Ihsan datang bersama Herman membawa bantal daun dan folder gambar. Ia belum menginap malam itu. Hari ini mereka hanya akan melihat rumah petak, lalu memilih seprai jika tempatnya cocok.
Sukma menunggu di depan gang sesuai janji. Pemilik rumah belum tiba. Ia mengirim pesan sekali, memastikan mereka berada di alamat yang benar, lalu menunggu tanpa menelepon berulang kali.
Herman melirik jam. “Katanya jam empat.”
“Masih empat kurang tiga.”
“Aku tahu. Cuma memastikan.”
Ihsan memandang gerbang rumah di ujung gang. “Kalau cocok, aku langsung tidur di sini?”
“Belum,” kata Sukma. “Kita harus periksa dulu dan bicara soal tanggal masuk.”
“Kalau tidak cocok?”
“Kita cari lagi.”
“Kalau cocok tapi ada yang jelek?”
“Kita lihat apakah bisa diperbaiki dan siapa yang memperbaiki.”
Ihsan mengangguk, lalu menaruh bantalnya di bangku depan warung. Sukma tidak memintanya menjaga bantal itu. Ia meletakkannya sendiri di sisi yang tidak terkena cipratan air.
Pemilik rumah datang lima menit kemudian dengan gantungan kunci dan seorang tukang yang membawa tas perkakas.
“Maaf terlambat. Tadi saya harus ambil kunci cadangan.”
“Tidak apa-apa,” kata Sukma. “Kami ingin lihat bagian dalam dan mencatat kondisi sebelum membahas uang.”
“Silakan.”
◆
Rumah itu lebih kecil daripada foto bagian depannya, tetapi tidak sesempit kamar yang pernah Sukma lihat. Ada satu ruang depan, satu kamar, dapur mungil, dan kamar mandi di belakang. Jendelanya membuka ke gang samping, bukan ke dinding rumah tetangga. Udara bergerak pelan ketika pintu depan dan jendela dibuka bersamaan.
Ihsan berdiri di ambang kamar. “Ini bisa jadi tempat tidurku?”
“Kalau kita pilih rumah ini, kamar ini untuk kita berdua,” kata Sukma. “Tempat tidurmu di sisi dekat jendela, tempat Ibu di sisi pintu.”
“Kalau aku mau dekat pintu?”
“Kita bisa atur kasurnya. Tapi jangan menutup jalan ke kamar mandi.”
Herman membantu mengukur jarak antara dinding dan lemari kecil yang ditinggalkan pemilik lama. Sukma mencatat ukurannya, lalu bertanya apakah lemari itu termasuk sewa atau akan diambil.
“Boleh dipakai. Kalau tidak mau, saya bisa keluarkan,” jawab pemilik rumah.
Mereka memeriksa kunci pintu depan. Sukma mengunci dan membukanya dari dalam, lalu mencoba kunci cadangan. Gagangnya agak longgar. Pemilik rumah meminta tukang mengencangkannya sebelum mereka membahas perjanjian.
Di kamar mandi, keran mengalir deras tetapi saluran lantai lambat. Sukma menuangkan sedikit air dari botol dan melihatnya menggenang.
“Ini harus dibersihkan,” kata tukang. “Mungkin ada rambut dan sisa sabun.”
“Bisa dibersihkan hari ini?”
“Bisa.”
Sukma mencatat. Ia tidak ingin menganggap masalah kecil akan hilang hanya karena seseorang berkata bisa.
Atap dapur diperiksa dari luar pada pagi itu, tetapi Sukma meminta melihat bagian dalam setelah tukang naik ke bangku dan membuka panel inspeksi. Tidak ada noda baru. Satu sudut tembok memiliki bekas lembap lama, kering saat disentuh. Pemilik rumah setuju menambahkan catatan bahwa mereka harus menghubungi jika noda muncul kembali.