Truk kecil datang sebelum matahari benar-benar tinggi.
Sukma berdiri di depan pintu kontrakan sambil memegang daftar barang yang seharusnya sudah selesai ia periksa semalam. Di halaman, kardus-kardus bertuliskan nama menunggu di bawah terpal. Ada yang akan dibawa Yati ke rumah adiknya, ada yang dibawa Darma ke rumah temannya, dan ada beberapa kardus bersama yang akan dititipkan sementara di tempat percetakan.
Tak satu pun diberi tulisan nanti Sukma urus.
Hanya satu kotak milik Ihsan yang tetap di sudut dekat dinding. Ia akan melihat barang itu lagi sebelum pergi ke rumah Herman.
“Bu, obat yang rutin jangan masuk truk,” kata Sukma. “Bawa di tas Ibu.”
Yati mengangguk. Tas kainnya sudah tergantung di bahu. Di dalamnya ada dompet, obat, buku kecil berisi nomor telepon, dan dua pot cabai yang belum diputuskan apakah akan ikut ke rumah adiknya.
“Dua pot itu tidak bisa ditaruh atas kardus,” kata Darma sambil mengikat tali terpal. “Nanti tanahnya tumpah.”
“Aku tahu cara membawa tanaman.”
“Kalau tahu, bagus.”
Yati menatapnya. Darma cepat-cepat beralih memeriksa ikatan.
Sukma melihat daftar. “Bibi sudah tahu kita sampai sekitar jam sebelas?”
“Sudah. Ibu akan telepon kalau truk terlambat.”
“Uang belanja minggu pertama?”
“Sudah Ibu pisahkan.”
“Baik.”
Yati mengangkat alis. “Kamu tidak mau cek jumlahnya?”
“Tidak. Itu uang Ibu.”
Ada sesuatu yang hampir menjadi senyum di wajah Yati, tapi tidak sampai utuh. Ia merapikan tali tasnya.
Darma keluar membawa gulungan selotip. “Aku berangkat setelah truk ini selesai. Temanku bilang kunci rumahnya bisa kuambil langsung.”
“Kontribusi minggu pertama?” tanya Sukma.
“Sudah kutransfer tadi malam.”
Sukma melihat tanggal dan nominal pada pesan yang ia tunjukkan. Ia mengangguk. “Baik. Kalau perlu memperpanjang, bicarakan dengan dia sebelum hari keempat belas.”
“Iya.”
“Jangan tunggu sampai aku bertanya.”
“Aku tahu.”
Kata-kata itu terdengar seperti bantahan, tetapi Darma tidak menambahkan apa-apa. Ia mengangkat satu kardus sendiri dan memasukkannya ke truk.
Ihsan duduk di ambang pintu, kaki bergoyang-goyang. Ia memakai ransel kecil yang belum dibawa ke mana-mana. Bantal daun ada di pangkuannya.
“Kamu mau bantal itu dibawa ke rumah Ayah sekarang?” tanya Sukma.
“Belum. Aku bawa sendiri nanti.”
“Baik.”
Ia meraih tangan anaknya sejenak, lalu melepasnya ketika Ihsan kembali sibuk melihat truk. Tidak ada yang meminta anak itu mengucapkan selamat tinggal kepada setiap dinding.
◆
Pukul sepuluh, truk berangkat lebih dulu ke rumah adik Yati. Darma menyusul beberapa jam kemudian dengan tas punggung, kipas tua, dan kotak perkakas yang sudah diberi namanya.
“Aku naik ojek saja,” katanya. “Kalau ikut truk, barangku kebawa semua.”
“Bukannya itu memang tujuannya?” tanya Yati.
“Sebagian barangku.”
“Jangan lupa kunci kamar mandi,” kata Sukma. “Tempat temanmu punya dua pintu.”
“Aku sudah ingat.”