Hari pernikahan semakin dekat.
Keluarga memutuskan 1 Januari adalah tanggalnya.
Tahun baru, awal baru Katanya.
Kami makin sibuk mempersiapkan ini itu.
Undangan, catering, pelaminan sewa.
Sambil nyempetin transfer, sambil nyempetin ngelamar kerja.
Surat wali nikah itu akhirnya tiba lewat pos.
Kakak iparku membantu proses itu.
Aku pegang amplop coklat itu lama.
Akhirnya, legal, Sah. Walau bukan ayahku.
Sore hari pukul 6.
Panggilan masuk dari Adit.
"Kiran" katanya. Suaranya beda.
"Iya Dit, ada apa. Kamu sudah pulang kerja?"
Hening. Dia tidak menjawab.
Cuma ada suara napasnya. Berat.
"Kiran, Bapak..." jeda. Panjang.
"Iya Dit, Bapak kenapa?" Perasaanku gak enak. Jantungku udah lari duluan.
"Bapak udah ga ada" isaknya pelan.
Hatiku mencelos.
Bapak.
Bapak yang seminggu lalu bilang "menantu perempuan nya cantik" di foto prewed kita.
Bapak yang sakit tapi masih sempet senyum liat kami.
Bapak yang bilang ke Adit "jaga Kiran baik-baik ya"
Dunia diem.
Kalender di dinding masih nulis 20 Desember.
11 hari lagi nikah.
Aku gak bisa ngomong.
Adit di seberang nangis, aku di sini nangis.
Yang harusnya kita bahas gaun, catering, tamu.
Yang kita bahas malam itu kain kafan, tahlil, makam.
Aku menyampaikan kabar duka ini pada keluargaku.
Malam itu juga aku, Paman dan Bibi berangkat ke rumah duka.
Sepanjang perjalanan aku menangis tanpa suara.
Air mata jatuh tapi gak ada suara. Kayak udah habis.
Bibi mengusap-usap punggungku "Kiran, ikhlas. Allah lebih sayang Pak Bud. Kasian setahun penuh sakit"
Aku hanya diam.
Ikhlas itu kata yang gampang diucap pas kita bukan yang kehilangan.
Sampai di sana orang sudah ramai.
Di rumah tengah itu Bapak terbujur kaku dengan kain jarik batik.
Wajahnya tenang, tapi dadanya gak naik turun lagi.
Di kamar suara Ibu masih histeris diiringi isak tangis.
Aku memeluknya
Dan kemudian aku pingsan.
Kak ipar bilang ini kali ke 3 Ibu pingsan hari ini.
Aku memutuskan keluar mencari Adit.