Pada Sabtu sore, Ihsan kembali ke rumah petak setelah dua minggu tinggal bersama Herman.
Ia meletakkan tas di lantai, mengeluarkan bantal daun, lalu membuka laci miliknya untuk mengembalikan pensil hijau. Sukma sedang menyiapkan air minum di dapur.
“Besok aku tidur di sini?” tanya Ihsan.
“Kalau jadwalnya begitu, iya. Minggu malam kita telepon Ayah untuk memastikan rencana pekan berikutnya.”
“Kalau aku mau di rumah Ayah satu malam lagi?”
“Kamu boleh bilang. Kami bicarakan jadwalnya bersama, bukan memutuskan diam-diam.”
Ihsan mengangguk. Ia bercerita tentang tugas menggambar denah rumah dan teman baru yang duduk dekat jendela di mobil antar jemput. Sukma mendengarkan sambil memotong buah. Ia tidak bertanya apakah Ihsan lebih suka rumah Ayah atau rumah Ibu.
Setelah makan, mereka menempelkan gambar lampu lorong di dinding dekat kamar mandi. Gambar itu miring sedikit. Ihsan ingin meluruskan; Sukma menahan selotip, dan mereka memperbaikinya bersama.
“Sekarang rumah ini punya gambar,” kata Ihsan.
“Dan jadwal makan soto,” kata Sukma.
“Kalau warungnya buka.”
“Kalau tutup, soto lain.”
Ihsan tersenyum. Malam itu ia tidur di sisi dekat jendela. Sukma membaca dua halaman buku planet untuknya, lalu membiarkan lampu kecil menyala sampai anak itu tertidur.
Minggu pagi, Herman menjemput sesuai jadwal. Ihsan membawa tas kecil dan menggambar mobil terbang sambil menunggu di depan pintu.
“Rabu tetap soto?” tanyanya.
“Rabu tetap,” kata Sukma.
“Jangan lupa pensil hijau.”
“Sudah masuk tas gambar.”
Ihsan melambaikan tangan sebelum masuk mobil. Sukma membalas, kemudian kembali ke rumah.
Ia menutup pintu dan memutar kunci. Kliknya tetap sama seperti hari pertama. Kali ini, tidak ada suara orang mencari gelas atau menanyakan letak seragam. Hanya kulkas yang berdengung dan air yang menetes sebentar dari keran.
Sukma berdiri di ruang tengah tanpa bergerak.