Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #27

Bab 27 — Malam Pertama

Pagi terakhir di kontrakan dimulai dengan mencari satu kunci.

Sukma sudah memeriksa tas kerja, kotak dokumen, saku celana yang dipakai kemarin, dan mangkuk kecil di dekat pintu. Kunci cadangan kamar belakang tetap tidak ditemukan.

Pemilik rumah akan datang pukul sepuluh untuk memeriksa kondisi sebelum menerima kunci utama. Sukma menatap jam. Pukul delapan lewat dua puluh.

Ia hampir menelepon Darma untuk bertanya apakah kunci itu terbawa bersama kotak perkakas. Namun ponsel adiknya langsung masuk pesan suara. Darma mungkin sedang bekerja.

Sukma mengetik pesan: Kunci kamar belakang ada di barangmu? Tolong cek saat sempat.

Ia tidak menulis telepon aku sekarang.

Sambil menunggu jawaban, ia membuka pintu kamar belakang yang ternyata hanya tertahan kait dari sisi luar. Kunci cadangan terselip di balik lemari plastik yang digeser saat mengosongkan ruangan. Ia mengangkatnya, menaruhnya di mangkuk dekat pintu, lalu menghapus pesan yang belum terkirim dan menggantinya dengan: Sudah ketemu. Tidak perlu dicek.

Pemilik rumah datang tepat waktu. Ia memeriksa keran, sakelar, jendela, dinding kamar mandi, lalu mencatat bahwa satu engsel lemari dapur memang sudah longgar sejak awal sewa.

“Tidak ada kerusakan besar,” katanya. “Saya kembalikan sebagian uang jaminan hari ini.”

Sukma memeriksa jumlah yang disebutkan. Nilainya sesuai perjanjian setelah dipotong tagihan air terakhir. Ia menerima transfer dan menyimpan bukti.

Pemilik rumah menyerahkan kuitansi tanda terima kunci.

Sebelum pergi, Sukma memastikan tidak ada barang tertinggal di kamar mandi dan lemari dapur. Kunci utama ia masukkan ke amplop bening, lalu menuliskan tanggal serah terima di bagian depan. Pemilik rumah ikut menandatangani kuitansi, kemudian memeriksa pintu sekali lagi.

“Semoga dapat tempat yang cocok, Bu.”

“Terima kasih. Saya juga berharap begitu.”

Sukma berjalan sampai gerbang sebelum memanggil kendaraan. Ia tidak berbalik untuk memeriksa pintu lagi.

Di halaman, kardus terakhir sudah dibawa ke tempat percetakan. Satu tas kerja dan koper kecil Sukma tinggal menunggu taksi daring. Ia berdiri sebentar di depan pintu yang telah dikunci dari luar.

Rumah itu tidak pernah terasa benar-benar miliknya. Namun selama bertahun-tahun, dialah orang yang mengetahui kunci mana macet, tetangga mana yang punya tangga, dan siapa harus ditelepon jika air berhenti.

Sekarang tidak ada lagi urusan yang perlu ia urus di sana.

Ponselnya bergetar. Darma membalas: Kunci nggak ada sama aku. Maaf baru lihat.

Sukma mengetik: Sudah ketemu. Terima kasih sudah cek.

Jawaban itu tiba terlambat untuk mengubah apa pun, tetapi tidak membuatnya kesal. Sebelum pulang, ia meminta sopir berhenti di minimarket. Ia membeli roti, air mineral, dan sikat gigi pengganti untuk kotak yang tertinggal. Ia tidak menunda makan sampai tiba di rumah Mirah hanya karena merasa belum pantas berhenti.

Di depan minimarket, ia menghubungi Mirah.

“Aku akan sampai sekitar setengah jam lagi. Apa aku perlu masuk lewat pintu samping?”

“Pintu depan saja. Aku ada di rumah.”

“Baik. Aku beli makan untuk diriku sendiri. Perlu aku bawakan sesuatu?”

“Tidak. Kami sudah makan.”

Sukma hampir menyarankan akan mencuci piring setelah tiba. Ia menelan kalimat itu, membayar belanjaannya, lalu memanggil kendaraan.

◆

Mirah membukakan pintu ketika Sukma tiba dengan koper, tas dokumen, dan satu kantong pakaian.

“Tidak jadi bawa kardus?” tanyanya.

“Semua barang lain di tempat percetakan. Ini yang kubutuhkan untuk tiga malam.”

Hilman muncul dari dapur. “Sofanya sudah kami kosongkan. Tirainya ada di ruang tengah.”

Sukma melepas alas kaki dan masuk. Ruang tengah lebih kecil daripada yang ia ingat ketika datang bertamu. Sebuah meja lipat digeser ke samping, sofa ditarik sedikit dari dinding, dan kain penyekat berdiri di satu sisi.

Ia menaruh koper, tas dokumen, dan kantong pakaian dalam batas ruang yang disediakan. Lalu ia berdiri di tengah ruang, tidak tahu apakah harus duduk atau menyingkir lagi.

Hilman kembali dari dapur membawa gelas air dan menunjuk sofa. “Kamu boleh duduk, Sukma. Nggak perlu menunggu kami menyuruh.”

Lihat selengkapnya