Ibumu adalah kekasihku

Afandi
Chapter #3

Bab 3

Pagi itu, udara terasa lebih hangat dari biasanya. Sinar matahari masuk lebih lembut, seolah tidak ingin mengganggu siapa pun yang masih terlelap dalam rumah kecil itu.



Lastri sudah bangun sejak subuh, seperti kebiasaannya selama bertahun-tahun. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam langkahnya pagi ini. Tidak terburu-buru, tidak sekaku biasanya. Seolah pikirannya masih tertinggal di malam sebelumnya.



Di teras, suara langkah pelan terdengar.



Agus sudah bangun lebih dulu.



Ia sedang menyapu halaman, gerakannya tenang seperti biasa. Namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda darinya juga—sesekali ia melirik ke arah jendela rumah, seakan memastikan Lastri sudah bangun.



Ketika pintu terbuka, Lastri muncul.



Mata mereka bertemu sesaat.



Tidak lama.



Tapi cukup untuk membuat keduanya sama-sama sedikit menahan napas.



“Selamat pagi, Bu,” ucap Agus seperti biasa.



Namun bagi Lastri, suara itu terasa sedikit lebih dekat dari kemarin.



“Pagi,” jawabnya pelan.





Hari itu berjalan seperti biasa, tapi tidak benar-benar biasa.



Ada hal-hal kecil yang mulai terasa berubah.



Lastri mulai memperhatikan hal-hal yang dulu tidak ia pedulikan. Cara Agus menata sandal di depan rumah. Cara ia melipat kain dengan rapi. Cara ia berbicara dengan suara rendah agar tidak mengganggu.



Dan yang paling aneh… cara Lastri menunggu kehadirannya tanpa ia sadari.





Saat siang, Lastri duduk di ruang tengah sambil mengipasi dirinya. Cuaca memang panas, tetapi bukan hanya itu yang membuatnya gelisah.



Pikirannya kembali pada kejadian beberapa malam lalu.



Saat tangan mereka hampir bersentuhan.



Hal kecil.



Sangat kecil.



Tapi entah kenapa, ingatan itu terus kembali tanpa bisa ia hentikan.



Lastri menghela napas panjang.



“Apa yang sebenarnya aku pikirkan…” gumamnya pelan.





Di dapur, Agus sedang memasak sederhana.



Bukan karena ia harus, tapi karena ia ingin.



Ia ingin Lastri tidak kesulitan menyiapkan makan sendiri.



Saat Lastri masuk ke dapur, ia langsung berhenti.



“Aku bisa masak sendiri,” kata Lastri.



Agus menoleh.



“Saya tahu, Bu.”



“Kalau tahu, kenapa kamu tetap melakukannya?”



Agus terdiam sebentar, lalu menjawab dengan tenang.



“Karena saya ingin Ibu tidak kelelahan.”



Kalimat itu sederhana.



Tapi jatuhnya tidak sederhana.



Lastri tidak langsung menjawab.



Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan punggung Agus yang kembali sibuk mengaduk masakan.



Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak tahu harus berkata apa.





Sore hari, hujan turun lagi.



Namun kali ini lebih ringan, seperti gerimis yang tidak ingin mengganggu.



Agus duduk di teras, seperti biasa.



Lastri datang membawa dua gelas teh.



Tapi kali ini ia tidak langsung duduk di dalam rumah.



Ia duduk.



Lebih dekat dari biasanya.



Jarak yang dulu selalu dijaga, kini perlahan mengecil tanpa disadari.





“Agus,” kata Lastri tiba-tiba.



“Iya, Bu?”



“Kalau Budi lama tidak pulang… kamu tidak keberatan di sini terus?”



Pertanyaan itu terdengar biasa.



Tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih dalam.



Agus menatap ke depan.



“Tidak, Bu.”



“Kenapa?”



Agus diam sebentar.



Karena ini bukan lagi soal menunggu Budi.



“Karena saya sudah terbiasa di sini,” jawabnya akhirnya.



Lastri mengangguk pelan.



Namun di dalam hatinya, kata “terbiasa” itu terasa lebih dalam dari yang seharusnya.





Malam datang lebih cepat dari biasanya.



Lampu di rumah sudah dinyalakan.



Namun suasana tidak lagi sesunyi dulu.



Lastri berdiri di dekat pintu kamar, ragu-ragu.



Ia bisa saja masuk dan beristirahat.



Tapi kakinya tidak langsung bergerak.



Di luar, Agus masih duduk di teras.



Sendiri.

Lihat selengkapnya