Ikatan Balas Budi

Heni Supriatin
Chapter #5

Bab 5 - Ketika Hidup Tanpa Peran Ayah

Kamu pernah lihat anak perempuan yang hidupnya penuh cinta, kan?

Dia disayang, di ajak jalan sama ayahnya tiap Minggu. Ayahnya selalu hadir di acara penting sekolah, di saat senang, di saat dia jatuh.

Makanya saat dewasa, dia punya figur pelindung dan pemberi kasih sayang, dia tidak mencari validasi untuk dihargai oleh laki laki lain, tidak salah persepsi cinta sebab Ayahnya lah cinta sejatinya, dan dia hidup dalam arahan tentang hubungan yang sehat dengan lawan jenis.

Sedangkan aku?

Aku tanpa ayah ibu dalam pengasuhan nenek kakekku. Mereka sudah menjelang tua, jadi paman dan bibiku (adik dari mama), yang ikut andil di setiap keputusan dan aturan hidupku.

Sejak SD aku dituntut belajar tanpa bermain. Ditekan harus selalu masuk 3 besar. Aku melihat temanku enjoy life, ketawa-ketawa, pulang main, nongkrong.

Akhirnya aku coba-coba juga, apalagi aku lumayan disukai. Aku berganti-ganti pasangan sejak kelas 2 SMP. Bukan karena cinta, Ini sisi pengalihan lelah, Ini sisi pengalihan sepi dan tekanan.

Aku hanya ingin ada yang melihatku, mendengarkan ku. Hanya sebatas itu. Aku bahkan takut kalau bersentuhan akan hamil.

Konyol sekali, bukan?

Lambat laun mereka tahu,tanpa ampun aku dimarahi.

"Kamu mau sekolah atau nikah? Mau jadi apa kamu? Kaya ibu atau bapakmu!" Ucapan kakek itu yang paling menyakitkan.

Setiap kali aku salah, nama ayah dan ibuku pasti ikut diseret. Ponselku dirampas paman, padahal sama sekali tidak mengganggu belajar.

Buktinya di fase itu aku malah bisa juara pertama di kelas. Aku mengalah, lagipula aku juga tidak seserius itu pacaran.Aku cuma cari teman bicara dari hati ke hati, cari tempat bersandar saja.

Dengan segala prestasi yang kutumpuk diam-diam, aku masuk SMA favorit lewat jalur prestasi, Aku juga dapat beasiswa uang tunai.

Di hari pengumuman itu, tidak ada pelukan. Tidak ada "Bangga ya Nak". Yang ada cuma, "Jangan macam-macam di SMA. Ingat bagaimana kami membesarkanmu"

Hari pertama masuk SMA, aku berdiri di gerbang dengan seragam baru dan tas berisi buku. Aku kira hidupku akan sama belajar, ranking, pulang.

Tapi ternyata...

Lihat selengkapnya