IBUKU ATAU IBU ANAKKU

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Rumah Tangga yang Goyah

Bunyi denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen mawar di meja makan kediaman dokter Ratna selalu terdengar seperti lonceng peringatan bagi Laras. Aris duduk mematung dengan punggung tegak, sementara ibunya menatap tajam ke arah kemeja lusuh yang dikenakan putra tunggalnya itu. Aroma parfum mahal dokter Ratna memenuhi ruangan, menciptakan kontras yang menyesakkan dengan debu jalanan yang masih melekat di ujung gamis sederhana milik Laras.

Ratna menyesap teh camomile miliknya perlahan, matanya tidak sekalipun beralih dari tangan Laras yang gemetar saat memegang garpu. Tanpa suara, ia meletakkan cangkir dengan ketukan yang sengaja diperkeras, sebuah isyarat tak terbantahkan bahwa ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Aris hanya bisa menunduk, meremas serbet di pangkuannya seolah sedang menahan beban seluruh dunia yang menindih bahunya yang kian kurus.

"Seorang lelaki dari keluarga ini tidak seharusnya terlihat seperti baru saja keluar dari pasar loak, Aris," ucap Ratna dengan nada suara yang tenang namun setajam pisau bedah. Aris menarik napas panjang, kebiasaan lamanya yang muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh tuntutan ibunya. Ia ingin membela istrinya, namun lidahnya mendadak kelu saat melihat tatapan dingin yang selama ini mendikte setiap langkah hidupnya sejak ia masih kecil.

Laras mencoba tersenyum, meski hatinya perih mendengar sindiran yang sudah menjadi makanan sehari-hari sejak mereka mengucap janji suci. Ekonomi mereka memang sedang di titik nadir setelah Aris memutuskan untuk membangun usahanya sendiri tanpa bantuan modal dari ayahnya. Ratna menggunakan kemiskinan itu sebagai senjata psikologis, terus-menerus mengingatkan bahwa kenyamanan yang Aris rasakan dulu hanyalah kenangan selama ia masih bersama Laras.

Setiap akhir pekan di rumah besar itu terasa seperti interogasi di bawah lampu sorot yang menyilaukan dan panas. Ratna akan mulai mempertanyakan menu makanan mereka, kebersihan kontrakan sempit yang mereka huni, hingga kualitas kain baju yang Laras jahit sendiri. Teror itu tidak berbentuk teriakan, melainkan rangkaian kalimat halus yang meruntuhkan harga diri Laras sebagai seorang istri dan wanita mandiri yang mencoba bertahan hidup.

Aris sering kali terjebak dalam dilema yang menyiksa, antara rasa hormat kepada ibu yang telah membesarkannya dengan kemewahan dan cinta kepada Laras yang memberinya ketenangan. Ia melihat bagaimana Laras menelan semua hinaan itu dengan keanggunan yang luar biasa, tanpa pernah sekali pun membalas dengan kata-kata kasar. Namun, sorot mata Laras yang kian meredup setiap kali mereka pulang dari rumah ibunya mulai menghantui pikiran Aris setiap malam.

Malam itu, hujan turun dengan lebat, seolah ikut meratapi keheningan yang janggal di antara mereka bertiga di ruang makan yang dingin. Ratna bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Laras, lalu mengusap bahu menantunya dengan gerakan yang lebih terasa seperti ancaman daripada kasih sayang. "Kesabaran seorang ibu ada batasnya, dan aku tidak akan membiarkan putraku hancur hanya karena sebuah pilihan yang salah," bisik Ratna tepat di telinga Laras yang mematung.

Aris mengusap peluh di dahinya dengan lengan kemeja yang sudah mulai pudar warnanya, jauh berbeda dari setelan sutra yang dulu selalu disiapkan pelayan di rumah ibunya. Di rumah kontrakan sempit ini, aroma kayu lapuk dan sisa masakan sederhana Laras menjadi udara sehari-hari yang ia hirup. Tidak ada lagi lantai marmer dingin atau pendingin ruangan yang mendengung halus, hanya ada suara kipas angin tua yang berderit setiap kali berputar ke arahnya.

Setiap pagi, ia harus berdesakan di transportasi umum untuk menuju kantornya yang baru di mana ia hanyalah seorang staf administrasi biasa dengan gaji yang pas-pasan. Tangannya yang dulu hanya terbiasa memegang pena mewah kini sering kali terasa kaku karena harus mengetik laporan hingga larut malam demi mengejar bonus kecil. Laras selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan segelas air putih, mencoba membasuh kelelahan yang terpahat jelas di wajah suaminya.

Namun, ketenangan di rumah mungil itu sering kali hancur seketika saat ponsel di saku celana Aris bergetar dengan nada dering yang ia benci namun tak berani ia abaikan. Ratna tidak pernah berhenti melancarkan serangan psikologis melalui pesan teks yang tajam, mempertanyakan mengapa putranya memilih hidup seperti gelandangan demi wanita yang dianggapnya tidak selevel. Setiap kata yang diketik ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat harga diri Aris sebagai seorang kepala keluarga.

Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan foto seorang wanita muda bergaun desainer ternama yang sedang duduk makan malam bersama kolega bisnis ibunya di sebuah hotel bintang lima. "Ini adalah kehidupan yang seharusnya kamu miliki, bukan terjebak di dapur kumuh bersama wanita itu," tulis Ratna dalam pesan singkat yang menyertai foto tersebut. Aris hanya bisa menatap layar itu dengan jemari yang gemetar, merasa seolah ibunya sedang berdiri tepat di belakangnya untuk menghakimi setiap pilihan hidupnya.

Tekanan itu memuncak ketika suatu sore sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pagar rumah mereka yang berkarat, menarik perhatian seluruh tetangga yang mulai berbisik-bisik. Ratna keluar dari mobil dengan kacamata hitamnya, menatap jijik ke arah jemuran pakaian yang menggantung di teras rumah Aris yang sempit. Tanpa mengetuk pintu, ia melangkah masuk dan melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kayu yang sudah mulai goyang kakinya.

Suasana ruang tamu seketika membeku saat Ratna menuntut Aris untuk segera menandatangani surat perceraian yang sudah ia siapkan dengan bantuan pengacara pribadinya yang paling andal. Laras yang baru saja keluar dari dapur dengan tangan masih basah hanya bisa terpaku di ambang pintu, menatap amplop itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Aris berdiri di antara kedua wanita itu, merasakan jantungnya berdegup kencang seolah akan meledak karena harus memilih antara bakti atau cinta sejatinya.

Kemarahan yang selama ini dipendam Aris akhirnya meledak saat ibunya mulai menghina latar belakang orang tua Laras yang hanya pedagang pasar dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Ia menyambar amplop itu dan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil di depan wajah ibunya, sebuah tindakan pembangkangan yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ratna terkesiap, wajahnya memerah padam karena murka, lalu ia bersumpah akan menghancurkan karier Aris hingga mereka benar-benar tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.

Lihat selengkapnya