IBUKU ATAU IBU ANAKKU

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Restu yang Terhalang

Dr. Ratna menyesap teh melatinya dengan gerakan yang begitu presisi, seolah setiap denting sendok perak yang beradu dengan porselen adalah sebuah vonis. Matanya yang tajam, terbiasa membedah anatomi pasien, kini menyapu sosok Laras yang duduk kaku di sofa beludru ruang tamu. Ruangan itu terasa pengap oleh aroma lilin aromaterapi mahal yang justru membuat Laras merasa tercekik, seolah oksigen di sana hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki gelar di depan namanya.

Tangan Dr. Ratna yang selalu tenang saat memegang pisau bedah kini beralih merapikan letak bros emas di dadanya, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan sebelum meluncurkan serangan verbal. Ia tidak pernah meninggikan suara, namun setiap kata yang keluar memiliki ritme yang dingin dan menusuk, khas seorang wanita yang tidak terbiasa dibantah. Baginya, kehadiran Laras di rumah ini bukan sekadar tamu, melainkan anomali dalam struktur keluarga yang telah ia bangun dengan fondasi prestise dan kekayaan selama puluhan tahun.

"Aris itu investasi terbaik saya, Laras, bukan sekadar anak yang bisa kamu miliki tanpa kontribusi," ucap Dr. Ratna sambil meletakkan cangkirnya tanpa suara sedikit pun. Ia mencondongkan tubuh, membuat jarak di antara mereka terasa semakin intim namun mematikan. Keputusannya untuk tidak pernah menganggap Laras sebagai bagian dari keluarga adalah bias yang sudah mengakar sejak hari pertama mereka bertemu di lobi rumah sakit, saat Laras hanya membawa sekotak nasi bungkus untuk Aris.

Laras mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu, jemarinya meremas ujung blus katun sederhananya hingga kusut masai. Ia ingin bicara tentang cinta, tentang bagaimana ia mendukung Aris dari nol di saat ibunya hanya sibuk dengan seminar internasional, namun tenggorokannya terasa seperti tersumbat pasir. Dr. Ratna hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya, seolah sedang melihat noda kecil pada jas putihnya yang harus segera dibersihkan agar tidak merusak penampilan secara keseluruhan.

"Gadis seperti kamu biasanya hanya tahu cara meminta, bukan cara menjaga standar hidup yang sudah kami tetapkan," lanjut Dr. Ratna dengan nada yang semakin merendahkan seiring berjalannya waktu. Ia bangkit berdiri, mendominasi ruangan dengan posturnya yang tegak, lalu berjalan perlahan mengitari sofa tempat Laras duduk. Setiap langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa kesabaran dan harga diri yang masih dimiliki oleh menantunya tersebut.

Laras akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca namun ada kilat perlawanan yang mulai membara di balik genangan air mata itu. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan satu kata pembelaan, Dr. Ratna sudah terlebih dahulu memotong dengan lambaian tangan yang meremehkan, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu kenyamanannya.

Bagi sang dokter, dialog hanya terjadi antara dua orang yang setara, dan di matanya, Laras tidak lebih dari sekadar kerikil yang tersangkut di sepatu mahalnya.

"Pulanglah, bersihkan debu dari pakaianmu itu, dan jangan pernah berpikir bahwa melahirkan cucu saya akan membuatmu menjadi bagian dari kasta kami," desis Dr. Ratna tepat di telinga Laras sebelum berbalik pergi meninggalkan keheningan yang menyakitkan. Laras terpaku di tempatnya, merasakan kehancuran yang begitu nyata hingga ia lupa bagaimana cara berdiri kembali. Di luar, langit mulai menggelap, seolah ikut merasakan badai yang baru saja meluluhlantakkan sisa-sisa harapannya di rumah megah yang terasa seperti penjara itu.

Ujung kuku Aris terus mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati yang mengilap, menciptakan irama monoton yang memenuhi ruang makan yang sunyi. Ia sengaja menghindari kontak mata dengan ibunya, Dr. Ratna, yang duduk tegak dengan punggung kaku seolah-olah sedang memimpin rapat dewan direksi rumah sakit. Udara di ruangan itu terasa berat oleh aroma sup asparagus yang mewah, namun bagi Aris, bau itu justru membuatnya mual karena ketegangan yang tak kunjung usai.

Dr. Ratna menyesap air putih dari gelas kristalnya dengan gerakan yang sangat terukur, seolah setiap tetesnya telah diperhitungkan secara medis. Matanya yang tajam di balik bingkai kacamata mahal itu kini beralih sepenuhnya kepada Laras, yang sejak tadi hanya menunduk sambil meremas serbet di pangkuannya. "Aku tidak suka membuang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu, Laras," suara Ratna memecah kesunyian dengan nada dingin yang menusuk tulang.

"Jadi, katakan padaku secara spesifik, apa sebenarnya pekerjaan orang tuamu di desa sana?" tanya Ratna lagi, kali ini dengan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. Laras memberanikan diri untuk mengangkat wajah, meski jemarinya gemetar hebat di bawah meja yang tertutup taplak putih bersih. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa keberanian yang ia miliki di hadapan wanita yang menganggap strata sosial adalah segalanya.

"Bapak saya hanya seorang buruh tani, Bu Dokter, dia menggarap sawah milik orang lain untuk membiayai sekolah saya dulu," jawab Laras dengan suara yang pelan namun tetap terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan. Seketika itu juga, denting sendok perak milik

Ratna yang beradu dengan piring porselen terdengar sangat nyaring, seperti bunyi lonceng kematian bagi ketenangan makan malam mereka yang singkat itu.

Ratna meletakkan sendoknya dengan gerakan kasar hingga sisa kuah sup memercik ke atas taplak meja yang mahal, sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi wanita seanggun dirinya. "Buruh tani? Aris, apakah kau sadar bahwa garis keturunan kita tidak dibangun di atas lumpur sawah?" Ratna menoleh ke arah putranya dengan tatapan penuh tuntutan, sementara Aris hanya bisa terdiam sambil terus memutar-mutar jam tangan peraknya dengan gelisah.

Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika Ratna berdiri dari kursinya, membuat kaki kursi berdecit memilukan di atas lantai marmer yang dingin. Ia menatap Laras seolah-olah wanita muda itu adalah noda yang tidak sengaja menempel di gaun sutranya yang sempurna. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia meninggalkan meja makan, meninggalkan Aris dan Laras dalam pusaran emosi yang menghancurkan harapan mereka untuk mendapatkan restu yang tulus.

Lihat selengkapnya