“Namaku tercetak di akta baptis… tapi tak pernah di kartu keluarga mereka. Darahku sama. Tapi aku hanya bayangan yang mereka sembunyikan..."
"Mereka punya meja makan megah, tapi tak pernah ada kursi untukku. Lucu, bukan? Kini aku berdiri di antara mereka. Sebagai pengacara yang mereka percaya, sebagai ‘orang luar’ yang paling mereka butuhkan."
"Aku tak menuntut warisan. Aku tak ingin kekayaan mereka. Aku hanya ingin satu hal…"
“Panggil aku anakmu, walau hanya sekali… lalu biarkan semuanya runtuh setelahnya.”
Josephine Han melangkah keluar dari mobilnya. Ia menyerahkan kunci pada petugas valet dengan anggukan singkat, kemudian berdiri tegak di bawah bayangan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya.
HanCore Group.
Nama itu terpatri dengan mewah di dinding marmer dekat pintu masuk. Perusahaan raksasa di bidang properti, milik keluarga yang telah lama melupakannya. Keluarga tempat ia berasal... secara darah. Tapi bukan secara pengakuan.
Ia menarik napas dalam, mencoba menahan gelombang emosi yang mengendap di dadanya. Satu helaan napas pun terasa berat ketika ia tahu siapa yang menunggunya di lantai atas—Han Ji Hoon, CEO HanCore Group. Lelaki itu bukan hanya klien barunya. Ia adalah ayah kandung yang tak pernah mengakuinya.
Kini, Josephine datang bukan sebagai putri yang ditolak.
Bukan sebagai gadis kecil yang dulu menangis di tangga gereja.
Tapi sebagai pengacara dari Firma Hukum Miraclee, ditunjuk langsung oleh senior partner untuk menangani kasus keluarga Han yang tengah menjadi sorotan media.
Tidak ada yang mengenalinya. Dan itu sesuai rencananya.
Gaun kerja bernuansa ivory, mantel panjang dengan potongan tegas, serta stiletto hitam yang beradu dengan lantai marmer, menjadikannya sosok elegan dan dingin. Tak ada yang menyangka bahwa perempuan ini pernah hidup dalam bayang-bayang mereka.
Kini, ia masuk ke dalam. Bukan untuk meminta tempat. Tapi untuk mengambil kendali.
SMA Saebeom, 2019.
Bel pulang sekolah berdentang nyaring. Langkah-langkah kaki para siswa memenuhi lorong SMA Saebeom, berpadu dengan suara tas yang diseret dan canda lelah setelah seharian belajar. Sebagian bergegas menuju kelas tambahan, sebagian lagi buru-buru pulang sebelum hujan turun lebih deras.
Di antara mereka, seorang gadis melangkah pelan sambil membuka payung kuning cerah miliknya. Namanya saat itu masih Han Saet-byeol. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya teduh, dan langkahnya seperti tak ingin benar-benar pulang.
Ia menuruni anak tangga terakhir di depan lobi sekolah ketika matanya menangkap sosok asing di kejauhan—seorang pria paruh baya, berdiri di tengah hujan yang deras, mengenakan setelan rapi dengan payung hitam. Langkah pria itu perlahan mendekat.
Saet-byeol membeku.
"Ayah?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya. Degup jantungnya tiba-tiba melonjak. Pikirannya kacau, ingatannya runtuh berserakan. Bukankah... pria itu sudah meninggal? Bukankah ia hanya dongeng yang pernah hidup sebentar dalam hidupnya?
"Tidak... Ini pasti hanya mimpi."
Namun langkah itu nyata. Lambaian tangannya pun nyata. Dan senyuman pria itu—terlalu familiar. Saet-byeol hampir menjatuhkan payungnya saat mata mereka nyaris bertemu.
Tapi kemudian—
"Ayah!"
Sebuah suara dari belakang memecah harapan gadis itu. Seorang pemuda muncul di balik pilar, memanggil pria itu dengan nada ceria dan ringan, seolah keduanya terbiasa bertemu setiap hari.
Pria paruh baya itu tidak berhenti di hadapan Saet-byeol. Ia hanya lewat. Payung hitamnya melindungi dirinya dan... putranya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini, Ji Ho?" tanya sang pria ramah.
"Lumayan," jawab pemuda itu santai. Suara mereka sayup, tapi jelas.
Saet-byeol tidak bergerak. Napasnya tercekat. Hujan mulai membasahi sepatu dan ujung roknya.
"Pasti cuma mirip... Tak mungkin dia Han Ji Hoon, ayahku."