Playlist musik Ik Hou van Jou dapat diputar melalui: Soundtrack 'Ik Hou van Jou - Wattpad/Youtube.
BAB SATU
AKU BERLARI melewati lapangan dengan kaki-kakiku yang panjang menuju kelas. Saat itu aku terlambat masuk kelas bahasa Arab. Aku berharap semoga saja Pak Sofyan masih berada dalam perjalanan menuju kelas.
Pak Sofyan adalah guru bahasa Arab. Ia dikenal karena kegalakannya. Pernah suatu ketika, ia melempar sepatu miliknya ke wajah muridnya sendiri. Muridnya berkelakuan buruk padanya, sampai-sampai Pak Sofyan sangat menyayangi murid-muridnya. Itu mungkin bentuk rasa sayangnya.
Ketika sampai di depan kelas, syukurlah aku datang lebih awal daripada Pak Sofyan. Aku duduk di kursi yang paling belakang. Ketika aku duduk, tak lama Pak Sofyan masuk memberi salam dan disambut dengan salam oleh seisi kelas.
"Kayf haluk?" Seisi kelas hening. "madha taealamna alasbue almadi?" kelas semakin hening. Kemudian pak Sofyan menaruh bukunya di meja dan berkata: "Minggu lalu kita belajar apa?"
Sontak seisi kelas kompak menjawab: "Bilangan, pak!"
Kadang memang Pak Sofyan berbicara dalam bahasa Arab yang tak diketahui artinya oleh murid-muridnya. Dan itu cukup menjadi bahan humor bagiku apalagi ketika sedang tak punya tugas-tugas untuk dikerjakan. Aku kerap melagakan tindak Pak Sofyan di depan teman-teman di asrama.
Setelah kelas selesai, aku dan teman-temanku berniat mengunjungi perpustakaan. Fariz menyarankan untuk pulang ke asrama, namun Fatih tak setuju dengan usulan tersebut.
"Sampai kapan kau begini? Takut dengan aturan?" kata Fatih. Fariz tak membela, bahkan ia tak bergeming sekali pun.
Aku, Fatih, Azmi, dan Fariz pada akhirnya masuk perpustakaan tanpa izin dari guru pengawas. Ini merupakan benar-benar pelanggaran aturan yang dibuat oleh kami. Karena kelas sudah berakhir, keadaan perpustakaan kosong tanpa orang.
"Kenapa kita ke perpustakaan?" tanya Fariz.
"Jelaslah kita akan membaca buku," jawabku. "Kau suka buku apa?"
"Aku tak begitu suka membaca, Hus," balas Fariz.
"Lalu kenapa kau ikut dengan kami?" tanya Fatih.
"Tak punya pilihan,"
Kami mulai mencari-cari buku mana yang kami sukai. Aku ke rak buku fiksi. Fatih ke rak sejarah. Azmi ke rak buku pelajaran. Sementara Fariz hanya melihat-lihat rak-rak yang dipenuhi buku-buku dan entah mengapa buku-buku di situ tampak pula memerhatikannya.
"Kepalaku pusing," kata Fariz.
"Astaga. Hanya membaca judul-judulnya saja kau pusing, Riz," sindir Fatih.
"Kalau kau mau pulang ke asrama, pulang saja. Kami tidak keberatan, kok," kataku.
"Ya, benar. Pulang saja. Tahu pintu keluarnya, kan?" sambung Azmi.
Fariz nampak kecewa. Dalam situasi begini, ia bukannya mendapat pembelaan justru sebaliknya. Ia dipermalukan.
"Lihat ini. Buku pelajaran bahasa Inggris," kata Azmi menunjuk buku-buku yang masih bergeletakan di lantai. Aku dan Fatih penasaran bahkan Fariz pun juga.
"Mana sini, aku mau lihat," kata Fatih. "Wah, gambar perempuan, ya," Fatih dan aku tak bergeming melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Gambar yang tertera di buku itu adalah perempuan berusia 20-an, dengan baju lengan pendek dan celana jeans ketat serta rambutĀ blonde-nya terurai sampai bahu.
Aku tak berkedip. Azmi terus-terusan memuja kecantikan paras perempuan itu. Fatih membuka penutup gambar lagi, tangannya merasakan betapa kasaranya permukaan kertas itu.
"Ini bukan apa-apa. Hanya gambar perempuan biasa," katanya kecewa.
Tiba-tiba terdengar bunyi sepatu berjalan di luar ruangan. Kami semua panik dan sibuk mencari tempat sembunyi. Fariz berdiri bertopang pada rak buku, kakinya seperti lunak tanpa tulang. Ketika suara itu tak terdengar lagi, rupanya itu hanya suara sepatu yang berjalan melewati depat pintu. Kami pun selamat.
Suatu sore di asrama, Aku dan Fatih sedang asyik membaca al-quran. Sampai tiba-tiba muncul Azmi dan Fariz masuk ke kamar.
"Astaga, mau dengar kisah mengenai Pak Adri tidak?" tanya Azmi. Aku termangu mendengar ini. Aku kemudian menutup Al-Quran, dan menaruhnya di rak buku milikku.