Pukul 09.00 pagi Rey tiba di markas dengan langkah ringan. Tubuhnya kembali bugar, luka semalam oleh kejadian begal tinggal perih tipis yang tak berarti. Namun yang paling mencolok bukan itu, melainkan senyum yang sulit ia sembunyikan.
Beberapa anggota saling lirik.
“Komandan kelihatan cerah banget pagi ini,” celetuk salah satu dari mereka.
“Aman,” jawab Rey singkat, senyumnya tipis namun tak bisa dipadamkan, “Ah, cuacanya lagi bagus.”
Senyum antar anggota saling memudar karena langit justru sedang mendung.
Ponsel Rey bergetar. Notifikasi pesan masuk. Nama itu muncul di layar: Anna. Nomornya sudah ia simpan. Rey membuka pesan itu cepat.
“KTP-ku gimana?”
Rey terkekeh pelan. Ia membalas santai:
“Ketinggalan di toilet.”
Tak sampai semenit, balasan masuk.
“Ngapain bawa KTP ke toilet, sih? Aku perlu ktp, Rey. Itu penting!”
Rey tertawa lebih lepas kali ini. Ada sesuatu dari nada kesal Anna yang justru terasa hidup.
Rey mengetik pelan:
“Nggak semua yang penting selalu ada di tempat yang tepat.”
Beberapa detik tak ada balasan. Rey menatap layar, menunggu, entah menunggu apa. Danki Irvan lewat dan memperhatikan Rey dengan tatapan aneh karena sangat berseri. Rey menyadari dan langsung menyimpan ponselnya dan beranjak menepuk bahu Danki Irvan.
“Pagi Dank, hari ini ada demo apa aja?”
Irvan mengernyit, “Semalam baru babak belur, kamu sudah mau cari ribut lagi?”
“Bukan cari ribut Dank,” ujarnya tenang, “Saya hanya mau memastikan kalau negara ini masih butuh dijaga. Banyak penjahat yang gak terlihat.”
Danki Irvan menatapnya heran, “Semangat banget yah Komandan hari ini.”
Rey tersenyum, kali ini lebih dalam, "Siap Dank, saya sudah menemukan sisi menyenangkan kerja di samapta!"
-----
Di ruang redaksi, suara Bu Niar menggelegar tanpa jeda.
“Kamu nggak meliput sidang, Anna? Itu agenda utama hari ini! Kamu, kamu tau siapa yang disidang kan? Komisaris pertamina!! Kasus kelas kakap!!”
Anna berdiri tegak, wajahnya tenang meski dadanya bergetar, “Iya, maaf, Bu. Tapi saya lupa bawa dompet, ktp disana semua.”
“Pulang!!!” tegas Bu Niar, “Kamu reporter. Identitas itu nyawa kamu. Sekarang juga pulang, ambil!”
Anna mengangguk, “Baik, Bu.”
Ia keluar ruangan dengan langkah teratur. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Namun arah kakinya bukan ke parkiran. Ia berhenti di ujung koridor, menarik napas panjang, lalu menekan nama Rey di layar ponselnya.
Telepon tersambung.
“Kamu ada waktu nggak buat pulang ambil KTP aku sekarang?” tanya Anna tanpa basa-basi.
Di seberang sana, suara Rey terdengar lebih berat dari biasanya. “Nggak bisa. Aku lagi di Ambon.”
Anna terdiam sepersekian detik. “Ambon?” ulangnya, tak menyangka jaraknya sejauh itu.
“Iya. Tugas.”
Nada Anna naik tanpa ia sadari. “Terus KTP aku gimana?”
“Ya nanti. Tunggu aku pulang.”
“Aku butuh buat kerja, Rey.”
“Aku juga lagi kerja, Anna.”
Hening.
Dua orang, sama-sama lelah, sama-sama merasa paling terdesak.
“Ktp aku di kamu, itu penting. Terus kamu bilang tunggu? Aku yang samperin kamu deh untuk ambil,” keluh Anna.
“Dan kamu pikir aku bisa teleportasi?” balas Rey, nada suaranya mulai mengeras, “Ini bukan soal malas. Ini soal keadaan.”
“Iya, keadaan kamu,” potong Anna “Aku juga punya keadaan. Kapan pastinya?!!"
"Nanti."
Klik. Panggilan terputus. Anna benar-benar pusing menghadapi Rey. Ia kirim pesan untuk apakah bisa ia ambil sendiri di toilet rumah Rey? Rey bilang gak bisa. Tunggu ia pulang aja. Anna kesal banget. Mau tunggu berapa hari dia dari Ambon.
-----
Dua hari berlalu tanpa satu pun pesan dari Anna. Tak ada notifikasi. Tak ada nada dering.
