IBUKU ATAU IBU ANAKKU

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Pengorbanan Rahasia

Suasana koridor rumah sakit terasa begitu menyesakkan bagi Aris, sementara aroma disinfektan yang tajam seolah menusuk hingga ke relung paru-parunya. Laras terbaring lemah di balik pintu kaca ruang perawatan intensif dengan mesin dialisis yang menderu pelan di samping ranjangnya. Harapan mereka kian menipis seiring dengan kegagalan fungsi ginjal yang semakin parah, meninggalkan Aris dalam keputusasaan yang tak berujung.

Di tengah kegelapan itu, seorang perawat senior datang membawa kabar yang mengejutkan tentang adanya seorang donor yang cocok secara medis. Tim dokter menyatakan bahwa prosedur transplantasi harus segera dilakukan karena kondisi pasien yang terus merosot tajam. Anehnya, identitas sang penyelamat itu dirahasiakan dengan sangat ketat atas permintaan pribadi sang donor sendiri, tanpa ada satu pun celah informasi.

Aris mencoba menghubungi ibunya, Dr. Ratna, untuk meminta saran medis sekaligus dukungan moral di saat-saat yang sangat genting ini. Namun, wanita yang biasanya selalu mendominasi setiap jengkal kehidupan Aris itu mendadak tidak bisa dihubungi sama sekali. Ponselnya mati, dan rumah besarnya tampak sepi tanpa ada tanda-tanda kehadiran sang pemilik yang biasanya sangat sibuk dengan urusan kliniknya.

Pihak rumah sakit hanya menyebutkan bahwa donor tersebut adalah seorang wanita yang memiliki profil kesehatan yang sangat luar biasa dan stabil. Aris merasa ada sesuatu yang janggal, namun ia tidak punya pilihan lain selain menandatangani berkas persetujuan operasi demi nyawa istrinya. Ia terus memutar-mutar cincin kawinnya, sebuah kebiasaan saat ia merasa sangat cemas dan kehilangan kendali atas situasi.

Operasi berjalan selama berjam-jam di bawah lampu bedah yang dingin, sementara Aris hanya bisa terduduk diam di ruang tunggu yang sunyi. Ia merasa bersalah karena sempat berpikir buruk tentang ketidakhadiran ibunya di saat Laras sedang berjuang antara hidup dan mati. "Ibu tidak mungkin setega ini," bisiknya dalam hati, meskipun egonya masih terluka oleh penolakan ibunya terhadap strata sosial Laras selama ini.

Keesokan harinya, sebuah berita miring mulai beredar di media sosial mengenai dugaan malpraktik yang dilakukan oleh Dr. Ratna di masa lalu. Fitnah itu menyebar dengan sangat cepat, merusak reputasi yang telah dibangun ibunya selama puluhan tahun dengan kerja keras. Aris terkejut melihat betapa kejamnya komentar publik, namun ia tetap tidak bisa menemukan keberadaan ibunya untuk memberikan klarifikasi langsung.

Saat Laras mulai siuman dengan kondisi yang jauh lebih stabil, ia langsung menanyakan keberadaan ibu mertuanya dengan suara yang masih parau. Laras bersikeras ingin membela Dr. Ratna dari tuduhan palsu tersebut karena ia merasa ada ikatan batin yang mendadak muncul. Tanpa mereka sadari, di ruang pemulihan yang berbeda, Dr. Ratna terbaring pucat dengan bekas jahitan yang masih segar di bagian pinggangnya.

Udara di koridor rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma antiseptik yang menusuk hingga ke pangkal tenggorokan. Aris duduk membeku di bangku besi yang catnya mulai mengelupas, jemarinya terus memutar-mutar cincin kawinnya dengan ritme yang gelisah. Setiap kali langkah kaki perawat mendekat, jantungnya berdegup kencang, seolah-olah setiap suara adalah lonceng yang mengabarkan sisa waktu istrinya yang semakin menipis di balik pintu ruang perawatan intensif.

