Makian pedih ayah Anggun telah menyulut bara api semangat dalam diriku. Untaian kata-kata tajam yang ia lontarkan, meskipun sangat menyakitkan, akhirnya kuanggap sebagai motivasi. Aku memutuskan mengubah setiap kata pedih itu sebagai bahan bakar untuk berusaha keras meraih hidup yang layak. Pagi, siang, dan malam aku bekerja dan belajar dengan tekun, berjuang mengumpulkan uang guna membiayai kuliah dan biaya hidup.
Setahun setengah berlalu sejak terakhir kali aku melihat wajah sendu Anggun. Waktu itu terasa begitu berharga, dan aku memutuskan tidak menyia-nyiakannya. Aku fokus pada pekerjaan dan kuliah, hingga akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba—aku lulus dari STMIK Bumigora. Aku berhasil membiayai kuliahku sendiri, dan kini aku telah resmi mendapatkan gelar sarjana. Namun, aku sadar ini bukanlah akhir dari perjalanan. Ini justru titik awal untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Perjuanganku tidak berhenti di situ. Aku mendapat rekomendasi dari kampus untuk bekerja di perusahaan start up sebagai pengembang perangkat lunak. Dari situlah karirku dimulai. Pelan-pelan, aku mulai mampu menanggung beban hidupku. Rumah kecil yang dulu kutinggali aku jual, dan dengan uang yang terkumpul, aku membeli rumah baru di kawasan kota.
Pekerjaanku sebagai pengembang perangkat lunak memang cukup mengubah hidupku. Namun, aku tidak ingin berhenti hanya di sini. Aku mulai merasa tertarik mencoba hal baru, sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Sesuatu yang mungkin bisa membawa hidupku ke tingkat yang lebih tinggi. Aku mulai menyelami dunia menulis, menulis novel yang terinspirasi dari kisah hidupku sendiri. Kisahku yang penuh perjuangan dan harapan, kisah tentang cinta yang seakan terhalang tembok besar yang dibangun oleh materi, dan bagaimana aku berusaha sekuat tenaga meruntuhkan penghalang itu.
Inilah kisahku—tentang bagaimana hidup, meski penuh rintangan, tetap harus terus berjalan. Tentang bagaimana aku mencoba bertahan, meski segala sesuatunya tampak sulit. Tentang aku yang terus mencintai, meski dunia seakan menentang.
Anggun, aku pernah mendengar kabar tentangnya—katanya dia pindah kuliah ke Amerika. Entahlah, aku tak tahu pasti kapan dia akan kembali ke kota ini. Namun, entah bagaimana, aku selalu yakin bahwa suatu saat dia akan kembali, membawa cintanya yang belum padam untukku.
Tiba-tiba, handphone-ku berdering panjang, menandakan sebuah panggilan masuk. Layar menunjukkan nama "Septian". Oh, sahabat lamaku! Kami sudah janjian untuk bertemu.
“Halo!” jawabku, menyambut panggilan itu.
“Halo, Yan! Kamu di mana? Aku sudah nunggu di kafe, nih!” Terdengar suara Septian dari seberang.
“Kafe mana?”
“Biasalah, di kafe anak kekinian.”
“Oke. Aku akan ke sana. Tunggu, ya!”
“Oke!”
Jam sudah menunjukkan pukul 5.00 sore, dan jam kerjaku telah selesai. Segera aku mengenakan helm, mengendarai sepeda motor sport menuju Kafe Giyong tempat Septian menungguku. Aku melaju cepat, melintasi jalanan Kota Mataram yang ramai dengan kendaraan.
Sepuluh menit kemudian, aku tiba. Kuparkirkan motorku di tempat yang tersedia, lalu masuk ke dalam kafe. Mata ini langsung melirik ke kanan dan kiri, mencari sosok pria berkumis tipis yang kucari—Septian, pria kelahiran Sumbawa yang selalu penuh canda.
“Ah, itu dia!” seruku, melihatnya duduk di sudut dengan meja yang rapi.
Aku berjalan menuju meja itu.
“Sep!” sapaku sambil tersenyum.
“Woi, Yan! Apa kabar?” Septian berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman ala anak muda yang penuh kehangatan.
“Baik, baik. Kamu gimana?” tanyaku sambil melirik menu makanan yang ada di meja.
“Yah, seperti inilah,” jawab Septian sambil tertawa ringan, “duduk, Yan!” lanjutnya, memberi isyarat agar aku duduk.
“Sudah setahun nggak pernah ketemu, ya?” tanyaku dengan penuh antusias, sembari menatapnya.
“Sekitar 11 bulan sih. Tapi, bulatkan aja jadi setahun,” jawab Septian sambil cekikikan. “Jadi, kamu masih menulis? Gimana? Sudah selesaikah cerita yang kamu tulis itu?” tambahnya.
“Iya, sih. Tapi sebentar lagi selesai, kok,” jawabku, “Kenapa? Kamu mau baca naskahku?”
“Boleh, boleh. Aku jadi yang pertama baca naskahmu. Hmmm, istilahnya apa, ya?” Septian tampak berpikir sejenak, mencari-cari istilah yang tepat.
“Alpha reader. Mungkin, sih,” jawabku, agak ragu.
“Ya udah, kalau gitu. Pesan makan dan minum dulu, dong,” kata Septian, mencoba mengganti topik.
“Ah, aku sudah kenyang, Sep. Aku cuma mau pesan minuman aja,” jawabku sambil melirik menu minuman yang ada.
“Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan kafe, menghampiri kami.
“Hmmm, ini aja, Mbak. Aku pesan cappuccino,” kataku.
“Mas yang di sana mau pesan apa?” tanya pelayan kepada Septian.
“Aku pesan jus jeruk aja, Mbak,” jawabnya.
Pelayan itu segera mencatat pesanan kami, lalu melangkah pergi.
“Yan, ngomong-ngomong gimana sama si primadona kampus? Apa sudah ada kabar dari dia?” tanya Septian dengan nada penasaran.
Aku menghela napas panjang. “Belum, Sep. Perjuanganku juga sepertinya belum seberapa. Aku harus lebih dan lebih berjuang lagi.”
“Yan. Jangan paksakan dirimu, lah. Berkorban juga ada batasnya. Aku kasihan sama kamu. Lihat, sekarang kamu tambah kurus aja. Kamu juga sepertinya enggak peduli dengan penampilanmu. Rambutmu sudah panjang gitu. Tapi masih atletis ya badanmu,” kata Septian dengan wajah yang tampak penuh simpati.