Hari Rabu pertama setelah Ihsan mulai tinggal sementara dengan Herman, Sukma tiba di warung soto pukul enam kurang sepuluh.
Ia sudah menyelesaikan pekerjaan, mencuci tangan di kantor, dan naik angkot yang sama seperti saat memeriksa rute sekolah. Perjalanan memakan waktu lebih lama karena hujan sebentar. Ia mengirim pesan kepada Herman dari halte: Aku terlambat sekitar sepuluh menit. Kalian pesan dulu kalau lapar.
Herman membalas: Kami tunggu. Ihsan sedang memilih kerupuk.
Ketika Sukma sampai, Ihsan duduk di bangku panjang dengan seragam sekolah yang sudah diganti kaus. Di hadapannya ada semangkuk soto dan satu piring kecil kerupuk. Herman sedang membayar minuman.
“Ibu datang,” kata Ihsan.
“Aku bilang akan datang.” Sukma duduk di sampingnya. “Perjalananmu dari sekolah lancar?”
“Angkot penuh. Ayah berdiri.”
“Besok kalau penuh lagi, kita coba berangkat lebih awal,” kata Herman. “Aku antar seperti yang sudah kita bicarakan.”
“Setiap hari?” tanya Sukma.
“Senin dan Rabu dulu. Selasa, Kamis, Jumat kita uji rute dari rumah. Kalau tidak bisa, kita atur ulang.”
Sukma membuka catatan di ponselnya. “Hari ini kamu terlambat tiga menit?”
“Dua menit,” kata Ihsan. “Belum tiga.”
Herman tertawa. “Guru sudah menutup pintu. Dua menit tetap terlambat.”
“Besok kita keluar lima belas menit lebih awal,” kata Sukma. “Kalau berhasil dua kali, baru kita anggap jadwalnya cukup.”
Herman mengangguk. “Aku bisa mulai lebih pagi. Tapi Senin depan aku harus masuk lebih awal untuk rapat. Hari itu aku tidak bisa antar.”
Sukma berhenti sebelum menjawab otomatis, Tidak apa-apa, aku akan atur. Ia membuka kalender kerja dan jadwal angkot yang sudah dicatat.
“Senin depan aku tidak bisa berangkat lebih pagi karena ada laporan bulanan. Kalau kamu tidak bisa, kita perlu pilihan lain.”
“Aku bisa minta ibuku menjemput dari rumahku dan mengantar Ihsan,” kata Herman. “Tapi aku perlu tanya dulu. Kalau beliau tidak bisa, kita cari antar jemput sehari.”
“Bisa kabari paling lambat Jumat?”
“Bisa.”
Sukma menuliskan batas waktu itu. Ia tidak menawarkan menelepon ibu Herman. Perjalanan sekolah Ihsan adalah urusan orang tuanya, bukan tugas Sukma seorang diri.
Herman meletakkan tiga gelas teh di meja. “Aku akan kabari.”
“Terima kasih.”
Ihsan mendorong piring kerupuk ke tengah. “Aku sudah sisakan yang tidak pedas.”
Sukma mengambil satu. Mereka makan bersama, membicarakan soal matematika Ihsan, gambar mobil terbang yang ingin ia selesaikan, dan harga buku cerita di toko dekat sekolah. Percakapan itu biasa. Tidak ada seorang pun meminta mereka menggunakan satu jam tersebut untuk membuktikan bahwa pengaturan tinggal sementara berjalan.