Ibumu adalah kekasihku

Afandi
Chapter #1

Bab 1

Pagi itu, udara di rumah sederhana milik Budi terasa berbeda dari biasanya. Matahari baru saja naik perlahan dari balik atap-atap rumah tetangga, menyinari halaman kecil yang dipenuhi pot tanaman seadanya. Suasana tenang, hanya terdengar suara burung kecil yang sesekali hinggap di pagar bambu.



 Di dalam rumah, Lastri duduk di kursi kayu dekat jendela. Usianya sudah 70 tahun, tubuhnya mulai renta, namun matanya masih menyimpan ketenangan yang dalam. Ia terbiasa hidup sendiri di rumah itu sejak Budi, anak semata wayangnya, mulai sering merantau untuk bekerja.



 Lastri menatap keluar jendela dengan pikiran yang entah melayang ke mana. Kadang ia merasa rumah ini terlalu besar untuk dirinya sendiri. Terlalu sepi. Terlalu banyak kenangan yang hanya berputar di dalam kepala.



 Namun pagi itu, ada hal yang berbeda.



 Bukan karena Budi pulang.



 Tapi karena pesan yang ia kirim beberapa hari sebelumnya.



  



 Beberapa hari yang lalu, Budi menelepon dengan suara yang sedikit lelah namun tetap hangat.



 “Bu, aku mungkin belum bisa pulang dalam waktu dekat,” kata Budi dari seberang telepon.



 Lastri hanya terdiam. Ia sudah terbiasa dengan kabar seperti itu.



 Namun Budi melanjutkan.



 “Bu… aku minta tolong. Ada Agus, teman aku. Dia orangnya baik. Aku percaya sama dia. Dia nanti mungkin akan sering ke rumah, nemenin Ibu kalau Ibu butuh sesuatu.”



 Lastri sempat terdiam lebih lama dari biasanya.



 “Kenapa harus orang lain, Bud?” tanyanya pelan.



 “Karena aku nggak mau Ibu sendirian terus,” jawab Budi. “Agus itu orang yang bisa dipercaya. Anggap saja dia seperti keluarga sendiri.”



 Setelah percakapan itu, Lastri tidak banyak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk dalam diam, meski Budi tidak bisa melihatnya.



  



 Dan hari itu pun tiba.



 Pintu rumah diketuk pelan.



 Tok… tok… tok…



 Lastri berjalan perlahan menuju pintu. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kunci kayu yang sudah lama tidak diganti.



 Ketika pintu terbuka, berdirilah seorang pemuda di depan rumah.



 Agus.



 Usianya 25 tahun, membawa tas sederhana di punggungnya. Wajahnya tampak sopan, sedikit canggung, namun ada ketulusan yang tidak dibuat-buat dalam sorot matanya.



 “Permisi, Bu… saya Agus,” ucapnya pelan sambil menunduk hormat.



 Lastri memperhatikannya beberapa detik sebelum menjawab.



 “Oh… kamu yang teman Budi itu?”



 “Iya, Bu. Saya disuruh Budi untuk sementara tinggal di sini… kalau Ibu tidak keberatan.”



 Lastri tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka pintu lebih lebar.



 “Masuklah.”



  



 Sejak saat itu, Agus mulai tinggal di rumah itu.



 Hari-hari pertama terasa canggung. Agus tidak ingin merepotkan. Ia membantu hal-hal kecil: membersihkan halaman, memperbaiki keran air yang bocor, dan membantu Lastri mengambil barang-barang yang sulit dijangkau.



 Lastri awalnya tidak banyak bicara. Namun diam-diam, ia memperhatikan.



 Agus bukan pemuda yang banyak omong. Ia bekerja tanpa mengeluh. Bahkan ketika Lastri mengatakan tidak perlu membantu, Agus tetap melakukannya dengan sopan.



 “Sudah jadi kebiasaan saya, Bu,” katanya suatu hari saat Lastri menegurnya karena terlalu banyak bekerja.



 Lastri hanya mengangguk pelan.



 Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.



 Rumah itu tidak lagi sesunyi dulu.



  



 Malam hari, Agus biasanya duduk di teras rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak langsung masuk ke kamar. Kadang ia hanya duduk diam, menikmati udara malam.



 Lastri beberapa kali melihatnya dari dalam rumah.



 Sampai suatu malam, Lastri keluar membawa dua gelas teh hangat.



 “Minum,” katanya singkat sambil meletakkan satu gelas di samping Agus.



 Agus sedikit terkejut.



 “Terima kasih, Bu.”



 Mereka duduk bersebelahan, tidak terlalu dekat, namun cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain.



 Angin malam bertiup pelan, membawa suasana yang sulit dijelaskan.



 “Kenapa kamu mau repot-repot tinggal di sini?” tanya Lastri akhirnya.



 Agus terdiam sejenak sebelum menjawab.



 “Karena Budi sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Jadi Ibu juga… seperti keluarga.”



 Lastri menatapnya sekilas, lalu kembali menatap halaman.



 “Keluarga…” ulangnya pelan, seperti sedang mencerna kata itu.



  



Lihat selengkapnya