IF I..... (I'm sorry S2)

Via S Kim
Chapter #42

42

Kau ingat bahwa ada pasukan Elf yang pandai meniru teknik? Ya, mereka meniru teknik yang digunakan Elish, Luxira, dan Vero. Bahkan jika Elish menggunakan teknik magis. Tapi tenang saja, semua itu ada batasannya. Ada teknik magis milik Elish yang tentu tidak bisa ditiru, termasuk teknik penyembuhan. Elf hanyalah makhluk abadi yang memiliki kemampuan magis yang terbatas. Mereka bukan peri. Jika peri adalah bagian dari alam, Elf hanyalah makhluk seperti manusia, hanya saja lebih magis. Itu saja. Elf harus kawin untuk melahirkan. Sementara peri tercipta oleh alam, muncul begitu saja. Dan Elish, ia adalah setengah Elf, setengah manusia, dan memiliki kekuatan peri. Kekuatan yang ia pegang sekarang hanya bagian kecilnya saja.

Saat kekuatan Eriva yang terkurung dalam potongan sayap itu keluar, ada tiga potongan kecil yang tertinggal. Satu masuk ke tubuh Narama, satu masuk ke tubuh Grace, dan satu lagi masuk ke tubuh Aerin, yang akhirnya diturunkan ke Elish, sebagai reinkarnasi dari Eriva. Dan itu hanya tiga potongan kecil saja. Kekuatan terbesarnya justru melesat ke langit. Kekuatan tersebut masih dalam satu kesatuan. Akan ada masanya, kekuatan besar itu akan kembali pada pemiliknya.

Peperangan itu masih berlanjut. Pertarungan pedang, sesekali menggunakan teknik magis. Mereka bertiga tidak ada yang tumbang. Saat hampir tumbang, Elish memberikan bantuan. Saat kelelahan, Elish mengirimkan energi baru. Satu hari berlalu, matahari hampir tumbang. Sebentar lagi gelap akan mengambil alih. Elish tidak menunjukkan tanda kelelahan. Juga Luxira dan Vero yang terus mendapat bantuan energi dari Elish. Grace, Leon, dan Stella pun sama. Sel-sel di tubuh Elish terus saling menyembuhkan satu sama lain. Tak ada lelah, tak ada matinya.

Dann sudah turun ke medan pertempuran beberapa menit yang lalu. Beberapa pasukan yang kelelahan sudah mundur. Digantikan masukan yang sebelumnya bersembunyi di semak-semak, yang ada di garis belakang.

Dann langsung berhadapan dengan Elish. Kini Elish menghadapi lawan yang lebih sulit. Namun tidak menjadi masalah. Sel dalam tubuh Elish telah berevolusi, menjadi lebih kuat. Seharian bertarung membuatnya belajar banyak hal. Kini ia telah memegang pedang Elf di tangan kanannya, yang ia dapat dari Elf perempuan yang telah ia tumbangkan. Sementara bilahnya ada di tangan kiri. Ia tidak butuh lagi berpegang pada tali kekang, tubuhnya bisa seimbang tanpa pegangan. Bajunya telah berlumuran darah lawan, dan keringat. Sorot matanya yang lembut sekarang berubah menjadi tajam. Ia bukanlah Elish seperti yang terlihat tadi pagi. Ia seperti telah menjadi seseorang yang berbeda.

Saat bertatapan dengan Elish, jujur saja Dann sedikit gentar. Namun ia tak boleh terlena. Ia harus tetap kuat untuk memenangkan pertarungan ini.

SROOOOOMMM…

Elish menyerang lebih dulu. Dann bisa menghindar.

SROOOOMMM… kali ini dibarengi dengan tenaga panas.

Dann menghindar lagi. Hawa panasnya terasa ke kulit Dann, walaupun serangan itu tidak mengenainya. Serangan itu justru mengenai Elf lain. Seperti tenaga beku seperti es, namun panas membara seperti api. Serangan itu jika mengenai lawan, ia akan membeku di dalam kristal es, namun terasa panas membakar kulit. Bahkan sampai membakar seluruh organ dalam tubuh. Elf yang terkena serangan itu langsung tewas terpanggang.

Elish marah. Ia ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Ia geram karena semua terasa menjengkelkan.

“Kalian mau menyerah saja atau kuhancurkan semuanya?!” teriak Elish.

“Aku tidak akan menyerah begitu saja. Juga pasukanku.” Jawab Dann dengan berani.

Lihat selengkapnya