IF YOU COME TO ME TONIGHT

reyaav
Chapter #2

BU ANIKA DAN TUAN ES KELAPA MUDA

Seratus ribu rupiah.

Gia berdiri tegak usai meletakkan dua jerigen terakhir dari dalam gerobak ke lantai teras. Dirogohnya tas kecil di pinggang hendak mengambil kembalian, tetapi tangan Bu Anika lebih dulu menahannya. 

Gia membisu, memandangi enam jerigen berisi air minum itu dan uang yang disodorkan padanya bergantian. Ia menggeleng cepat. Kakinya mundur dua langkah.

Senyum di bibir Bu Anika perlahan menghilang. Dengan wajah ditekuk, ia menarik tangan lalu bersedekap, menaikkan dagu, memperhatikan Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki sebelum akhirnya menatap gadis itu dengan tajam, seperti baru saja dikecewakan, "Katakan, siapa yang telah memesan air begitu banyak hingga berani-beraninya uang mungil ibu tidak kau terima?"

Gia menunduk dalam, berusaha menahan senyum yang nyaris pecah di ujung bibir. Ia kembali mendongak lalu menghela napas pasrah, "Bu, akting ibu belum berkembang sejak kemarin. Menyerah saja. Atau, besok dicoba lagi."

Bu Anika terbahak. Ia masih berupaya membujuk Gia dengan memberikan uangnya, "Ambil. Lumayan buat masa depan."

"Bu, enam jerigen hanya tiga puluh ribu. Kalau setiap kali saya datang ibu ngasihnya selalu lebih, saya bisa cepat kaya raya." Gia mengomel kecil. 

"Ya bagus!" Bu Anika mengangguk mantap, namun ekspresinya tiba-tiba berubah, "Oh, jangan. Kalau kamu cepat kaya, kamu nggak akan sudi lagi mengantar air untuk ibu. Jangan kaya dulu."

Gia geleng-geleng kepala mendengar celotehan Bu Anika sembari menadahkan tangan, "Tiga puluh ribu." 

"Seratus ribu."

"Ibu beli air apa donasi? Besok saya gak dateng lagi, ah. Saya coret ibu dari daftar langganan saya."

"Eh, kok gitu?" Wajah Bu Anika panik. Ia protes, "Kamu ini, dikasih lebih malah marah sama ibu. Ya udah, bentar. Ibu ambil uang dulu di belakang. Awas, kalau sampai pergi dan bawa kabur semua jerigen ini. Ibu mengamuk ke warga." 

Gia membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi Bu Anika sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Gia tersenyum kecil sembari menghela napas panjang, memilih mengedarkan pandangannya di sekitar halaman rumah lalu sepintas melirik gerobak yang terikat di belakang motor di luar pagar. 

Masih ada beberapa pesanan air minum dalam jerigen yang harus diantarkan ke rumah warga. Namun, transaksi di rumah Bu Anika entah kenapa tak pernah sesederhana mengantarkan air, menerima bayaran lalu pergi begitu saja.

Suara mesin mobil terdengar dari arah jalan. Gia menoleh saat sebuah mobil pikap berwarna hitam memasuki halaman rumah Bu Anika. Bak belakangnya dipenuhi kelapa yang masih bertandan, sebagian ditumpuk begitu saja di atas terpal. 

Setelah memarkir mobil, seorang pria turun. Ia menenteng dua butir kelapa muda dari bak belakang lalu mendekat, hendak masuk ke dalam rumah. 

Pria itu berhenti saat melihat Gia sedang duduk di kursi teras. Gia langsung berdiri seolah sejak tadi menunggu, "Radika, bisa minta tolong panggilin ibumu nggak? Belum keluar juga dari tadi."

Lihat selengkapnya