Perjanjian rumah petak belum juga datang ketika malam pertama Sukma di penginapan tinggal dua hari lagi.
Ia sudah mengirim satu pesan kepada pemilik rumah pagi-pagi. Belum ada balasan. Siang, ia menelepon; pemiliknya berkata tukang belum menyelesaikan sambungan talang dan ia ingin memastikan atap tidak bocor setelah hujan.
“Saya tidak mau menjanjikan tanggal kalau belum yakin,” katanya.
Sukma menghargai kejujuran itu, tetapi kalender tidak ikut melonggar.
“Kalau serah terima mundur, kabari saya begitu tahu. Saya perlu mengatur tempat sementara.”
“Iya, Bu. Besok sore saya kabari.”
Telepon berakhir. Sukma membuka catatan biaya. Dua malam penginapan sudah dibayar dan tidak bisa dikembalikan. Jika rumah siap sesuai rencana, ia bisa menginap di sana setelah malam kedua. Jika tidak, ia harus membayar malam tambahan dengan harga lebih tinggi.
Ia menutup aplikasi sebelum mulai menghitung kemungkinan paling buruk berulang kali.
Hari Sabtu, Herman menjemput Ihsan pukul sembilan. Anak itu membawa bantal daun, folder gambar, dan tas pakaian kecil. Jadwal dua minggu sementara dimulai malam itu, bukan sehari sebelumnya. Herman sudah mengirim foto tempat tidur dan seprai polos yang dipilih Ihsan.
Sukma memeriksa isi tas bersama anaknya: obat alergi, seragam, buku, sikat gigi, dan piyama. Ia tidak mengemas seluruh barang Ihsan.
“Kalau aku lupa sesuatu?” tanya Ihsan.
“Kamu bisa telepon. Kalau barangnya penting, kita cari cara mengambilnya. Kalau tidak mendesak, bisa menunggu hari Rabu.”
“Aku lupa batu keberuntungan.”
Ihsan membuka tas, mengeluarkan batu kecil dari kantong jaket, lalu memasukkannya ke saku ransel.
“Sekarang sudah.”
Herman menunggu di ruang depan. “Sabtu depan kita evaluasi, seperti yang sudah dibicarakan.”
“Dan Rabu malam makan soto,” kata Sukma.
“Tidak boleh diganti mi,” tambah Ihsan.
“Baik,” kata Herman. “Soto.”
Sukma ingin bertanya apakah Ihsan benar-benar siap. Namun mereka sudah membicarakannya, dan bertanya lagi hanya akan membuat anak itu bertugas menenangkan kecemasannya.
Ia merapatkan Ihsan ke dadanya setelah anak itu lebih dulu merentangkan tangan. “Ibu akan menghubungi kamu malam ini. Kalau kamu sudah tidur, besok pagi juga boleh.”
“Jangan lupa.”
“Ibu pasang pengingat.”
Herman mengangkat tas. “Aku akan kabari setelah kami sampai.”
Sukma mengangguk. “Terima kasih.”
Ihsan melambaikan tangan dari depan mobil. Sukma membalas sampai kendaraan bergerak keluar dari gang.
Rumah petak yang belum tentu siap menunggu di ujung kalender. Malam itu, untuk pertama kali sejak kontrakan kosong, tak ada tas Ihsan di dekatnya.
◆
Sukma mengirim pesan kepada Mirah sebelum jam kerja berakhir.
Pemilik petak belum memastikan tanggal masuk. Aku sudah bayar penginapan dua malam. Kalau terlambat satu atau dua malam, apakah ada kemungkinan aku meminta satu malam tambahan di sofa? Tidak perlu dijawab sebelum Hilman setuju. Kalau tidak bisa, aku atur pilihan lain.
Ia membaca ulang pesan tersebut. Batasnya jelas: satu malam tambahan, bukan permintaan untuk tinggal tanpa tanggal. Ia menekan kirim.
Balasan Mirah datang setelah makan malam.
Aku tanya Hilman. Besok kami pastikan. Ibuku mungkin kontrol hari Senin, jadi belum tahu beliau pulang atau menginap.
Sukma menjawab, Baik. Terima kasih sudah cek. Aku tetap menyiapkan penginapan sebagai pilihan.
Kali ini ia tidak menganggap pertanyaan sebagai jaminan. Ia mencari penginapan lain yang bisa dibayar per malam, memeriksa ulasan terbaru, jarak ke kantor, keamanan pintu, serta biaya transportasi. Tempat paling murah berada dekat terminal dan memiliki beberapa keluhan soal pintu kamar yang tidak bisa dikunci dari dalam. Ia mencoret pilihan itu.