Keesokan harinya, Rian makan siang bersama rekan kerjanya, Arga, di kantin kantor. Makanan di atas piring mereka hampir habis.
“Seriusan kamu udah ngasih uang sebanyak itu?” tanya Arga.
Rian tersenyum tipis. “Iya. Buat anak-anaknya.” Ia menyuapkan nasi ke mulutnya.
Arga mengangkat alis. “Kenal berapa lama?”
Rian tidak langsung menjawab. Ia meraih botol air mineralnya. “Udah beberapa minggu.”
Arga tertawa kecil. “Kamu gampang kasihan.” Nada itu terdengar bercanda.
Rian berdiri, lalu berjalan menuju wastafel tak jauh dari situ. Air mengalir deras dari keran, menutup suara percakapan di meja lain.
***
Sore itu, setelah jam kerja usai, Rian mampir dulu ke rumah orang tuanya yang juga ada di Bekasi.
“Udah kangen nih sama sayur asem buatan Ibu,” kata Rian saat ibunya menyendokkan nasi ke piringnya.
“Makan yang banyak,” kata ibunya.
“Ibu juga,” jawab Rian.
Di ruang makan itu, suara sendok beradu dengan piring terdengar. Televisi di ruang tengah menyala pelan menayangkan berita. Bau sayur asem bercampur dengan aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan.
Rian makan tanpa banyak bicara.
“Masih sering ketemu sama yang kemarin?” tanya ibunya, nadanya biasa saja.
“Masih, Bu. Baru aja kemarin.”
“Udah serius?”
Rian tersenyum. “Iya, Bu. Udah serius.”
Ibunya mengangguk pelan. “Udah kenal keluarganya?”
“Belum.”
Sendok ibunya berhenti sebentar di udara. “Dia punya tiga anak, kan?”
“Iya.”
Keheningan mengambang di antara mereka.
Ibunya menaruh sendoknya. “Seandainya kamu jadi sama dia, kamu bukan cuma nikahin dia aja.” Ibunya menatap Rian lekat-lekat. “Kamu udah siap?”
Rian menjawab terlalu cepat. “Siap.”