If We Ever Had a Chance to Break the Silent

kound
Chapter #5

Kartu Tanda Pengenal

Bermula dari instruksi mendadak Bu Niar yang menambahkan dua liputan karena reporter yang bertugas berhalangan hadir, yaitu liputan meet and greet artis dan liputan pasca demo pengesahan undang-undang. Jesika bergerak cepat mengambil liputan meet and greet karena lebih ringan dan lebih menjual. Anna protes karena Jesika tidak pernah meliput demo. Jesika tidak peduli, siapa cepat sampai, dia dapat. Anna protes ke Bu Niar untuk menentukan keputusan liputan. Bu Niar yang lelah menghadapi konflik keduanya memilih tidak memihak dan hanya menegaskan bahwa dua liputan itu harus selesai besok. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Jesika untuk pergi lebih dulu dengan peralatan lengkap, tas, kamera dan kunci mobilnya meninggalkan Anna dalam campuran rasa kesal dan gengsi yang menyesakkan dada. Sudah cukup Anna mengalah selama ini, ia tidak ingin lagi. Anna bergegas juga meraih tas dan kameranya, lalu mencoba memesan kendaraan online yang sayangnya terhambat kemacetan parah. Dalam tekanan waktu dan harga diri, ia mengambil keputusan nekat meminjam motor satpam kantor yang sudah cukup akrab dengannya. Ia melaju menembus jalanan Senayan yang padat dan panas, dengan adrenalin yang justru membuatnya semakin bersemangat untuk membuktikan dirinya mampu sampai lebih dulu. Namun ambisinya terhenti mendadak ketika sebuah motor polisi memintanya menepi, membuat jantungnya berdegup tidak beraturan dan pikirannya mendadak kosong karena muncul sosok yang tidak pernah duga walaupun selalu ia bayangkan, Rey.

Hari semakin sore dan Anna hanya duduk memandang monitor dengan pikirannya yang selalu teringat pada Rey.

Tidak banyak yang berubah. Rey tetap ganteng dan keren. Bahkan jadi semakin mempesona dengan seragam coklat itu. Ah, Anna harusnya senang karena apa yang selama ini ia harapkan akhirnya terjadi juga. Bisa bertemu lagi dengan Rey. Tapi entah kenapa yang ia rasakan hanya takut, cemas, gelisah dan bingung. Bingung harus gimana untuk mengambil ktp-nya.

Tidak ada jalan lain, selain menceritakan pada Rani. Pertemuan di lampu merah, surat tilang berisi nomor telepon dan ucapan Rey yang bilang "ambil ktp-nya di aku." Anna benar-benar merinding membayangkannya. Bahkan sampai Bu Niar lewat dan memperhatikannya. Anna jadi canggung lalu membahas kepastian liputan apa yang Anna kerjakan. Ya, tentu saja liputan demo karena pasti Jesika sudah sampai di gedung meet and greet itu. Bu Niar tersenyum meminta Anna berikan besok pagi lalu pergi. Anna benar-benar duduk tenggelam dalam frustasinya.

Langit Jakarta sudah menggelap ketika jarum jam menunjuk pukul 19.55. Ruang redaksi lt.15 yang biasanya riuh kini hanya menyisakan bunyi ketikan pelan dari meja Anna. Ia masih duduk tegak di depan monitor, menuntaskan artikel liputan pasca demo pengesahan undang-undang yang cukup menyita seluruh energinya. Anna membeli draft dan foto-foto dari rekan pers kantor lain. Praktik yang sebenarnya lumrah dalam dunia jurnalistik. Hanya saja, nominal yang harus ia transfer sore tadi cukup tinggi. Anna sempat terdiam menatap notifikasi pembayaran yang berhasil. Jika dibandingkan dengan uang damai saat ditilang oleh Rey dan kawan-kawannya, Anna pikir sama saja. Tapi, maksud Anna, polisi yang ia hadapi juga bukan orang asing, melainkan Rey, teman SMAnya dulu. Bukankah biasanya bisa damai atas dasar toleransi pertemanan? Tapi Rey justru tetap menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan wajah profesional yang walaupun tampan tapi nyaris menyebalkan.

