Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #36

Bab 36 — Ada Tempat untuk Pulang

Tiga bulan setelah menerima kunci, Sukma sudah tahu jendela mana yang harus didorong sedikit lebih keras agar kaitnya pas.

Ia juga tahu dinding lembap di sudut dapur belum bertambah gelap sejak hujan pertama. Pemilik rumah telah memeriksanya dan mengganti lapisan cat yang mengelupas. Sukma menyimpan foto sebelum-sesudah di folder kontrak, bukan karena mengharapkan masalah, melainkan karena ia ingin punya bukti jika masalah datang.

Pagi itu ia menanak nasi sambil menyimak rekaman suara dari Herman tentang jadwal sekolah Ihsan. Dua minggu terakhir, rute angkot berjalan lebih baik setelah mereka maju lima belas menit. Pada Senin dan Rabu, Herman tetap mengantar. Hari lain, Sukma menemani Ihsan naik angkot. Mereka meninjau ulang jadwal sebulan sekali, tanpa menjadikan satu keterlambatan sebagai bukti bahwa sistemnya gagal.

Ihsan keluar kamar dengan rambut yang masih berdiri di belakang.

“Bu, bekalku mana?”

“Di meja. Kamu yang pilih lauknya.”

Ia membuka kotak makan dan menemukan telur dadar, nasi, serta irisan mentimun. “Aku mau tomat.”

“Tomatnya habis. Besok kita beli.”

Ihsan menghela napas, tetapi memasukkan bekal ke tas. Ia telah belajar bahwa rumah baru tidak selalu menyediakan semua yang ia inginkan, dan Sukma telah belajar bahwa jawaban tidak harus disampaikan dengan daftar panjang alasan.

Di dinding, gambar rumah yang dibuat Ihsan masih sedikit miring. Kursi kecil di sudutnya juga miring. Sukma pernah hampir meluruskannya, lalu berhenti.

◆

Setelah mengantar Ihsan ke sekolah, Sukma membuka aplikasi bank. Ada tiga pos yang kini ia isi sedikit demi sedikit: sewa dan kebutuhan rumah, sekolah Ihsan, serta dana studi.

Dana studi belum besar. Ia juga belum mendaftar. Sebulan lalu ia mengikuti konsultasi informasi kampus, membawa daftar pertanyaan yang sudah disiapkan. Program malam masih mungkin, tetapi jadwal tetap baru diumumkan setelah pendaftaran. Biaya per semester bergantung pada jumlah mata kuliah; ia harus memastikan pengaturan kerja dan pengasuhan sebelum mengambil keputusan.

Dari konsultasi itu, Sukma meminta satu salinan kurikulum dan menghubungi bagian penerimaan untuk memeriksa dokumen yang perlu diperbarui. Ia belum membeli seragam, belum mengisi formulir, dan belum memberi tahu keluarga seolah-olah semuanya pasti. Langkah yang sudah ia ambil adalah langkah kecil, tetapi nyata: ia memberi waktu dan uang untuk mencari tahu apakah jalan itu masih bisa ditempuh.

Pada kalender, satu malam konsultasi lanjutan diberi lingkaran biru. Malam lain dibiarkan kosong untuk melihat jadwal kerja setelah proyek bulanan selesai.

Telepon bergetar. Pesan dari Yati: foto tanaman cabai yang kini bertunas kecil di rumah Bibi. Kalender dapur yang tergantung miring ikut terlihat di latar.

Cabainya tumbuh lagi. Kalendernya masih aman.

Sukma menjawab: Bagus, Bu. Jangan dipindah kalau sudah nyaman.

Yati membalas dengan foto lebih dekat, seolah Sukma perlu bukti bahwa ada tiga daun baru. Ia mengirim tanda jempol. Tidak ada permintaan uang atau tugas mendadak. Mereka akan makan siang bersama Minggu depan, sesuai rencana yang telah disepakati beberapa hari sebelumnya.

Darma mengirim pesan terpisah tentang kipas milik ayah mereka. Kipas itu sempat diperbaiki, lalu kembali mengeluarkan suara seperti sendok di kaleng. Darma telah memutuskan untuk tidak membawanya ke tempat tinggal berikutnya. Ia mengirim foto kipas yang sudah dibersihkan dan bertanya apakah Sukma mau menyimpan satu baut yang masih bagus.

Sukma menjawab bahwa baut itu boleh dibuang bersama kipas jika tak ada gunanya. Darma mengirim gambar wajah kecewa yang dibuat-buat, lalu menulis bahwa ia akan menyimpan satu foto ayah yang dulu memakai kipas itu.

Sukma membalas: Simpan sendiri. Jangan dititipkan di kotak yang tidak jelas pemiliknya.

Darma mengirim tanda jempol. Ia tak tersinggung. Batas mereka kini kadang terdengar seperti candaan, karena keputusan-keputusan kecil telah dibuat berulang kali.

Lihat selengkapnya