Truk datang pukul delapan lewat dua puluh, dua puluh menit setelah waktu yang dijanjikan.
Sukma sudah berdiri di depan rumah petak dengan kunci di tangan dan termos berisi air. Herman datang tepat waktu. Ihsan menyusul dengan tas yang kali ini lebih ringan daripada saat ia pergi menginap.
“Masih ada barang yang belum dibawa?” tanya Herman.
“Beberapa kardus di percetakan. Yang besar bisa menyusul. Hari ini kasur, lemari kecil, peralatan dapur, dan pakaian.”
Sukma menunjukkan daftar. Ia sudah menandai setiap barang dengan nama pemiliknya. Kipas Darma tidak ada di sana. Piring saji Yati juga tidak. Dua sendok hijau milik Sukma terselip dalam bungkusan kain.
Pekerja truk menurunkan kasur lipat, lemari plastik, dan kardus dapur. Mereka meminta Sukma menunjukkan kamar dan menunggu instruksi. Ruang itu segera terasa lebih kecil daripada ketika kosong.
Ihsan berdiri di tengah kamar, memandang kasur dan lemari. “Kasurku di sebelah jendela, kan?”
“Kita ukur lagi setelah lemari masuk,” kata Sukma.
“Kalau lemari di sini, kasur nggak muat.”
Mereka menggeser lemari ke dinding yang berseberangan. Kasur muat, tetapi menyisakan jalan sempit menuju pintu. Sukma mengambil pita ukur. Herman menahan salah satu sisi lemari, sementara Ihsan menjaga agar kotak pensil tidak jatuh dari atas.
“Kalau kasur digeser begini, masih bisa buka lemari,” kata Ihsan.
“Benar. Tapi pintu kamar mandi harus tetap bisa terbuka penuh.”
Mereka mencoba dua susunan. Akhirnya kasur ditempatkan memanjang di sisi jendela, sementara lemari berada dekat pintu. Sukma mengeluarkan buku catatan dan menggambar letaknya, bukan karena takut lupa, melainkan agar mereka berdua bisa mengubahnya lagi nanti.
“Tempat tidurku di mana?” tanya Ihsan.
“Kamu pilih sisi jendela atau sisi pintu.”
“Jendela.”
“Baik. Ibu di sisi pintu.”
Ihsan membuka satu laci lemari. “Laci atas buat pensilku.”
Sukma memegang laci kedua yang kosong. “Ibu perlu satu laci untuk dokumen kerja dan baju kantor. Kamu bisa pakai dua laci bawah.”
“Kenapa nggak semua buat aku?”
“Karena kita tinggal berdua. Kita perlu berbagi ruang.”
Ihsan mengerutkan hidung. “Aku mau laci yang dekat jendela.”
“Kalau begitu kita tukar. Ibu pakai laci bawah, kamu yang dekat jendela.”
“Semua laci dekat jendela?”
“Tidak. Dua laci untukmu, dua untuk Ibu.”
Ihsan memandang kotak pensil dan buku gambar yang masih bertumpuk. “Aku mau rak kecil buat semua gambar.”
“Kita belum punya rak.”
“Beli saja.”
Sukma melirik catatan biaya yang ditempel di sisi kulkas. “Bulan ini belum. Kita pakai map dan kardus datar dulu. Kalau gambar-gambarnya sudah terlalu banyak, kita cari rak bekas.”
“Tapi aku nggak mau gambarku ketindih.”
“Kita pilih satu tempat yang aman. Kamu bisa susun sendiri, tapi jangan menaruhnya di atas lemari.”
Ihsan tampak hendak menawar, lalu memilih dua laci bawah dan memasukkan pensil, buku gambar, serta tiga kaus. Sukma mengambil laci paling atas untuk dokumen kerja dan satu tumpuk baju kantor. Mereka tidak mendapat ruang sebanyak yang diinginkan, tetapi menemukan cara agar gambar Ihsan tidak tertindih dan barang kerja Sukma tetap terlindung.
“Kalau nanti kita beli rak, aku yang pilih?”
“Kita pilih bersama.”
Ihsan menerima jawaban itu. Ia menaruh folder gambar di atas lemari kecil, mendatar dan jauh dari tepi.
◆
Herman mengeluarkan lampu kecil dari tas. Sukma membersihkan bagian dinding dekat lantai dengan kain kering. Mereka memasang lampu itu di dekat jalur menuju kamar mandi, di luar jangkauan air dan tidak menutup pintu.