Aku minta izin pada atasan untuk ambil libur satu hari saja.
Menenangkan diri.
Meskipun sedikit rumit, akhirnya beliau mengizinkan. Atasanku tak mentoleransi sekecil apapun kesalahan pekerjaan. Dan di suasana hatiku yang berantakan ini, aku tak siap jika harus dimaki.
Biarlah bagaimana lusa tentang ketidakhadiran ini. Sebab atasanku persis di depan rumahku.
Tapi siapa yang peduli pada perasaanku?
Meskipun seharusnya aku tak boleh menyangkutpautkan perasaan dan pekerjaan.
Seharian aku rebahan.
Setelah bereskan ini itu.
Di situasi apapun, nenek kakekku tidak mau tau tentang aturan "kedisiplinan". Apa yang menjadi tugas rumah harus dikerjakan lebih dulu.
Terkesan keras, bahkan tak jarang aku selayaknya anak laki-laki. Cari kayu bakar, bantu kakek di proyek bangunan.
Tangan lecet, baju kotor, tapi mungkin inilah caraku meringankan beban.
Sore menjelang magrib, sebuah pesan masuk di aplikasi hijau.
"Kiran, masih galau?" Aku buka.
Aku baru ingat, lima hari lalu teman lamaku menghubungi ku setelah bertahun-tahun.
Dia seorang laki-laki, 2 tahun di atasku. Namanya Adit.
Dulu waktu kami kanak-kanak aku begitu membencinya, aku teman dekat adiknya kala itu.
Apapun yang aku lakukan dia seringkali mengomentarinya "Jangan gitu." "Nanti jatuh." "Kamu kebanyakan gaya."
Sebetulnya kami pun teman berpetualang, cari mangga di komplek asrama pelatihan orangtua kami selama 6 bulan, dan ya lagi-lagi aku dan dia selalu saja bertengkar.
Dan kalimat terakhirku padanya waktu itu "Aku membenci mu. Sangat benci. Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu."
Sekarang, 10 tahun kemudian, dia nanya "masih galau?" Aku menatap layar itu lama.