Brosur itu terselip di antara map garansi kipas angin dan buku catatan sekolah Ihsan.
Sukma menemukannya ketika mencari kartu vaksin untuk formulir sekolah. Kertasnya telah menguning di bagian lipatan. Di sampul tertulis nama sebuah kampus yang masih membuka kelas malam untuk program administrasi bisnis.
Ia duduk di lantai, memegang brosur dengan kedua tangan. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia menghitung jarak dari rumah ke kampus itu. Dulu ia pernah menggambar rute angkot di pinggir halaman, menuliskan jadwal kelas, biaya semester, dan perkiraan uang makan.
Di halaman belakang masih ada catatan kecil dengan tulisan tangannya yang lebih bulat: Tanya jadwal penerimaan. Simpan sedikit tiap bulan. Jangan berhenti hanya karena takut terlambat.
Di bawah tulisan itu ada gambar kotak-kotak kalender dan satu angka yang telah dicoret. Sukma tidak ingat apakah angka itu biaya pendaftaran atau jumlah tabungan yang pernah ia sisihkan. Ia mengenali garis pensil yang ditekan terlalu kuat ketika menulisnya.
Di bagian lipatan, selembar kertas kecil terselip: fotokopi ijazah, daftar dokumen, dan alamat kantor penerimaan yang dulu pernah ia tulis sendiri. Beberapa informasi sudah tidak berlaku. Namun tulisan tangan itu menunjukkan bahwa ia pernah mengurus langkah pertama, bukan sekadar bermimpi sambil menunggu seseorang memberi izin.
Sukma duduk di lantai dan membentangkan semuanya. Brosur lama, peta perjalanan, daftar biaya, dan jadwal kelas membentuk peta kecil tentang perempuan yang pernah berusaha membuka jalan. Ia merasakan sayang kepada dirinya yang dulu, sekaligus malu karena begitu lama menyimpan semua ini.
Ia tidak merasa kembali menjadi perempuan dua puluh tiga tahun. Ia hanya sedang duduk di rumah petak yang sudah bisa dikunci, dengan tagihan sewa yang harus dibayar setiap bulan dan seorang anak yang akan kembali dari rumah ayahnya malam nanti.
Kebutuhan lama tidak hilang. Tetapi ia bisa mencoba menempatkannya di kalender, bukan hanya di kotak yang jarang dibuka.
◆
Pukul dua belas siang, Sukma membuka laman kampus lewat ponsel. Program malamnya masih ada, tetapi nama jurusannya berubah. Biaya pendaftaran tercantum; biaya semester harus ditanyakan ke bagian penerimaan. Ada kelas yang berlangsung tiga malam seminggu, ada pilihan campuran dengan beberapa pertemuan daring.
Ia mencatat pertanyaan di buku: apakah kelas malam masih menerima mahasiswa baru, apa syarat ijazah dan berkas, apakah ada pengakuan pengalaman kerja, berapa biaya yang harus dibayar saat daftar, apakah jadwal dapat berubah setiap semester.
Pada bagian persyaratan, ia menemukan informasi tentang dokumen yang belum ia perbarui sejak pindah. Ia bisa mengurusnya, tetapi tidak hari itu. Ia menulis tugas itu untuk minggu berikutnya, bukan malam ini.
Panggilan telepon ke kampus membutuhkan waktu menunggu. Saat akhirnya dijawab, suara petugas terdengar sibuk tetapi ramah.
“Saya ingin bertanya soal kelas malam untuk tahun ajaran berikutnya,” kata Sukma. “Saya belum mendaftar. Saya sedang mengumpulkan informasi dulu.”
Petugas menjelaskan jadwal pendaftaran, dokumen yang perlu disiapkan, dan bahwa biaya semester dapat berbeda tergantung jumlah mata kuliah. Kelas malam biasanya tiga hari seminggu, tetapi jadwal resmi baru keluar setelah penerimaan. Ada opsi konsultasi untuk calon mahasiswa yang bekerja.