Salinan perjanjian datang pukul sembilan pagi.
Sukma membukanya di meja Mirah, sementara segelas teh yang dibuatnya sendiri mendingin di sebelah siku. Namanya tercetak benar. Alamat rumah petak sesuai. Masa sewa dimulai hari itu, walaupun barang-barang belum bisa dipindahkan sampai sore setelah pemilik lama mengambil lemari.
Ia membaca lagi bagian uang jaminan, daftar kondisi awal, biaya listrik, serta izin Ihsan tinggal bersamanya. Kali ini ada lampiran foto keran, jendela, dinding lembap, talang, dan kunci. Di bawahnya ada ruang tanda tangan kedua pihak.
Satu baris masih berbeda dari pembicaraan kemarin. Pemilik menulis bahwa jaminan akan dipotong untuk kerusakan yang “dianggap melebihi pemakaian wajar,” tanpa menyebut siapa yang menilai.
Sukma menandai baris itu dan mengirim pertanyaan. Ia tidak menandatangani terlebih dahulu agar pembicaraan lebih cepat.
Balasan datang sepuluh menit kemudian.
Ibu benar. Kita catat bersama saat serah terima dan foto kondisi awal. Kerusakan yang muncul karena bangunan saya perbaiki; kerusakan karena pemakaian penyewa dipotong dari jaminan dengan bukti.
Sukma meminta kalimat itu dimasukkan ke perjanjian, bukan sekadar pesan. Pemilik setuju dan mengirim salinan baru.
Ia membaca ulang dari awal.
“Belum transfer?” tanya Mirah sambil menyiapkan kotak makan.
“Belum. Ada satu perubahan.”
“Sudah dibetulkan?”
“Sudah masuk di salinan baru. Aku cek dulu.”
Mirah mengangguk. “Bagus.”
Sukma membandingkan nomor rekening dengan kartu identitas yang pernah ia foto dengan izin pemilik. Nama dan angka cocok. Ia memisahkan dana sewa pertama serta jaminan dari rekening tempat tinggal, lalu mengirim jumlah sesuai perjanjian.
Setelah transfer berhasil, ia menyimpan bukti di map dokumen dan mengirim salinannya kepada pemilik.
Pemilik mengonfirmasi penerimaan uang dan menandatangani salinan perjanjian. Sukma menyimpan versi bertanda tangan di map, memotret halaman yang mencantumkan tanggal masuk, dan mengirim pesan singkat kepada Herman bahwa pembayaran selesai.
Rumah itu belum menjadi rumahnya sepenuhnya. Namun sekarang ada kontrak yang menyebut dirinya sebagai penyewa dan Ihsan sebagai anak yang boleh tinggal.
Ia juga menelepon pemilik lama untuk memastikan waktu pengembalian sebagian uang jaminan kontrakan. Transfer sudah masuk pagi itu, tetapi ia ingin tahu apakah ada kuitansi atau tanda terima tambahan yang perlu ditandatangani.
“Sudah saya kirimkan rinciannya, Bu,” jawab pemilik lama. “Tidak ada potongan lain.”
Sukma membuka bukti transfer dan membaca jumlahnya lagi. Angka itu sesuai dengan perhitungan akhir yang mereka sepakati.
“Baik. Terima kasih. Saya simpan bukti dan kuitansi serah terima.”
Setelah telepon ditutup, ia memindahkan uang yang kembali itu ke rekening pegangan, bukan langsung menggunakannya untuk belanja. Dana tersebut tidak besar, tetapi dapat menutup biaya listrik awal, ongkos pindah, atau kebutuhan yang muncul setelah mereka tinggal.
Sukma menulis jumlahnya di buku anggaran. Lalu ia menutup buku itu sebelum mulai memikirkan semua kemungkinan sekaligus.
Mereka belum pindah. Belum ada kasur di lantai baru, belum ada panci di dapur, dan belum ada rutinitas yang bisa disebut milik mereka. Namun setidaknya biaya masuk, jaminan, uang yang kembali, serta pengeluaran berikutnya tidak bercampur menjadi satu angka yang kabur.
Sukma menyiapkan daftar barang yang harus dijemput dari tempat percetakan: pakaian, perlengkapan dapur dasar, lampu kecil, dan gambar-gambar Ihsan. Kipas tua Darma dan piring saji Yati tidak ikut. Barang-barang itu sudah punya pemilik dan tujuan sendiri.
Sebelum berangkat sore itu, Sukma mengemas tas untuk dua malam terakhir di penginapan. Ia memasukkan kuitansi kontrakan lama, salinan perjanjian baru, obat Ihsan, dan satu baju ganti. Koper besar masih berada di tempat percetakan; ia tidak ingin mengangkutnya sebelum rumah benar-benar diserahkan.
Mirah berdiri di ambang ruang tengah. “Kamu bisa meninggalkan tas di sini setelah lihat rumah, kalau perlu.”