Semalaman aku tidak bisa tidur.
Rasanya pagi lama sekali.
Di kepala muter terus: surat wali, Bapak, nikah siri, kakek, Adit.
Besok 1 Januari adalah hari akad kedua.
Aku tidur hanya beberapa jam. Dini hari aku terbangun.
Ku putuskan untuk shalat 2 rakaat seperti biasa.
Ya Allah, lancarkan. Jadikan berkah.
Jam 5 MUA datang. Bergegas mendandaniku.
"Deg-degan ya mbak" katanya Mbak Desi MUA sambil ngebenarin alis.
"Dikit mbak" jawabku. Bohong. Ini deg-degan seumur hidup.
"Saya juga dulu gitu ko" katanya lagi sambil senyum.
Aku tersenyum.
Aku sudah pegal sekali, tapi sesi make over ini belum juga selesai.
Pasang singer, rok, ini itu.
Kepala berat rasanya pake konde-konde ini.
Di kaca, aku liat diriku. Cantik. Tapi mata sembab.
Di luar penghulu sudah tiba.
Adit juga. Dia masih disuruh sembunyi begitu kata adatnya.
Gak boleh ketemu pengantin sebelum akad.
"Permisi mbak, penghulu memanggil mempelai wanita untuk keluar sebentar. Sudah ditunggu" ucap sepupuku.
Jantungku mau copot.
Aku keluar. Duduk di depan Bapak penghulu.
Kursi kayu. Meja. Al-Quran. Dan surat-surat.
"Baik, Ananda Kirana. Saya hanya ingin memastikan kebenaran dari surat perwalian nikah ini"
Aku mengangguk. Tangan dingin.
Beliau menjelaskan ini dan itu.
Syarat, tanggung jawab, hak.
Aku tertekun.
Ayahku masih hidup.
Tapi sejak kecil aku seperti anak yatim.
Bahkan sekali pun ayah tak pernah berperan.
Makanya wali hakim. Makanya surat ini.
"Jadi Ananda harus tanda tangani surat ini sendiri" penghulu menyodorkan selembar kertas dan pulpen.