Laras, wanita yang selalu tersenyum meski badai kemiskinan dan hinaan mertua menerjang, kini terbaring tak berdaya dengan mesin dialisis yang menderu pelan di sampingnya. Aris menundukkan kepala, merasakan beban berat yang menghimpit bahunya sejak vonis gagal ginjal stadium akhir itu dijatuhkan. Ia telah mencoba segalanya, mulai dari mencari donor ke seluruh penjuru kota hingga memohon pada ibunya yang seorang dokter ternama, namun hasilnya nihil karena ego sang ibu masih setebal tembok beton.

Tiba-tiba, suara pintu geser yang terbuka memecah keheningan koridor yang remang-remang itu. Dokter Hendra, kolega senior ibunya di rumah sakit tersebut, melangkah keluar dengan raut wajah yang sulit dibaca di balik masker bedahnya yang berwarna hijau pudar. Aris segera berdiri, lututnya terasa lemas sehingga ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak terjatuh. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah dokter, mencari sebersit harapan di tengah kegelapan yang pekat.

Dokter Hendra menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Aris dengan gerakan yang terasa sangat formal namun mengandung simpati yang mendalam. Kabar yang meluncur dari bibir dokter itu terdengar seperti simfoni yang paling indah bagi telinga Aris: ada seorang donor yang sangat cocok dan bersedia memberikan ginjalnya secara sukarela. Aris tertegun, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan satu kata pun, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang lelah.

Keajaiban itu terasa begitu tiba-tiba, seolah langit baru saja terbuka dan menjatuhkan mukjizat tepat di depan kakinya saat ia sudah hampir menyerah pada takdir. Aris mencoba bertanya siapa malaikat tanpa sayap yang bersedia mengorbankan bagian tubuhnya untuk Laras, namun Dokter Hendra segera menggelengkan kepala. Donor tersebut mengajukan syarat yang sangat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, yaitu identitasnya harus dirahasiakan sepenuhnya dari pasien maupun pihak keluarga manapun.

Kerahasiaan ini menimbulkan tanya besar di benak Aris, namun ia segera menepis rasa penasarannya demi keselamatan nyawa ibu dari anak-anaknya. Ia tahu bahwa dalam dunia medis yang kaku, permintaan anonimitas seperti ini jarang terjadi kecuali ada alasan personal yang sangat kuat di baliknya. Tanpa membuang waktu lagi, Dokter Hendra menginstruksikan stafnya untuk segera menjadwalkan operasi darurat malam itu juga agar kondisi Laras tidak semakin memburuk secara drastis.

Persiapan operasi dilakukan dengan sangat cepat, menciptakan kesibukan yang luar biasa di lorong-lorong rumah sakit yang tadinya sepi dan mencekam. Aris melihat brankar Laras didorong menuju ruang bedah, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia melihat secercah cahaya harapan menyinari wajah istrinya yang pucat. Keputusasaan yang selama ini menyelimuti keluarga kecil mereka seolah mulai terkikis oleh keberanian seseorang yang tidak ingin dikenal jasanya oleh siapapun.

Di sudut lain rumah sakit, di ruang sterilisasi yang tersembunyi dari jangkauan publik,

Ratna berdiri tegak di depan cermin besar dengan tatapan mata yang dingin namun tajam. Ia melepas bros berlian yang selalu menjadi simbol statusnya sebagai dokter sukses, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam laci meja yang terkunci rapat. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang pisau bedah kini sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah keputusan besar yang baru saja ia ambil secara rahasia.

Ratna memutar-mutar cincin emas putih di jarinya, sebuah gestur yang selalu ia lakukan setiap kali ia sedang menyusun rencana yang sangat krusial dan berisiko tinggi. Ia tidak pernah bisa menerima Laras sebagai menantu karena perbedaan strata sosial, namun ia juga tidak sanggup melihat putranya hancur karena kehilangan wanita yang dicintainya. Keputusannya untuk mendonorkan ginjalnya adalah sebuah penebusan dosa yang ia bungkus rapat di balik topeng kesombongan yang masih ia kenakan di depan publik.

Lihat selengkapnya