Cahaya terang melesat jauh, melewati apa saja. Seperti lampu sorot yang sekilas memberi penerangan. Namun ia membunuh musuh. Melumpuhkan banyak hal. Cahaya itu menutup pintu antar dunia. Dunia peri, Elf, Elfear, dan manusia. Semua pintu tertutup, memberi sekat pada masing-masing dunia. Perubahan yang pada akhirnya membuat bangsa Elf, peri, dan Elfear hanya akan menjadi legenda bagi manusia. Elfear yang menetap di dunia manusia lambat laun akan kehilangan genetik asli mereka. Fisik mereka akan sama seperti manusia. Pun tumbuhan yang sebelumnya memiliki nyawa magis, akan kehilangan keistimewaan tersebut. Manusia yang terjebak di dunia Elfear tidak akan bisa menemukan jalan pulang. Semua akses tertutup dalam sekejap mata.
Perubahan ini tentu saja sangat mengejutkan. Terjadi begitu cepat seperti satu kedipan mata. Kepanikan terasa bagi mereka yang sadar apa yang telah terjadi. Namun banyak juga yang tidak tahu. Tapi tentu saja kegemparan ini akan segera meluas. Alam bekerja dengan rumusnya sendiri. Terpicu oleh kekuatan Eriva yang barusan jatuh.
Dahulu tubuh mungil Eriva tidak begitu kokoh untuk menampung kekuatan besar tersebut. Namun sekarang tubuh Elish jauh lebih siap dibandingkan tubuh Eriva. Keberanian, kemarahan, lelah, putus asa, harapan, cinta, bercampur menjadi satu membentuk cangkang yang kokoh. Apa yang barusan terjadi adalah terjemahan dari harapan Elish dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kekuatan tersebut membaca pola sendiri.
Terbukanya pintu antar dunia memang bagus, namun jika satu bangsa ingin lebih unggul dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuatan, suatu saat hal itu akan menimbulkan peperangan besar antar bangsa. Elish membaca situasi dengan cepat. Keserakahan itu, pasti akan menuju sesuatu yang buruk suatu saat nanti. Kekuatan Eriva mencegah semuanya sebelum benar-benar terjadi.
Biarlah, semua ada pada tempatnya.
.
.
Di sini Tetua Je belum menyadari bahwa semuanya telah berubah. Ia yang sedari tadi bersembunyi, keluar dari persembunyiannya. Perlahan, dengan kepercayaan diri penuh. Ia fikir tetap hidup adalah karena kekuatan yang ia miliki cukup hebat.
Vero, Elish, dan Luxira melihatnya berjalan mendekat. Tubuh tuanya tetap gagah. Dengan jubah perang yang lengkap. Pedang perangnya belum terhunus. Elish mengambil posisi di tengah, maju 2 langkah lebih depan dari Vero dan Luxira.
Saat Tetua Je semakin dekat, ia menunduk memberi hormat. Vero yang tidak menduga hal itu, ragu-ragu mengikuti Elish, juga Luxira. Ini bukanlah tempat untuk beramah tamah, begitulah pikir Vero. Namun karena sejak awal ia memberikan posisi pemimpin pada Elish, maka ia harus mengikuti pemimpinnya.
Yang Elish fikirkan adalah, ia ingin mengakhiri peperangan cukup sampai di sini. Tidak ada lagi kelanjutan dari peperangan yang tadi. Makanya ia memilih untuk menunduk hormat pada Tetua Je, berharap semuanya sudah selesai.
Namun tentu yang difikirkan Tetua Je berbeda. Ia telah memulai, maka ia akan melakukannya hingga akhir.
“Eriva...!!!” nama itu yang disebut Tetua Je.