Pukul tujuh malam, Sukma menelepon Yati seperti yang sudah dijanjikan.
Ibunya menjawab setelah dering kedua. Di belakang suaranya terdengar televisi dan bunyi piring diletakkan di meja.
“Ibu mau tanya sesuatu,” kata Yati. “Kran dapur di rumah Bibi bocor sedikit. Bibi bilang nanti dipanggilkan tukang, tapi Ibu takut airnya merembes ke lemari.”
Sukma menutup buku gambar. “Ibu mau aku dengarkan dulu, atau bantu cari tukang?”
“Kalau bisa, bantu cari tukang yang tidak mahal.”
“Bisa. Aku punya nomor tukang yang pernah memperbaiki keran di kontrakan. Aku kirim ke Ibu. Tapi Ibu yang menghubungi dan mengatur jamnya, ya.”
Yati diam sejenak. “Kenapa Ibu yang harus telepon?”
“Karena Ibu ada di rumah dan bisa jelaskan bocornya seperti apa. Aku bisa bantu kalau tukangnya perlu alamat atau rincian lain.”
“Biasanya kamu yang telepon.”
“Biasanya aku yang mengurus semuanya sampai selesai.”
“Sekarang Ibu merepotkan?”
Sukma menarik napas. “Bukan begitu. Aku ingin membantu tanpa mengambil alih semua urusan.”
Yati bercerita bahwa ia sudah mencoba mengencangkan sambungan dengan kain, tetapi tetesan tetap muncul. Lemari di bawah bak cuci mulai lembap. Sukma bertanya apakah airnya menetes deras atau hanya sesekali. Yati menjawab satu tetes setiap beberapa menit.
“Matikan keran kecil di bawah bak kalau ada,” kata Sukma. “Jangan pakai tenaga besar. Kalau tidak bisa, minta Bibi melihat dulu. Aku kirim nomor tukangnya sekarang.”
“Apa kamu bisa datang besok?”
Sukma melihat jadwal kerja. Besok ada laporan bulanan. Ia bisa izin setengah hari, tetapi kemudian harus mengulang pola lama: perjalanan ke rumah Bibi, menunggu tukang, memastikan pembayaran, pulang malam, lalu mengerjakan laporan setelahnya.
“Besok aku tidak bisa datang,” katanya. “Aku bisa menelepon setelah kerja kalau Ibu ingin cerita bagaimana hasilnya. Tukangnya bisa datang Kamis sore atau Jumat pagi. Ibu pilih waktu yang cocok dengan Bibi.”
Yati menghela napas. “Ibu pikir kamu bisa.”
“Aku tahu Ibu berharap aku datang. Tapi besok aku tidak bisa.”
“Kalau Bibi tidak ada, siapa yang buka pintu?”
“Bibi tinggal di sana. Ibu bisa tanya jadwalnya. Kalau tidak ada yang bisa, tukang itu mungkin punya waktu lain.”
Sukma mengirim nomor, nama tukang, dan pesan singkat bahwa Yati akan menghubunginya. Ia tidak meneruskan alamat tanpa izin ibunya dan tidak menelepon tukang menggantikan Yati.
“Sudah kukirim,” katanya. “Nomornya tersimpan?”
“Sudah.”
“Kalau Ibu kesulitan menjelaskan, Ibu bisa kirim foto sambungan keran. Aku bantu lihat, tapi aku mungkin tidak tahu pasti dari foto.”
“Baik.”
Percakapan berhenti sejenak. Sukma mendengar ibunya menarik kursi.
“Ibu sebenarnya bukan cuma mau tanya soal keran,” kata Yati akhirnya.
Sukma menunggu.