Pagi berikutnya datang dengan cahaya lembut yang menyelinap melalui celah jendela kayu. Rumah itu tidak lagi benar-benar sunyi seperti dulu. Ada kehidupan kecil yang perlahan tumbuh di dalamnya—langkah kaki, suara air mengalir, dan aroma kopi yang sesekali tercium dari dapur.
Lastri bangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, tidurnya semalam terasa lebih ringan, meski pikirannya justru lebih berat dari sebelumnya.
Ia duduk di tepi ranjang, memandang lantai kayu yang mulai menua. Dalam benaknya, bayangan Agus kembali muncul. Cara pemuda itu berbicara. Cara ia bekerja tanpa banyak keluhan. Cara ia memperlakukan rumah ini seolah bukan tempat asing, melainkan tempat yang memang seharusnya ia jaga.
Lastri menghela napas pelan.
“Aneh sekali…” gumamnya pelan.
Di dapur, Agus sudah lebih dulu bangun.
Ia sedang mencuci beberapa peralatan makan, gerakannya tenang dan teratur. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Baginya, pekerjaan lebih penting daripada penampilan.
Saat Lastri masuk ke dapur, Agus langsung menoleh.
“Selamat pagi, Bu,” sapanya sopan.
Lastri mengangguk kecil.
“Sudah bangun dari tadi?”
“Iya, Bu. Saya biasa bangun pagi.”
Ada jeda singkat setelah itu. Tidak canggung, tapi juga tidak benar-benar cair.
Lastri memperhatikan punggung Agus yang sibuk dengan pekerjaannya.
“Tidak perlu terlalu banyak bekerja di rumah ini,” ucap Lastri akhirnya.
Agus berhenti sejenak.
“Tapi saya ingin membantu, Bu.”
“Kenapa?”
Agus terdiam. Pertanyaan itu tidak sulit, tapi jawabannya terasa lebih dalam dari sekadar kata-kata sederhana.
Karena itu bukan sekadar membantu.
Tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
“Aku hanya ingin rumah ini tetap nyaman untuk Ibu,” jawabnya akhirnya pelan.
Lastri tidak langsung merespons. Ia hanya berdiri di sana, mendengar kalimat itu masuk perlahan ke dalam pikirannya.
Hari itu berjalan seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.
Bukan perubahan besar, melainkan hal kecil yang mulai terasa nyata.
Cara Lastri lebih sering memperhatikan keberadaan Agus tanpa sadar.
Cara Agus sedikit lebih berhati-hati ketika berbicara kepada Lastri, seolah takut mengganggu ketenangan wanita itu.
Dan cara keduanya mulai terbiasa berbagi ruang tanpa harus banyak kata.
Sore hari, hujan kembali turun.
Kali ini lebih deras dari sebelumnya.
Agus sedang memperbaiki atap kecil di belakang rumah yang bocor. Tubuhnya basah oleh air hujan, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
Dari dalam rumah, Lastri memperhatikan melalui jendela.
Ia tidak berkata apa-apa, hanya diam.
Namun ada kegelisahan kecil yang tumbuh di dadanya.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya keluar membawa kain kering.
“Sudah cukup,” katanya sedikit lebih tegas dari biasanya.
Agus menoleh.
“Sebentar lagi selesai, Bu.”
Lastri menghela napas.
“Tidak perlu memaksakan diri sampai sakit.”
Agus terdiam. Ia turun dari tangga kecil itu perlahan.
Lastri langsung menyodorkan kain.
“Lap badanmu dulu.”
Agus menerima kain itu.
Tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Lastri sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup untuk membuat keduanya diam lebih lama dari seharusnya.
Tidak ada yang berkata apa-apa setelah itu.
Hanya hujan yang terus turun, mengisi keheningan di antara mereka.
Malamnya, suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya.
Agus duduk di teras seperti biasa. Lastri kemudian keluar membawa teh hangat lagi.
Namun kali ini, ia tidak langsung duduk.
Ia hanya berdiri di samping pintu, memandangi Agus yang menatap hujan sisa sore tadi.
“Kenapa kamu selalu di luar?” tanya Lastri.
Agus tersenyum kecil.
“Di dalam terlalu sepi kalau malam.”
Lastri terdiam.
Kalimat itu… terasa seperti cermin.
Seolah bukan hanya Agus yang merasa begitu.
Untuk pertama kalinya, Lastri duduk lebih dekat dari biasanya.
Jarak di antara mereka kini tidak sejauh dulu.
Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah.
“Agus,” kata Lastri tiba-tiba.
“Iya, Bu?”
“Kamu tidak merasa terganggu tinggal di sini?”
Agus menoleh.
“Tidak, Bu.”