dulu.”
Darma mengangkat kipas angin tua dari sudut. “Ini masuk pikir dulu.”
Kipas tersebut milik ayah mereka. Cat pelindungnya telah mengelupas dan kepala kipas hanya bisa menghadap lurus karena penguncinya patah. Jika dinyalakan, suaranya seperti sendok berputar di dalam kaleng.
Yati langsung berkata, “Disimpan.”
“Di tempat percetakan ruangnya terbatas,” kata Sukma. “Siapa yang memiliki dan mengambilnya nanti?”
Yati memandang Darma. Darma memandang kipas.
“Kakak saja,” katanya.
“Kenapa aku?”
“Kamu paling mungkin punya rumah dulu.”
“Itu bukan alasan aku menjadi pemilik semua barang yang belum diputuskan.”
Darma menggaruk kepalanya. “Kalau dibuang sayang. Itu kipas Bapak.”
“Kalau ingin menyimpannya, tulis namamu dan kamu yang ambil setelah dua minggu di rumah temanmu.”
“Tempatku sempit.”
“Berarti pilihannya bukan otomatis pindah ke aku.”
Yati mengusap debu pada kisi-kisi kipas. “Dulu bapakmu membelinya waktu Sukma masuk SMP. Katanya supaya kalian nggak belajar sambil kipas-kipas buku.”
Sukma mengingat malam-malam ketika kipas itu berputar lambat di antara dirinya dan Darma. Ayah mereka sering memukul bagian belakangnya agar mesinnya kembali bergerak. Kenangan tersebut nyata, tetapi tidak membuat benda itu lebih ringan atau lebih berfungsi.
“Aku bisa bawa ke tempat servis,” kata Darma akhirnya. “Kalau masih bisa diperbaiki, aku simpan. Kalau tidak, aku foto dulu lalu buang.”
Sukma menyerahkan label kepadanya. Darma menulis namanya sendiri dan menempelkannya pada badan kipas.
Satu keputusan selesai tanpa nama Sukma di atasnya.
◆
Yati mengurus peralatan dapur. Ia memilih satu panci kecil, pisau kesayangannya, dan dua wadah bumbu untuk dibawa ke rumah adiknya. Sisanya dipilah antara penyimpanan dan pemberian.
Ketika menemukan piring saji bermotif bunga dengan tepi yang sompel, tangannya berhenti.
“Ini ikut Ibu,” katanya.
“Bibi punya banyak piring,” kata Darma.
“Terus?”
“Cuma bilang.”
“Kalau cuma bilang, pakai suara yang tidak seperti melarang.”
Darma mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu.”
Piring itu digunakan Yati setiap Lebaran meski bagian pinggirnya selalu ditutup daun pisang agar retaknya tidak terlihat. Sukma menduga ibunya memilihnya bukan karena kebutuhan. Ia tidak menanyakan alasan.
“Bungkus pakai handuk kecil,” katanya. “Supaya tidak pecah di jalan.”
Yati mengangguk. Ia membungkusnya sendiri, lalu menulis Yati—dibawa pada kardus dapur. Tulisan miring itu tampak aneh sekaligus penting. Selama bertahun-tahun, kardus rumah biasanya hanya diberi label oleh Sukma.
“Wadah sambal ini punya siapa?” tanya Yati.
Sukma mengenal wadah plastik dengan tutup merah itu. Ibunya selalu mengisinya saat Sukma pulang terlambat, lalu meninggalkan nasi dan telur di meja. Tutupnya sudah tidak rapat, tetapi Yati masih menahannya dengan karet gelang.
“Punya Ibu,” kata Sukma.
“Dulu beli pakai uangmu.”
“Yang memakai dan merawat Ibu.”
Yati memeriksa retak kecil di sisinya. “Kalau dibawa malah bocor di tas.”