"Mantan wakil direktur Grays Corps, Kevin Triwijaya resmi dinaikkan statusnya dari saksi menjadi tersangka oleh pihak kepolisian atas kasus penyelundupan barang terlarang dan keterlibatannya dalam jaringan perdagangan manusia skala internasional."
Bu Irene menambah volume televisi setelah memastikan tidur sang anak di pangkuannya tidak akan terusik. Seorang jurnalis sedang menyampaikan informasi terbaru mengenai berita kriminal yang sejak satu minggu lalu menjadi headline berbagai stasiun televisi nasional hingga media asing.
"Mengantongi bukti hasil sitaan dari kediaman Triwijaya, pihak kepolisian masih terus berupaya menangkap semua oknum yang diduga terlibat dalam kejahatan ini. Sekarang kami berada di tempat diselenggarakannya konferensi pers bersama rekan-rekan media, menunggu keterangan lebih detail dari tim penyidik mengenai perkembangan proses pemeriksaannya sesaat lagi. Mari dinantikan bersama."
"Ibu..."
Bu Irene terlonjak kecil. Ia menunduk, memperhatikan putra semata wayangnya tiba-tiba terbangun dan tampak gelisah. "Kenapa, Nak? Mau pindah ke kamar?"
Rayn menggeliat. Ia menyibak selimut lalu bangun dan duduk di sebelah ibunya.
"Ayah belum datang ya, Bu? Katanya mau pulang hari ini, kok belum nyampe?"
Bu Irene tersenyum kecil. Ia mengelus rambut putranya penuh sayang, "Jadwal penerbangan ayah dari Surabaya diundur beberapa jam karena cuaca buruk, Nak. Tapi ayah tetap pulang malam ini. Sekarang tidur lagi, ya. Kalau ayah sudah datang ibu bangunkan."
"Benar ya, Bu? Janji?" Bocah itu beringsut mendekat, memandangi mata ibunya dalam-dalam seolah tak percaya. Bu Irene terkekeh sejenak kemudian mengangguk mengiyakan.
"Ibu janji."
Rayn menghambur ke dalam pelukan erat sang ibu. Sejak kemarin ia sudah menyiapkan rencana akan mengajak jalan-jalan kedua orang tuanya ke beberapa tempat seru yang selalu diceritakan teman-teman di sekolah.
Rayn kembali merebahkan badan. Bu Irene mematikan televisi, membelai rambutnya sambil bersenandung kecil. Bi Nilam, asisten rumah tangga mereka masuk ke ruang tengah lalu menutup seluruh jendela dengan tirai. Diangkatnya cangkir kosong bekas teh dari hadapan majikannya menuju dapur.
Gemuruh panjang disusul tiupan angin kencang terdengar bersahutan di kejauhan.
Bu Irene menatap pintu.
Ayah Rayn pasti pulang.
------
"Pergi kalian!!! Lepaskan suami saya!!!"
Rayn tersentak bangun di atas tempat tidur kamarnya yang gelap. Hujan masih turun dengan lebat, namun tak dapat meredam teriakan disusul bunyi benda berjatuhan di balik pintu.