Akhirnya aku memberanikan diri menagih janji itu, tidak memaksa, hanya memastikan.
"Raka, kamu masih ingat janji yang kamu buat di hari kelulusan itu kan? " tanyaku.
Aku memandangi layar ponselku. Satu menit, lima menit sampai satu jam tak kunjung di balas pesanku padahal sejak beberapa detik aku mengirimkannya sudah dibuka dua centang biru.
Setelah menunggu beberapa jam kemudian, dia membalas pesanku "Maaf, Kirana. Aku sudah membicarakan ini... dan orangtuaku tidak setuju."
Hanya itu. Empat tahun, empat tahun bertahan di hubungan yang tidak sehat, empat tahun lebih banyak mencintai sendirian, empat tahun nyisihin uang, nyamperin, menunggu.
Kandas, dengan satu kalimat. Belum sempat aku membalas pesannya, tak lama kemudian ibunya mengirim pesan padaku.
"Kirana ya? Raka tak mungkin melamar dalam waktu dekat. Jika mau, tunggu sampai dia sarjana dan mendapatkan kerja. Raka anakku harus sarjana, berpendidikan, Sebab kami dari keluarga berada. Kami pun berharap kelak calonnya demikian. Tolong akhiri hubungan ini"
Aku baca berulang kali, aku mengerti, Atas ketidaksetaraan ini, Atas "standar" itu.
Tapi sekali lagi... aku masih berharap pada Raka.
Berharap dia membelaku. Berharap dia mengklarifikasi, berharap dia bilang "tunggu aku, aku akan bicara lagi dengan kedua orangtuaku."
Tapi yang aku terima...
Dia bahkan tidak mampu mengatakan apa-apa " Maaf Kirana, aku rasa ibuku benar. Kita cukup sampai disini" hanya itu pesan terakhirnya.
Chatku centang dua biru. Teleponku tidak diangkat. Janji setelah empat tahun berakhir di tanggal itu.
Di kamar itu aku menangis, bukan karena perjalanan empat tahun yang ku sesali, tapi bagaimana sikapnya, bagaimana harapanku padanya.
Aku hancur, rasanya kosong.
Seperti rumah yang selama ini kutunggu, pintunya ditutup dari dalam, dan kuncinya tidak pernah dikasih ke aku.