"Ha ha ha, mungkin dia gak anggap lu teman kali, Ann," ucap Rani di telepon, menemani jam lembur Anna yang sudah hampir selesai mengetik.

"Ya, gak tau sih. Tapi, setidaknya bantu gue sebagai orang yang pernah kasih dia makanan gratis dulu."

"Ha ha ha. Lagian dulu lu sih kecintaan banget."

Anna terdiam lalu tersenyum. Itu benar.

"Gini aja, lu langsung tanya berapa duit untuk ambil ktp lu," ucap Rani "Dia pasti nunggu itu. Semua aparat hukum negara ini kaya gitu. Ada uang, baru selesai."


Di belahan langit Jakarta yang lain. Di pusat kota Jakarta. Demo masih ramai memenuhi depan gedung dpr/mpr. Pleton Tiger dibawah kepemimpinan Rey bertugas penuh. Rey berdiri di garis depan selama hampir 12 jam. Meski berjalan tertib, ia tetap waspada memperhatikan bagaimana para masyarakat bersuara dan berpendapat.

“JANGAN MATIKAN KEADILAN! MATIKAN SAJA PERASAANKU UNTUKNYA!!!” teriak salah seorang mahasiswa disambut ramai dukungan oleh banyak orang.

Rey ketawa berbisik ke anggotanya, “Kayanya itu bukan buat pemerintah tapi buat cewek dibelakangannya.”

Anggotanya ketawa, “Siap. Bisa jadi Ndan, ha ha ha.”

Pada dasarnya, Rey tidak membenci demonstrasi. Baginya, demonstrasi adalah alarm untuk mengingatkan semua orang bahwa negara ini bukan milik keluarga tertentu. Dan polisi bukan sekedar pion, tameng atau alat pemerintah untuk melindungi diri dari demo. Polisi, setidaknya menurut Rey, adalah pelindung negara untuk tetap pada sisi yang benar. Masalahnya, sulit mencari kebenaran di negara ini. Jadi, Rey menurunkan idealisnya dengan melindungi apa yang ia sayangi saja, tak peduli benar atau salah. Rey terus berdiri mengawasi, dan memperhatikan ke segala titik, arah dan lokasi aksi demo. Ia berharap tidak menemukan wajah seseorang yang sedang ia cari. Untungnya memang tidak. Demo dinyatakan selesai pukul 23.15.

Setelah area dipastikan steril. Rey masuk mobil patrolinya dan membuka ponsel yang seharian tidak tersentuh. Ia memang tidak membawa ponsel ketika sedang bertugas. Bukan larangan, hanya aja itu akan menganggu pekerjaannya. Notifikasi menumpuk. Salah satunya dari Lika yang meminta video call jika sudah selesai. Rey memilih telepon suara.

“Kenapa gak VC?” protes Lika begitu tersambung.

“Lagi jelek. Kotor. Debu semua.”

Lika tertawa, “Kamu mandi lumpur atau pake helm riot juga tetap ganteng kok sayang.”

Rey ikut tertawa dan menceritakan kejadian lucu oleh mahasiswa saat orasi demo. Rey minta pendapat Lika karena juga seorang mahasiswa. Gak ikutan?

“Enggaklah. Mereka itu latihan doang, sayang," ucap Lika "BEM kampusku juga dilatih orasi, kamu tau sama siapa? sama orang DPR yang sekarang lagi menjabat, yang mereka tuntut itu. Biar nanti mereka dapat kursi. Mereka lagi investasi karier, bukan bela negara.”

“Wah, seru yah,” ujar Rey.

“Iya. Kenyataannya kaya gitu. Makanya aku sering bilang, kamu jangan terlalu keras kerja. Yang kamu lindungi sekarang belum tentu akan ada dipihak kamu nanti.”

Rey terdiam. Kalimat itu mengendap. Sementara Lika ceritakan kesibukan sosial medianya dan tawaran endorsement untuk kerja sama dibeberapa brand.

