Dari proses perkenalan keluarga, lamaran, hingga tak terasa...
Satu bulan lagi aku resmi menikah.
Aku memandangi cincin pertunangan di jari manisku.
Pas.
Badai itu, akhirnya bisa kami lewati.
Tak mudah.
Sebab kami tidak berjalan lewat hubungan bertahun-tahun lalu memutuskan menikah.
Kami loncat. Dari "kenalan" langsung "bertanggungjawab".
Aku masih ingat bagaimana ujian itu menerpa kami.
Adit yang tidak terima bahwa di galeriku masih ada beberapa fotoku dan Raka terlewat dihapus.
Dia mempertanyakan hatiku.
"Berarti kamu belum move on ya?"
Malam itu kami diem di telepon 30 menit.
Besoknya aku hapusin satu-satu, sambil nangis. Bukan karena Raka, tapi karena takut kehilangan Adit.
Adit yang harus memikul beban biaya sekolah kedua adiknya di SMA.
Di tengah persiapan biaya pernikahan.
Gaji masuk, langsung dibagi tiga. Sekolah adik, bayar dekorasi, beli obat bapak.
Tapi dia tetap transfer buat DP make up ku.
"Buat kamu. Biar cantik di hari kita" katanya.
Dan Bapak yang sakit keras juga jadi tanggungjawabnya.
Bolak-balik RS, lembur.
Aku dengan setumpuk dokumen, ngajar les tambahan, ngerawat kakek yang akhir-akhir ini kesehatannya menurun.
Aku liat dia ketiduran di kursi plastik RS pake seragam kantor.
Sejujurnya aku ragu juga.
Sebab kelak ini tak mudah sebagai menantu perempuan di keluarganya.
Adit 7 bersaudara. Tapi bebannya keliatan banyak di Adit yang nanggung.
Catatan keluarga Adit yang rumit disampaikan salah satu bibiku.
"Kir, dipikir lagi ya. Berat loh"
Tapi entahlah...
Aku hanya melihat Adit.
Aku menutup segalanya.
Menutup bisikan. Menutup takut. Menutup masa lalu.
Karena laki-laki ini, pas aku paling rapuh,
dia gak janji langit.
Dia cuma bilang: "kita coba ya".
Dan dia buktiin dengan tetap ada.
Lalu Adit. Bahkan menerimaku, menerima kehidupanku yang rumit.
Katanya saat ku ceritakan tentang orangtuaku " Kiran, kalau luka dan trauma itu berasal dari keduanya. Biarkan aku yang menjadi sandaranmu dan tempatmu pulang".
Aku menangis, karena untuk pertamakali nya seseorang mengatakan kalimat menenangkan itu.
Satu bulan lagi.
Bukan karena sempurna.
Tapi karena mau sama-sama belajar jadi sempurna.
Dan aku tetap dengan tanggungjawab hutang pengasuhan itu.
Masih sama.
Transfer uang ke ibu di seberang pulau.
Tiap tanggal 5. Tanpa telat.
Karena kalau tidak, ibu akan mengungkit soal hutang melahirkanku.
"Udahlah kamu ga inget gimana berjuangnya ibu melahirkan kamu"
Kalimat itu lebih sakit dari biaya transfernya.