7 hari pasca menikah.
Cepet banget rasanya. Kayak baru kemarin akad, baru kemarin foto-foto.
Hari ini aku sibuk berkemas ini dan itu.
Baju, alat sholat, wajan, rice cooker, foto Bapak.
Kotak kardus numpuk di ruang tamu.
Kemarin sanak saudara sudah pulang.
Rumah sepi lagi. Tinggal sisa kembang dan bekas kursi.
Nenek masih sering nangis kalau liat foto akad.
Aku peluk beliau "Doain ya nek, aku berangkat"
Dan aku... harus ikut Adit ke rumah dinas di perkebunan kelapa sawit.
Kak ipar menjemput kami pagi ini.
Mobil udah nunggu di depan. Barang udah naik semua. Aku berpamitan dengan kakek dan nenek.
Setelah ini rumah hanya ada mereka.
Sepi. Gak ada aku yang suka teriak dari dapur.
Gak ada aku yang minta dibikinin teh.
"Nek, Kek. Aku pamit. Jangan sedih ya. Aku bakalan sering-sering kesini"
Suaraku gemetar.
Kakek yang paling keras nangis.
Padahal biasanya paling galak. Paling keras.
" Iya Kiran, doa kami selalu buat kamu. Jadilah sebaik-baiknya seorang istri.
Adit, titip anak keras kepala ini ya" kata kakek sambil nepuk bahu Adit.
Adit nunduk. "Siap Kek. Saya jaga"
Kakek narik napas panjang. Matanya merah.
"Kiran, maaf kalau selama ini kakek terlalu keras padamu.
Kakek dan nenek sayang. Dengan cara itulah kami menjaga mu nak"
Aku langsung pecah.
Aku peluk kakek erat. Badan beliau udah keriput, tulangnya kerasa "Nggak apa-apa Kek. Aku tau. Makasih udah jagain aku dari kecil"
Nenek cuma bisa ngusap punggungku. Gak ngomong.
Tapi air matanya netes di kerudungku.
Di mobil, aku masih liat mereka dari kaca belakang.
Kakek ngelambai. Nenek duduk di kursi.
Sampai tikungan, baru gak keliatan.
Adit genggam tanganku.
"Udah Kir. Kita bikin bangga mereka ya"
Aku ngangguk. "Iya Dit"
Suasana longhouse perkebunan sawit bukan sesuatu yang asing.
Baunya sama. Tanah merahnya sama. Suara jangkrik malemnya sama.
Dulu aku pernah ikut kakek merantau ke perkebunan kelapa sawit juga.
Aku masih inget jelas.
Hari itu ibuku resmi menikah dengan suami barunya. Acara sederhana, kursi plastik, tenda biru.
Ibu jongkok di depanku. Usia aku 7 tahun "Kirana, kamu mau ikut Ibu atau Ayah?"
Aku belum ngerti pertanyaan itu.
Yang ternyata sangat menyakitkan untuk anak-anak korban perceraian.
Aku garuk kepala. Bingung.
"Dengan kakek nenek saja. Mereka kan orangtuaku" jawabku polos.
Ibu menangis. Sesenggukan.
Tapi aku bingung kenapa.