“Eh, ada yang minta spill muka kamu. Boleh gak sih? Banyak yang komen foto kamu, katanya ganteng, terus bilang kita couple goals ha ha ha.”

Rey tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh pada sebuah KTP di dashboard. Rey mengambilnya. Memandang wajah gadis di sisi kanan kartu itu. Wajah yang dulu selalu ia lihat di lorong sekolah. Sorot mata yang dulu ia selalu tangkap sedang memandanginya. Gadis yang katanya dulu, menyukainya.

Rey jadi teringat pertemuannya dengan Anna ditengah demo beberapa waktu lalu. Gadis di ktp itu, sekarang sudah agak lebih tinggi. Wajahnya juga sedikit lebih berubah, sudah tidak polos lagi. Dan, sedikit lebih tangguh. Rey tersenyum memandangi foto Anna.

Nama Lengkap: Anna Lavenia

Tanggal Lahir: Jakarta, 21/09/1998

Tanggal lahir itu menyeret ingatan Rey ke satu malam sepuluh tahun yang lalu, tanggal 20 september 2015.

Ia pernah keliling kota mencari toko bunga yang masih buka. Hanya karena melihat profile BBM Anna dan menemukan tanggal lahirnya 21/09/1998. Rey membeli bunga untuk Anna. Tujuannya bukan hanya sebagai hadiah ulang tahun. Lebih dari itu, ia ingin minta maaf karena sudah marah di rumah sakit. Apalagi Rani sudah mengaku bahwa yang memberi tahu orang tuanya adalah Rani bukan Anna. Tapi sejak itu, Anna tidak lagi menemuinya. Bahkan tidak membuka obrolan apapun lagi dengannya. Jadi, Rey juga merasa terbatas untuk bicara walaupun hanya untuk minta maaf. Saat itu, Rey tetap datang dengan bunga yang ia atur skenario pemberian orang untuknya agar tidak terlihat aneh. Sampai jam istirahat. Rey membawa bunga itu ke kelas Anna yang bersamaan keluar kelas. Alih-alih ingin berkata maaf. Tapi jiwa remajanya terlalu kaku. Ia hanya ingin Anna menerima bunganya saja untuk kemudian jadi jembatan mereka bisa ngobrol lagi. Saat itu, Rey kira Anna akan kirim pesan ucapan terima kasih. Tapi ternyata tidak. Sejak hari itu, Anna tak pernah menghubunginya lagi. Bahkan sampai akhirnya ia tahu, Anna pindah sekolah. Bahkan saat mereka bertemu kembali. Bahkan setelah Anna mendapatkan nomornya lagi. Anna tidak juga menghubunginya.

Rey mengecek riwayat panggilan. Tidak ada panggilan nomor lain.

“Rey? Kamu masih dengerin aku gak sih?” suara Lika memotong lamunannya.

“Iya. Am, aku capek. Mau nyetir dulu ya.”

“Yaudah. Dadah sayang. I love you.”

“Love you too.”

“Sayangnya mana?”

Rey menghela napas kecil, “Love you too, sayang.”

Telepon berakhir.

Rey pulang menyusuri beberapa ruas jalan yang memang jadi kawasan patroli. Sekalian pengecekan, pikirnya. Begitulah Rey, selalu totalitas dalam bertugas. Kondisi beberapa jalan mulai lengang di hampir jam dua belas malam.

Namun tidak lama-lama. Tiba-tiba raungan motor memecah sunyi.

“Tolongggg!!!! Begal! Begal!” teriak seorang ojek online.

Rey terkesima menoleh ke luar dan langsung aktifkan HT, “Tiger monitor, tiger yang bertugas pergi ke djuanda utara sekarang. Ada begal ojol 2 orang. Kemungkinan ada korban terluka.”

“Siap, Ndan! Laksanakan, Ndan!"

Rey memacu mobil. Dikejahuan, dua orang pelaku terlihat sedang melucuti kendaraan dan ponsel korban. Rey turun, berlari.

Lihat selengkapnya