Rey beberapa kali membuka layar ponselnya, membaca ulang percakapan terakhir mereka. Kalimat-kalimat itu terasa lebih tajam setelah sunyi mengambil alih. Rey menghela napas. Entah kenapa, dua hari tanpa kabar terasa lebih panjang dari dua malam patroli.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Rey mengangkat.
“Rey, ini gue Rani.”
“Rani mana?” tanyanya refleks.
“Gue dapet nomor lu dari Anna.”
Rey langsung paham.
Rani tak berputar-putar, “Dia dimarahin bosnya. Udah beberapa hari nggak liputan. Mending lu balikin KTP-nya. Atau kapan lu sampai Jakarta?”
“Jakarta?” Rey mengernyit “Maksudnya?”
“Sekarang lu di Ambon, kan?”
Rey terdiam sebentar, lalu tertawa kecil, “Enggak. Gue di Jakarta.”
“Loh? Anna bilang lu di Ambon.”
“Oh,” Rey menyandarkan punggungnya, “Maksudnya Kampung Ambon. Kemarin patroli di sana.”
Hening beberapa detik di ujung sana.
“Kampung Ambon, Jakarta Timur?” suara Rani berubah pelan.
“Iya.”
Rani menarik napas panjang, seolah sedang menyusun ulang logika.
“Bilang sama dia,” ujar Rey ringan, “ambil sendiri.”
Rey langsung menutup telepon sambil terkekeh siapa yang di Ambon?Pantesan dua hari gak ada permintaan. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering.
Anna.
Senyum Rey semakin merekah bahkan akhirnya ia angkat.
“Aku udah lewatin empat liputan ya Rey!!!” suara Anna meledak tanpa salam.
"Ya, kenapa kamu lewatin?"
"KTP aku di kamu!!! Aku gak bisa ngeliput!!!"
“Ya, kamu aja nggak minta kemarin. Aku kira udah nggak butuh.”
“Kamu bilang di Ambon!” protesnya gemas “Ngomong makanya yang lengkap!!!”
“Aku kira kamu tahu.”
“Kira-kira aja terus!!!" balas Anna cepat “Kamu tau, kalau aku nggak liputan, gaji aku dipotong.”
Nada suara Anna mulai turun. Bukan marah lagi, lebih seperti lelah.
“Aku kemarin sampai beli berita dari kantor lain. Lumayan banyak uang yang keluar. Tetap dipotong karena nggak turun lapangan. Cari berita itu nggak gampang, Rey. Kalau nggak cukup ‘menjual’, ditolak redaksi. Tapi buat masuk ke lokasi, aku perlu kartu tanda pengenal.”
Rey terdiam mendengarkan, lalu bilang, "Aku gak terlalu tau pekerjaan kamu kaya gimana, tapi aku bukan yang mudah berempati dengan cerita sedih orang. Jadi, jangan berharap cerita kamu itu menyelesaikan semuanya. Kamu perlu ktp, ambil sendiri."
Emosi Anna tetiba naik ke tenggorokan dan ingin membanting handphonenya tapi jangan, tidak ada lagi.
“Ya sudah,” ujar Rey akhirnya, tenang “Ketemu saja. Ambil KTP kamu.”
“Ayo!” jawab Anna cepat, hampir tanpa jeda.
“Malam ini, di Hotel Kuningan aja, bagaimana?”
Sunyi.
Di seberang sana, tangan Anna mengepal. Ia tahu nada itu setengah menggoda, setengah menguji. Tanpa menjawab, ia memutus panggilan.
Rey menatap layar, lalu mengirim pesan singkat.
“Mau nggak?”
Anna mengetik cepat.
“Aku emang suka sama kamu, tapi aku punya harga diri.”
Ia berhenti. Membaca ulang. Menghapus.
Lalu menggantinya,
“Aku memang perlu KTP, tapi aku punya harga diri.”
Pesan terkirim.
Rey membacanya lalu tertawa lepas.
“Mikir apa sih,” gumamnya.
Beberapa jam kemudian, layar televisi di ruang siaga menampilkan breaking news. Gala dinner petinggi ASEAN digelar di Hotel Kuningan, menjelang KTT ASEAN Jakarta. Pengamanan diperketat.
Komandan pleton yang ditugaskan menjaga perimeter hotel malam itu, Rey.
-----
Sudah resmi seminggu KTP Anna berada di tangan Rey. Seminggu pula, Rey selalu ada aja alasan ketika diminta : tugas mendadak, pengamanan tambahan, rapat internal, ke luar kota. Agenda pertemuan itu tak pernah benar-benar terjadi.
Sementara di kantor TVS, waktu berjalan lebih kejam.