IBUKU ATAU IBU ANAKKU

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Sang Putra Tunggal

Aris memutar-mutar cincin kawin di jari manisnya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa terhimpit oleh ekspektasi. Di ruang tamu yang megah dan beraroma kayu cendana itu, ia merasa seperti pajangan mahal yang tidak punya hak suara. Ayahnya, seorang pengusaha sukses yang lebih sering bicara lewat angka, hanya diam di balik koran paginya, membiarkan sang istri memegang kendali penuh atas dinamika rumah tangga mereka yang tampak sempurna dari luar.

Dr. Ratna, sang ibu yang reputasinya sebagai dokter spesialis bedah tersohor tak perlu diragukan lagi, sedang sibuk menata letak cangkir porselen dengan presisi yang menakutkan. "Aris, Ibu sudah menjadwalkan pertemuan dengan kolega Ibu minggu depan. Putrinya baru saja menyelesaikan studi di London," ucapnya tanpa menoleh, dengan nada bicara yang datar namun mengandung otoritas yang mustahil untuk didebat oleh siapa pun di ruangan itu.

Bagi Aris, suara ibunya bukan sekadar saran, melainkan sebuah cetak biru kehidupan yang wajib ia ikuti tanpa celah sedikit pun. Sejak kecil, setiap langkah kaki dan pilihan pendidikannya telah dikurasi dengan sangat teliti oleh tangan dingin sang dokter, seolah Aris adalah pasien yang harus disembuhkan dari ketidakmampuan memilih. Ia tumbuh dalam kelimpahan materi, namun jiwanya sering kali merasa kering karena tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas nasibnya sendiri.

Ia menarik napas panjang, mencoba mencari celah untuk menyebut nama Laras, wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan kesederhanaan yang jujur. Namun, setiap kali ia ingin bersuara, bayangan prestasi ibunya yang menjulang tinggi seolah membungkam lidahnya seketika. Aris sangat menyadari bahwa di mata ibunya, kebahagiaan adalah masalah strata sosial dan kesetaraan gelar, bukan tentang getaran hati yang ia temukan pada sosok Laras yang mandiri.

Dominasi Dr. Ratna meresap hingga ke hal-hal terkecil, menciptakan sebuah sangkar emas yang membuat Aris merasa kecil meskipun ia sudah dewasa secara usia. Ia sering kali hanya bisa mengangguk pelan, sebuah keputusan bias yang selalu ia ambil demi menghindari konflik terbuka yang melelahkan dengan wanita yang telah melahirkannya. Aris terjebak dalam sebuah labirin pengabdian yang keliru, di mana rasa hormat kepada orang tua perlahan-lahan mulai mengikis jati dirinya sebagai seorang laki-laki.

Di balik kemapanan yang dipamerkan keluarga itu, tersimpan sebuah ketegangan yang siap meledak kapan saja ketika cinta sejatinya berbenturan dengan ego sang ibu. Aris tahu bahwa cepat atau lambat, ia harus memilih antara tetap menjadi anak yang penurut atau menjadi pria yang memperjuangkan masa depannya sendiri. Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa menunduk sambil terus memutar cincin di jarinya, menunggu saat yang tepat untuk melepaskan diri dari bayang-bayang yang menyesakkan itu.

Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca besar tidak mampu menghangatkan suasana dingin yang sengaja diciptakan oleh aturan-aturan tak tertulis di rumah tersebut. Dr. Ratna kembali menyesap tehnya, memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan karena merasa putra tunggalnya masih berada dalam genggaman kendalinya yang sangat kuat. Aris menatap keluar jendela, membayangkan wajah Laras yang tersenyum, menyadari bahwa badai besar dalam hidupnya baru saja dimulai hari ini.

Aris mematung di depan cermin besar berbingkai emas, jemarinya yang gemetar berkali-kali gagal menyimpul kain sutra di lehernya. Aroma parfum mahal milik ibunya, Dr.

Ratna, tercium tajam bahkan sebelum sosok wanita itu muncul di ambang pintu kamar. Setiap langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa kemandirian Aris yang kian menipis.

"Aris, pakai dasi yang Ibu pilihkan, warnanya jauh lebih berwibawa daripada pilihanmu yang pucat itu," suara Dr. Ratna menggema dengan nada perintah yang tak terbantahkan. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah maju dan menyentak ujung kerah kemeja Aris, mengambil alih simpul dasi tersebut dengan gerakan yang efisien namun terasa mencekik bagi putranya yang kini hanya bisa menahan napas.

Di ruang tengah, Pak Baskoro tetap bersembunyi di balik lembaran koran pagi yang lebar, pura-pura asyik membaca bursa saham meski tangannya sedikit bergetar. Ia telah lama memilih jalan sunyi untuk menghindari badai ego istrinya, sebuah sikap pasif yang justru menjadi luka bagi Aris karena merasa tidak pernah memiliki pembela. Dominasi ini telah menjadi udara pengap yang dipaksa Aris hirup di dalam istana mewah mereka.

Kehadiran Laras di hidup Aris awalnya adalah satu-satunya jendela tempat ia bisa melihat dunia luar yang lebih berwarna dan bebas. Laras hanyalah seorang guru honorer yang tinggal di kontrakan sempit, namun kemandiriannya membuat Aris merasa menjadi pria seutuhnya tanpa bayang-bayang gelar dokter ibunya. Sayangnya, bagi Dr. Ratna, kehadiran wanita sederhana seperti Laras adalah noda dalam silsilah keluarga mereka yang terpandang.

Ketegangan memuncak saat Aris memutuskan untuk membawa Laras ke acara makan malam keluarga demi memperkenalkan calon istrinya secara resmi. Dr. Ratna bahkan tidak sudi meletakkan sendok peraknya, ia hanya menatap Laras dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang menghakimi. "Pendidikanmu mungkin cukup, tapi strata sosial tidak bisa dibeli dengan ijazah guru," sindir Dr. Ratna dengan senyum dingin.

Meski tanpa restu yang tulus, Aris akhirnya tetap menikahi Laras, sebuah keputusan paling berani yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya. Namun, pernikahan itu tidak membawa kedamaian karena ibunya terus mencampuri urusan rumah tangga mereka, mulai dari pemilihan perabot hingga cara mengasuh anak. Aris sering kali terjebak dalam keheningan yang menyiksa, memilih memendam keluh kesah Laras demi menjaga martabat ibunya.

Tahun-tahun berlalu, dan kehadiran dua anak laki-laki yang lucu tetap gagal meluluhkan hati Dr. Ratna yang masih menyimpan dendam atas pilihan Aris. Kesalahpahaman sering kali meledak hanya karena hal sepele, seperti saat Laras lupa memberitahu menu makan siang anak-anak pada mertuanya. Aris yang lelah bekerja sering kali hanya bisa memijat pelipisnya, merasa jiwanya terbelah menjadi dua bagian yang saling menarik.

Suatu sore di rumah sakit tempat Dr. Ratna bekerja, sebuah konflik besar pecah ketika Laras dituduh mengabaikan kesehatan anak-anak oleh mertuanya di depan banyak perawat. Aris berdiri di tengah lorong yang dingin, menatap ibunya yang murka dan istrinya yang terisak pelan dengan mata memerah. "Pilih Aris, istrimu yang tidak kompeten ini atau ibumu yang sudah membesarkanmu dengan darah?" tantang Dr. Ratna.

Lihat selengkapnya