Mereka bertukar kata setiap hari tanpa absen sekali pun.
Pagi. “Udah sampai kantor?”
Siang. “Udah makan siang?”
Sore. “Hati-hati di jalan.”
Malam. “Ada cerita apa hari ini?”
Rian tidak selalu membalas cepat, tapi selalu membalas. Pesan teks berubah menjadi voice note. Voice note berubah menjadi panggilan suara—yang tak jarang terus berlanjut sampai salah satu dari mereka tertidur.
Suatu malam, wajah Nara muncul di layar ponsel. Rambutnya diikat asal. Ia sedang duduk di lantai, bersandar pada dinding kamar.
“Anak-anak udah tidur?” tanya Rian.
“Iya. Yang kecil tadi susah banget. Maunya ditemenin terus.” Nara memiringkan kamera, memperlihatkan lampu kamar yang redup dan pintu yang tertutup.
Percakapan mereka tidak selalu penting. Kadang hanya tentang murid yang salah mengeja kata. Kadang tentang atasan Rian yang perfeksionis. Kadang hanya diam beberapa detik, mendengar napas satu sama lain.
Panggilan pernah terputus karena sinyal buruk. Rian segera menghubungi kembali.
Nara mengangkat dengan cepat. “Kirain kamu nggak nelpon lagi,” katanya.
Beberapa hari kemudian, Nara mengirim foto tiga anaknya yang sedang duduk di ruang tamu. “Yang sulung lagi belajar. Yang tengah sama yang kecil lagi rebutan remote TV.”
Rian memperbesar foto itu beberapa detik, memperhatikan wajah anak bungsu yang sangat mirip ibunya, lalu membalas, “Lucu.”
Suatu malam, percakapan mereka melebar lebih jauh dari biasanya.
“Aneh ya,” kata Nara lewat voice note. “Baru beberapa hari, tapi rasanya kayak udah kenal lama banget.”
Rian tidak langsung membalas. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. “Mungkin karena tiap hari ngobrol.”
“Bisa jadi,” kata Nara. Jeda singkat. “Atau memang karena udah cocok.”
Rian tersenyum membacanya, lalu menelpon Nara. Panggilan langsung tersambung nyaris tanpa jeda. Obrolan mereka berlangsung lebih lama dari biasanya.
Jam di sudut layar ponsel menunjukkan lewat tengah malam. Rian memeluk guling sambil tiduran.
“Kamu jangan tidur dulu,” suara Nara terdengar pelan.
Rian tersenyum. “Kamu juga.”
Beberapa hari kemudian, mereka sepakat untuk bertemu akhir pekan nanti.
***
Restoran itu berada di lantai tiga sebuah mal di Bekasi. Dindingnya berwarna cokelat muda, meja kayu tanpa taplak, pendingin ruangannya terasa terlalu dingin.
Rian datang lebih dulu. Ia duduk menghadap pintu. Ponsel diletakkan di atas meja. Sesekali ia melihat jam. Tidak gelisah, hanya memastikan waktu.