Ikatan Balas Budi

Heni Supriatin
Chapter #8

Bab 8 - Dari Janji Kosong ke Cincin Sederhana

Setelah malam itu, Adit tidak hilang, tidak seperti yang lain.

Chatnya tidak tiap jam. Tapi selalu ada.

"Pagi. Udah sarapan?"

"Jangan lembur terus."

"Hari ini cuaca mendung? Bawa jas hujan."

Cerewet. Sama seperti dulu waktu kecil, tapi kali ini, cerewetnya menenangkan.

Aku masih bekerja seperti biasa, Masih dimaki atasan kalau ada salah, pulang ke rumah kakek nenek tiap minggu, Masih transfer untuk ibu, dan menanggung biaya rumah. Tapi bedanya... aku tidak lagi menunggu kabar dari seseorang untuk merasa berharga.

Hari itu 6 maret, gerimis turun, tapi hatiku agak ringan.

Aku iseng bikin story.

Isinya undangan pernikahan temanku di kota.

Di bagian "Kepada Yth."

"Untuk Kirana dan Partner"

Terus ku caption "Kali ini sendiri, It's okay berangkat makan gratis sih" emot ketawa.

Ngetawain diri sendiri.

Tak disangka, 5 menit kemudian ada yang komen.

Adit.

"Partner nya sama aku aja gimana, aku juga mau dong makan gratis"

Aku ketawa sendiri sambil nutup mulut "Giliran makan aja ngerecep" jawabku di reply.

Balasannya cepet banget "ngereceplah kiran, makan gratis plus perginya sama kamu".

"Ya Kiran, besok pagi aku jemput ke rumah. Sekalian silaturahmi sama kakek nenek. Sudah lama sekali gak ketemu" katanya lagi.

Aku terdiam. Jempolku berhenti di atas keyboard.

Untuk pertama kalinya ada seseorang yang menawarkan diri menjemputku pergi.

Bahkan ke rumah.

Empat tahun dengan Raka...

Jika ingin pergi, aku yang selalu menjemputnya.

Jemput di depan gang rumahnya, waktu libur kuliah.

Jika kusuruh ke rumah, alasannya banyak.

"Masih ngerjain tugas" "Jauh." "Takut sama kakekmu."

"Belum saatnya."

Tapi Adit?

Dia malah yang minta duluan.

"Maaf Dit, bukan menolak. Tapi selama ini tak ada yang berani mengajakku pergi bahkan sampai menjemputku ke rumah. Kamu tau kan kakek sekeras apa pada pergaulanku" jawabku jujur.

Aku ingat hari itu.

Kakek membawaku ke acara rumah saudara di RT sebelah, di pinggir jalan ada segerombolan anak muda nongkrong.

Salah satunya temanku, tersenyum.

Senyum biasa. Senyum basa-basi.

Sampai rumah kakek langsung nanya dengan wajah datar "Kiran, tadi siapa? Kenapa tersenyum begitu padamu?" Suara tegas.

Sejak itu aku tau.

Di rumah ini, laki-laki yang masuk gerbang harus siap ditanya kakek, harus siap tanggung jawab. Bukan main-main.

Adit membalas chatku lama.

Lalu muncul "Makanya aku mau kesana. Biar kakek tau aku bukan dia yang ga bertanggungjawab dengan janji kosongnya itu" Aku diam membaca sindirinan nya.

Aku mau izin. Resmi. Biar kamu gak ditegur lagi gara-gara aku."

Aku baca 3 kali.

Air mata jatuh lagi.

Bukan karena terharu.

Tapi karena lega.

Lega karena untuk pertama kalinya,

ada yang gak takut sama "kakek yang keras".

Ada yang mau ketuk pintu itu demi aku.

Malam itu aku gak bisa tidur.

Bukan karena deg-degan cinta.

Tapi karena takut kecewa lagi.

Takut besok pagi yang datang cuma chat "maaf ya gak jadi".

Tapi jam 7 pagi, ada suara motor di depan rumah.

Tadi malam aku sudah izin sama kakek dan nenek.

Aku menceritakan semuanya, dan aku ingatkan kembali tentang Adit.

“ iya nenek inget anak ke empat pak Budi itu, dia paling rajin membantu apalagi perihal sholat “ kata nenek mengingat. Aku tersenyum.

Kakek mengangguk “ kakek mengizinkan. Meskipun tetap dengan catatan yang sama jangan macam-macam, ingat waktu" putus kakek.

Setelah itu kakek malah bilang pelan sambil nyeruput kopi “Kirana, kakek rasa dia jodohmu".

Aku terdiam.

Sendok di tanganku berhenti.

Jodoh? Itu sama sekali tidak mungkin batinku.

Pagi ini aku mengintip dari jendela kamar.

Terlihat kakek di samping rumah sibuk dengan tanaman cabenya.

Adit turun dari motor. Pakai kemeja putih. Di tangannya ada kantong plastik putih.

"Assalamualaikum kek" sapanya sambil menyalami kakek.

Ah Adit... kamu masih sama ramahnya.

"Waalaikumsalam, eh siapa ya" kakek mungkin lupa.

"Adit kek, Anaknya pak Budi"

"Adit? Oh iya Adit kakek ingat. Nek sini nek. Ini loh anaknya pak Budi"

Suasana jadi heboh pagi itu.

Nenek keluar dari dapur bawa celemek. "Ya Allah anaknya Budi. Gede ya sekarang"

Kakek tersenyum. Jarang-jarang kakek senyum ke tamu laki-laki.

"Ayo masuk ke dalam yuk" kata kakek.

"Eh iya kek, anu... udah janjian tadi malam sama Kiran" Adit garuk kepala. Keliatan banget gugupnya.

Tatapan kami sempat bertemu.

Cepat-cepat aku tutup tirai jendelanya. Pipi panas.

Dari balik tirai aku dengar suara nenek

"Mau teh apa kopi, Dit?"

"Teh anget aja Nek. Makasih"

"Ini buahnya taruh sini ya"

"Hehe iya, itu buat nenek. Tadi mampir pasar dulu"

Lihat selengkapnya